JOGJA, fornews.co — Bagi penyuka sejarah, tentu saja tidak ingin melewatkan berkunjung ke Pajimatan Girirejo Imogiri saat berwisata ke Jogja. Tapi banyak yang melewatkan permainan menghitung undak-undakan (tangga) saat menuju puncak Pajimatan Girirejo.
“Setiap orang memang selalu berselisih dalam menghitung tangga,” kata Ahban (65 tahun) abdi dalem Kraton Surakarta, Ahad sore.
Ahban yang lebih dikenal dengan nama Setio Hastono mengungkapkan perihal undak-undakan yang jumlahnya hampir ratusan lebih. Kata Setio Hastono, tangga dari bawah yang menanjak dengan kemiringan sekitar 60-70 derajat cukup membuat siapapun terengah-engah.
“Bahkan teman saya (abdi dalem) tidak lagi berjaga di atas sini karena sudah sepuh (tua),” ucapnya dalam bahasa Jawa kromo inggil (halus).
Diakui Setio Hastono, untuk mencapai puncak Pajimatan Girirejo dibutuhkan stamina yang cukup. Sebab saat menaiki tangga yang jumlahnya ratusan dapat membuat kepala pusing dikarenakan kelelahan.

Baca: Gembong Pengkhianat di Pemakaman Raja-raja Mataram
Tangga dihitung mulai dari masjid yang berada di bawah, dekat kotak masjid yang diletakkan di tengah tangga. Biasanya setiap pengunjung akan bertemu dengan abdi dalem penjaga masjid yang dapat memberikan penjelasan perihal undak-undakan (tangga) menuju makam raja-raja Mataram.
“Seluruh tangga berjumlah 409 terhitung dari Masjid di regol bawah dekat masjid,” kata abdi dalem Setio Hastono.
Imogiri tidak hanya dikenal sebagai tempat pemakaman raja-raja Mataram. Di gugusan pegunungan seribu ini juga banyak desa wisata yang bisa dikunjungi.
Pajimatan Girirejo Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) juga terkenal dengan wisata kuliner. Pengunjung dapat menikmati hangatnya wedang uwuh, nikmatnya gado-gado, dan lotek, serta ragam gudangan lainnya.
Baca: Misteri Perang Diponegoro
Mujiono (55 tahun) yang dikenal dengan nama Jogo Waluyo salah seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta, warga Dusun Karangkulon, Wukirsari, Imogiri, Bantul, yang bertugas jaga di kompleks pemakaman Imogiri mengatakan bahwa setiap pengunjung yang menghitung tangga tidak pernah sama.
“Setiap orang bisa tidak sama dalam menghitung undak-undakan,” katanya dalam bahasa Jawa kromo inggil (halus).
Bisa jadi karena kelelahan saat menaiki tangga, lanjut Jogo Waluyo, sehingga konsentrasi menghitung jumlah undak-undakan menjadi tidak fokus.

















