YOGYAKARTA, fornews.co--Meski Pemerintah Daerah Istimewa (DIY) sudah mencanangkan wajib masker, namun masih banyak warga Kota Yogyakarta yang membandel.
Dari pantauan reporter fornews.co, beberapa tempat yang paling banyak terlihat orang tidak Bermasker antara lain di Malioboro, Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan.
Sejumlah tempat jualan takjil buka puasa di Jalan Krapyak, Jalan Tamansiswa, Jalan Hos Cokroaminoto, Jalan Jogokaryan, dan sekitar pasar Lempuyangan.
Salah seorang warga Yogyakarta, sebut saja Noni, tidak merasa takut dengan Virus Corona.
Menurutnya, penularan virus corona hanya mengada-ada meski virus corona nyata ada.
“Virus corona hanya ada jika kita tidak memperhatikan kesehatan,” ucapnya.

Noni meyakini siapapun akan sakit jika tidak peduli dengan kesehatan.
Ia berkilah bahwa virus corona tidak akan menjangkiti manusia jika yang bersangkutan menerapkan Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHSB).
“Kalau takut tertular ya jangan keluar rumah,” selorohnya, Rabu.
Namun seorang penjual menu takjil di sekitar jalan Tamsis mengakui kekhawatirannya terhadap penularan virus corona.
Meski tidak punya pilihan untuk tetap berjualan karena harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beraktivitas di luar menjadi keterpaksaan.
“Setiap sore jelang waktu buka jualan mas,” ujar Dhita, ibu dua anak yang baru empat tahun di Jogja.
Sebelumnya, ia tinggal di Batam bersama suami dan kedua anaknya.
Dhita mengaku tidak mengijinkan anak-anaknya bermain di luar rumah karena pandemi.
Menurutnya, setiap di luar rumah sebaiknya memakai masker untuk menghindari penularan virus corona. Meski kadang ia sendiri malah tidak bermasker.

Saat berbincang dengan fornews.co sebutan bahaya kerap diucapkannya. Sekira lebih dari balasan kata bahaya muncul dari lisannya.
Disinggung soal wajib masker, Dhita setuju terhadap pemerintah yang mewajibkan masker bagi warga Yogyakarta.
Sebelumnya telah diberitakan ada kemungkinan PSBB diberlakukan di DIY jika kasus positif menjadi dominan di Kota Gudeg. (adam)

















