Penulis: A.S. Adam
PAJIMATAN Girirejo Imogiri lebih dikenal dengan sebutan Permakaman Imogiri. Terletak di perbukitan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tempat ini merupakan kompleks pemakaman para raja beserta keluarga Kasultanan Mataram dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo putra Panembahan Senopati penguasa di tanah Jawa.
Pemakaman Imogiri dijaga oleh abdi dalem Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Sejumlah abdi dalem dari dua keluarga besar raja Mataram bertugas di tempat-tempat penting seperti Masjid, Kabupaten, Banyu Sumurup, dan Giriloyo. Mereka bertugas secara bergantian. Bagio dan Setio Hastono, misalnya. Selama dua hari bergantian dengan abdi dalem lainnya.

Ahban (64 tahun) warga Solo yang kini bernama Setio Hastono merupakan mantri abdi dalem di kompleks pemakaman Imogiri. Namanya berganti setelah mendapat tugas dari Kraton Surakarta untuk berjaga di Imogiri.
“Sebelumnya saya di rumah,” katanya.
Baca: Menghitung Jumlah Tangga di Pemakaman Imogiri
Setio bisa pulang ke rumah bertemu keluarga jika tugas jaganya diganti oleh abdi dalem lainnya. Sebagai sesepuh di kalangan abdi dalem Surakarta yang bertugas di Imogiri sejak tahun 80-an, Setio Hastono tetap bersikap biasa seperti abdi dalem lainnya.
“Kita ini hanya mengabdi kepada raja, seperti halnya mengabdi kepada nagari,” ucapnya.
Seluruh abdi dalem yang terhitung sesepuh mendapatkan gaji seumur hidup dari pihak Kraton Surakarta sebesar 50 ribu rupiah. Sedangkan lainnya ada yang menerima 25 ribu dan 20 ribu rupiah sesuai dengan pangkatnya.

Bagio Hastono (64 tahun) mantri makam Imogiri juga tidak berbeda dengan Ahban. Keduanya sama-sama sebagai abdi dalem Kraton Surakarta. Hanya tahun yang membedakannya. Bagio resmi menjadi abdi dalem sejak tahun 2000.
“Langsung dari kekancingan Kraton Surakarta,” ujar Bagio.
Setio dan Bagio merupakan dua abdi dalem Kraton Surakarta yang setia menjalankan perintah atasannya. Mereka sangat berhati-hati kepada setiap tamu yang bertanya tentang semua hal—terlebih perihal sejarah Mataram.
Kuburan Pengkhianat

HAMPIR semua tangga yang berjumlah ratusan mulai dari Masjid sekilas tidak ada yang berbeda. Namun jika diamati secara teliti terdapat satu tangga yang tidak sama. Tangga berukuran sekitar 171cm, tinggi 29cm dan lebar 40cm tersebut terbuat dari batu andesit yang sangat keras terletak di bawah Gapura Sapit Urang.
“Itu adalah kuburan seorang pengkhianat bernama Kanjeng Raden Tumenggung Endronoto,” beber Setio Hastono kepada Fornews.co, Ahad sore.
Setio menjelaskan bahwa batu andesit hitam yang terlihat beda itu merupakan sebagian dari anggota badan lain yang terpisah. Pengkhianat Mataram itu diganjar hukuman mati oleh Panembahan Senopati dengan tubuh terpotong menjadi tiga bagian. Kepala diuruk di bawah Gapura Sapit Urang Pajimatan Imogiri. Bagian badannya diuruk di tangga beberapa meter di bawah Gapura Sapit Urang. Sedangkan kedua kakinya diuruk di sekitar kolam, berapa meter ke bawah dari tangga batu andesit.
Baca: Misteri Perang Diponegoro
Penyerbuan Mataram terhadap VOC di Batavia (sekarang Jakarta) tahun 1629 adalah peristiwa besar yang tidak bisa dilupakan oleh Kerajaan Mataram dan penerusnya. Tujuan mengusir penjajah VOC dari Pulau Jawa gagal sebab pengkhianatan. Lumbung-lumbung sumber pangan milik Mataram mulai dari Jawa Tengah hingga Jakarta musnah dibakar habis oleh VOC dan musuh-musuh Mataram karena ulah para pengkhianat.
“Pelakunya ya si Tumenggung Endronoto,” ujar Setio Hastono.
Karena pengkhianatan tersebut banyak pasukan Mataram yang tewas dalam perjalanan menyerbu VOC di Batavia. “Bukan tewas oleh senjata, melainkan karena sakit dan penyakit sebab kelaparan,” pungkas Setio.

Untuk mencapai makam para raja pengunjung harus menaiki ratusan tangga hingga melewati Gapura Sapit Urang. Waktu berkunjung bagi umum dibuka pada hari Ahad jam 10.00-13.00 WIB; Jum’at jam 10.00-13.00 WIB, dan dibuka kembali pada jam 13.00-16.00 WIB. Sedangkan pada hari Senin dibuka mulai jam 10.00-13.00 WIB.

















