SEKAYU, fornews.co – Wakil Bupati Musi Banyuasin Beni Hernedi menilai keberadaan Badan Restorasi Gambut (BRG) sangat dibutuhkan daerah yang memiliki lahan gambut. BRG dibutuhkan untuk mengedukasi warga yang tinggal di sekitar lahan gambut yang rawan kebakaran.
Hal tersebut disampaikan Beni saat menutup Pelatihan Sekolah Lapang Petani Gambut Provinsi Sumatra Selatan yang difasilitasi BRG di Desa Nganti, Kecamatan Sanga Desa, Sabtu (15/08). Menurut Beni, pelatihan tersebut sangat penting dilakukan di Kabupaten Muba untuk menciptakan kader-kader yang dapat mengajak dan mencegah masyarakat membuka lahan tanpa membakar sebagai upaya pencegahan kebakaran hutan kebun dan lahan (Karhutbunlah).
“(Sekolah Lapang Petani Gambut) ini adalah salah satu solusi mencegah membuka lahan tanpa membakar,” ujarnya.
Beni menitipkan pesan kepada para peserta pelatihan agar ilmu yang didapat bisa disebarluaskan di desa masing-masing dengan membuat suatu demonstrasi plot.
“Kepada peserta yang mengikuti kegiatan hari ini khususnya yang berasal dari Kabupaten Muba jika ingin membuat demonstrasi di desa silakan berkoordinasi dengan dinas terkait dalam hal ini Dinas TPHP Muba, nanti akan kita support. Semoga apa yang kita lakukan ini akan menjadi contoh bagi daerah lainnya,” kata Beni.
Camat Sanga Desa, Hendrik mengatakan, Sekolah Lapang Petani Gambut dilaksanakan selama lima hari diikuti 23 orang peserta yang berasal dari Kabupaten Muba, Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten OKI. Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari BRG.
“Kami dari Pemerintah dan masyarakat Kecamatan Sanga Desa mengucapkan terima kasih kepada pihak penyelenggara dan narasumber yang memberikan edukasi kepada masyarakat kami,” tutur Hendrik.
Hendrik menambahkan, di Kecamatan Sanga Desa ada tiga desa yang mempunyai lahan gambut yakni Desa Nganti, Air Balui dan Desa Jud I.
“Memasuki musim kemarau saat ini, alhamdulillah desa-desa tersebut belum ada titik api,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Subpokja Sosialisasi dan Pelatihan BRG, Deasy Efnidawesty dalam paparannya menuturkan, luasan lahan gambut di seluruh Indonesia, sekitar 15 juta hektare, namun areal BRG hanya 2,6 juta. Luasan 2,6 juta hektare tersebut merupakan lahan pasca terjadinya kebakaran pada tahun 2015 lalu.
“Yang jadi target BRG adalah desa yang mengalami kebakaran pada tahun 2015 silam, kita tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali,” tuturnya.
Menurutnya, untuk 23 orang peserta ini selanjutnya akan menjadi kader Sekolah Lapang Petani Gambut, di mana setelah ini akan membuat kebun demonstrasi secara swadaya di desa masing-masing.
Kades Nganti Erik mewakili peserta menyampaikan pesan dan kesannya setelah mengikuti pelatihan itu. Dikatakannya setelah mengikuti sekolah lapang petani gambut selama beberapa hari, sangatlah bermanfaat khususnya bagi petani karena bisa mengenal cara pengelolaan lahan tanpa bakar dan cara pembuatan pupuk organik non kimia.
“Jarang sekali ada pembelajaran seperti ini, kami kagum sekali mendapatkan pembelajaran dari narasumber yang bisa bercocok tanam tanpa menggunakan pupuk kimia. Dan kami peserta sangat senang, mudah-mudahan ini bisa diterapkan di desa kami,” tukasnya. (ije)

















