JAKARTA, fornews.co — Perekonomian Indonesia pada awal tahun 2026 memperlihatkan ketahanan yang semakin baik.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, dalam keterangan siaran pers, Rabu, 4 Februari 2026, melaporkan bahwa indikator-indikator tersebut mencerminkan kondisi ekonomi yang berada di jalur yang sehat.
“Kombinasi antara inflasi yang terkendali, surplus perdagangan yang berkelanjutan, dan ekspansi manufaktur menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia semakin kuat di tengah tantangan global,” kata Haryo di Jakarta.
Aktivitas industri yang meningkat, kinerja perdagangan luar negeri yang konsisten positif, serta stabilitas harga yang terjaga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dari sektor riil, industri manufaktur masih bergerak ekspansif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Januari 2026 mencapai 52,6, meningkat dibandingkan Desember 2025 sebesar 51,2.
Angka tersebut menandai ekspansi selama enam bulan berturut-turut. Bahkan pertumbuhan pesanan baru dari pasar domestik mendorong kenaikan produksi dengan laju tertinggi dalam sebelas bulan terakhir, termasuk meningkatkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi ke depan.
Ketahanan ekonomi juga tercermin dari sektor eksternal. Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut.
Tercatat sepanjang 2025, surplus kumulatif mencapai USD 41,05 miliar, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Surplus tersebut terutama berasal dari perdagangan nonmigas, khususnya dengan Amerika Serikat dan India.
Nilai ekspor Indonesia tahun 2025 mencapai USD 282,91 miliar atau tumbuh 6,15 persen (yoy), ditopang ekspor industri pengolahan nonmigas yang meningkat 14,47 persen.
Sementara itu, impor tercatat USD 241,86 miliar atau tumbuh 2,83 persen (yoy), dengan lonjakan impor barang modal sebesar 20,06 persen yang mencerminkan penguatan investasi dan kapasitas produksi nasional.
Di sisi harga, tekanan inflasi tetap terkendali. Inflasi tahunan Januari 2026 berada di level 3,55 persen (yoy).
Angka itu dipengaruhi efek basis rendah dari kebijakan diskon tarif listrik pada awal 2025, sehingga tidak menggambarkan lonjakan harga yang signifikan. Bahkan secara bulanan, perekonomian mengalami deflasi 0,15 persen (mtm).
Penurunan harga pangan menjadi penahan utama inflasi. Kelompok volatile food turun 1,96 persen (mtm) seiring masa panen cabai dan bawang merah serta perbaikan pasokan dari sentra produksi.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga stabil dengan inflasi 0,01 persen (mtm).
Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi mendorong deflasi administered price sebesar 0,32 persen (mtm), meskipun inflasi inti naik 0,37 persen (mtm) akibat kenaikan harga emas perhiasan.
Haryo menambahkan, pemerintah terus memperkuat pengendalian inflasi melalui koordinasi Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP).
Target inflasi pada 2026 dijaga pada kisaran 2,5±1 persen dengan dukungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, Bank Indonesia, serta implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Menjelang Ramadhan dan Idulfitri 2026, pemerintah menyiapkan berbagai stimulus fiskal baik dari sisi permintaan maupun penawaran, seperti diskon tarif transportasi dan bantuan pangan, guna menjaga daya beli masyarakat serta memastikan aktivitas ekonomi triwulan pertama tetap tumbuh.
“Dengan sinergi kebijakan tersebut, perekonomian Indonesia pada awal 2026 dinilai berada dalam jalur penguatan yang berkelanjutan, didukung industri yang terus ekspansif, perdagangan luar negeri yang solid, dan stabilitas harga yang terpelihara,” pungkas Haryo.
















