
Begitu menginjakkan kaki di Stasiun Balapan Solo, sekitar pukul 04.00 WIB Sabtu (22/10) dari Jakarta, fajar mulai nampak dan suhu pagi itu terasa sejuk dan tenang. Awalnya kami (penulis dan rombongan) sempat bingung kemana tujuan di pagi buta saat itu. Akhirnya satu jam setiba kami di Stasiun Balapan, sekitar pukul 05.00 WIB, mobil yang akan mengantar kami langsung meluncur ke arah Keraton Solo.
Kebetulan perut kami sudah minta diisi, lantas pertama dituju sebuah warung makan. Warung makan Soto Gading, menarik perhatian kami. Yaitu sebuah warung makan yang menyajikan kuliner khas tanah kelahiran Presiden Jokowi, yang berlokasi di sekitar alun-alun selatan Keraton Solo, atau berjarak sekitar 20 menit dari Stasiun Balapan. Kedai soto buka mulai pukul 05.30 WIB pagi. Saat kami datang, pengunjung sudah banyak yg mulai berdatangan ke kedai ini untuk sarapan sekaligus menghangatkan tubuh dari kuah panas dan rempah-rempah soto.
Meski namanya soto gading, namun daging yang digunakan berupa suwiran ayam yang dipadu dengan mie sohun dan kuah bening yang beraroma rempah serta nasi menjadikan kuliner ini banyak digemari oleh anak-anak hingga orang tua. Sebenarnya ada banyak penjual soto di Solo, namun soto gading yang paling populer di masyarakat. Tidak hanya soto, banyak makanan pendamping yang dapat membuat sarapan soto kali ini menjadi lebih meriah. Tempe goreng, sate kerang, sate usus ayam, sate telur puyuh, sate kikil, bakwan, sate jeroan sapi dapat dipilih menjadi pelengkap soto.
Kebetulan favorit penulis, yakni sate kikil dan tempe goreng. Kikilnya sangat lembut dan lumer di mulut serta rasa yang cenderung manis. Sementara tempenya memiliki rasa yang unik, sangat padat dengan kedelai yang masih utuh agak sedikit keras berbeda dari tempe umumnya yang lembut. Di sini tidak mengulas secara mendalam mengenai sipemilik dan sejarah berdirinya Soto Gading. Melainkan, di sini penulis hanya bercerita begitu besar keunikan dan cita rasa kuliner Kota Solo.
Tengkleng Mbok Galak
Singkat cerita, setelah beraktivitas setengah hari, untuk sebuah pekerjaan di perusahaan tempat penulis bekerja, sekitar Pukul 12.00 WIB perut kamipun kembali “berteriak” untuk menikmati kembali kuliner khas Solo. Tengkleng Mbok Galak. Namanya sangat asing bagi kami yang tumbuh besar di Kota Jakarta. Kira-kira berjarak sekitar 40 menit dari soto gading, tempat kami sarapan pagi.
Warung makan inipun sangat banyak penggemarnya. Pengunjung sudah memadati warung makan, untuk santap siang. Deretan mobil yang terparkir di pinggir jalan membuat mobil (rental) kami agak kesulitan mencari tempat parkir. Namun hal ini tidak menyurutkan niat kami untuk mencoba tengkleng yang legendaries. Sesuai namanya, tempat ini lebih cocok disebut warung daripada restoran. Tempat yang sederhana, menyajikan tengkleng yang lezat tanpa ada bau khas kambing yang tercium sedikitpun. Tengkleng merupakan makanan sejenis sop kambing tanpa santan menggunakan banyak rempah, dagingnya dominan menggunakan bagian kaki dan iga kambing.
Ada cerita dibalik penamaan Mbok Galak dari warung makan ini, dahulu si mbok suka memanggil anak buahnya dengan suara yang lantang sehingga terkesan sedang marah-marah, jadilah pengunjung menamai si Mbok dengan julukan Mbok Galak. Si Mbok sendiri sudah meninggal dunia dan kini usahanya diteruskan oleh anak-anaknya. Selain tengkleng ada juga gulai sapi, sate sapi dan sate kambing. Warung ini berada di Jalan Mangun Sarkoro, dan buka hingga malam hari.

Eskrim Tentrem
Selama di Solo, perhatian penulis tidak lepas dari urusan isi perut. Karena memang, sajian kuliner di daerah tersebut bukan hanya memberikan kenikmatan dan rasa kenyang saja, melainkan juga menyimpan resep yang melegenda. Memasuki malam hari di Kota Solo, kami tidak ingin melepaskan begitu saja tanpa menyusurinya dengan berjalan kaki, untuk mencari dessert sambil menikmati Kota Solo di malam hari tentunya. Kami menginap di salah satu hotel di pusat Kota Solo, berdekatan dengan salah satu Departemen Store besar di kota ini.
Tibalah kami di sebuah kedai eskrim tepatnya di bilangan Jalan Slamet Riyadi. Setelah melihat-lihat menu eskrim yang penyajiannya sangat menarik, ada yang dibuat bentuk kartun upin-ipin dan aneka badut, pilihan saya jatuh ke One Night Stand. One Night Stand terdiri dari satu scoop besar es krim yang disajikan dalam sebuah gelas beralaskan corn flakes, dan di atasnya diberi whipped cream dan potongan cherry yang segar.
Kombinasi dingin dari eskrim berpadu dengan renyah dan gurihnya corn flakes serta whipped cream yang lebut membuat rasa es krim ini menjadi sangat unik. Toko yang berada di tengah kota Solo, ini buka hingga pukul 21.00 WIB dengan menyajikan puluhan menu es krim serta waffle, ada juga menu makanan lain seperti nasi goreng. Toko yang telah berdiri sejak tahun 1952 ini, menyajikan eskrim rumahan yang memiliki 20 varian rasa di antaranya rasa vanilla, durian, melon, coklat, strawberry, mocca, dan tiramisu dipadukan dengan berbagai jenis makanan lain yang variatif dengan penyajian yang sungguh menggoda.
Penulis datang ke tempat ini pada malam hari, 30 menit menjelang tutup, namun masih banyak pengunjung yang berdatangan. Udara di Kota Solo memang cenderung panas sehingga sah-sah saja menyantap es krim di malam hari. Selain yang sudah disebutkan di atas, ada juga selat solo, dawet, dan sup bunga matahari yang juga menjadi ciri khas Solo. Solo merupakan kota yang tidak seramai Yogyakarta atau Bandung, tidak terlalu banyak tempat wisata yang ada di sini. Kendati demikian, untuk urusan kuliner, Solo merupakan pilihan yang tepat. Lalu lintas Kota Solo, yang tidak terlalu padat juga membuat kita mudah berpindah dari satu kedai ke kedai lain dan tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan. (m aris/bersambung)
















