PALEMBANG, fornews.co – Kondisi jalan di Liku Lematang lokasi terjadinya kecelakaan maut Bus Sriwijaya memang sangat ekstrem. Berbagai upaya menekan risiko kecelakaan telah dilakukan namun tidak cukup efektif.
Oleh karenanya, usulan pembangunan jembatan layang di lokasi tersebut kembali mengemuka. Sebab dengan jembatan layang, selain memperpendek jarak, juga bisa menghindari kendaraan melalui jalan yang esktrem.
“Selama ini kita belum punya anggaran untuk buat jembatan memperpendek jarak dan menghindari tikungan-tikungan tajam di lokasi itu. Tapi memanfaatkan momen ini kita akan kembali dorong agar (jembatan layang) terealisasi. Sebab ini kan namanya mensiasati alam, butuh pendanaan besar, sedangkan APBD kita tidak mampu. Makanya saya minta pak Sekda kawal ini ke Kementerian PU,” ujar Gubernur Sumsel Herman Deru pada acara Kaleidoskop Pembangunan Tahun 2019 Sumatra Selatan di Griya Agung Palembang, Kamis (26/12) sore.
Menurut HD, sebenarnya usulan pembangunan jembatan di Kota Pagaralam itu sudah lama. Bahkan usulan itu bersamaan saat jembatan layang Kelok 9 di Sumatra Barat dibangun tahun 2003. Tapi jembatan layang Lematang ini tidak masuk dalam program strategis nasional (PSN) di era itu. Namun HD berharap dengan kejadian ini tidak ada alasan lagi Pemerintah pusat menolak proyek ini masuk dalam PSN.
“Kita mohon kepada Kementerian PU untuk memasukkan Lematang di Pagaralam itu menjadi Program Strategis Nasional agar segera dibangun jembatan layang. Gak bisa kita diamkan begini terus, sudah terlalu banyak korban. Saya akan sampaikan langsung usulan ini pada pertemuan pertama dengan Menteri PU di awal tahun 2020,” tegasnya.
Tak hanya jembatan layang di Pagaralam, HD juga menyoroti seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas antara kereta api dengan pengendara. Menurutnya, perlintasan kereta sebidang kerap menelan korban jiwa. Bahkan untuk mengurangi angka kecelakaan ini menjadi dilema bagi Pemerintah. Sebab jika operasional kereta api dihentikan, hal ini sangat besar konsekuensinya karena berkaitan dengan komoditas ekspor. Namun jika dibiarkan begini terus, maka korban akibat kecelakaan yang melibatkan kereta api akan terus terjadi.
“Saya minta segera dihitung berapa perlintasan kereta api sebidang yang butuh (dibangun) fly over atau underpass. Yang kita mampu ya kita saja (membangunnya), selama tidak menabrak regulasi,” tukasnya. (ije)

















