PALEMBANG, fornews.co – Munculnya kerusuhan dan unjuk rasa dari pendukung pasangan calon (paslon) yang terjadi pada Pilkada Lahat dan Muaraenim, diduga kuat lantaran mereka tidak menerima hasil dari hitung cepat (quick count) yang dibuat lembaga survei.
Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, membenarkan adanya unjuk rasa karena kecewa melihat hasil quick count. Para saksi akhirnya meminta penghitungan suara ulang.
Menurut jenderal bintang dua itu, aksi massa seperti itu wajar saja terjadi dan diperbolehkan, asal tidak keluar dari koridor hukum.
“Jika memang ada yang merasa dicurangi, silakan melapor melalui panitia pengawas (Panwas) karena memang sudah tahapannya. Jadi kami baik paslon dan pendukung untuk tetap menjaga keamanan dan kondusifitas di Sumsel, apalagi kita akan menjadi tuan rumah Asian Games,” kata Zulkarnain.
Pihaknya juga, kata Zulkarnain, tidak dapat langsung melakukan penangkapan karena ranahnya yaitu Panwas. Zulkarnain meminta seluruh masyarakat, paslon dan pendukung untuk menghargai proses quick count, dan real count.
“Semua harus bersabar dan KPU juga sudah menegaskan akan tegak lurus. Jadi kami harap jangan merusak, mengintimidasi, baik penyelenggara ataupun yang melawan hukum,” ujarnya.
Di sisi lain, Zulkarnain mengakui video pengeroyokan di Lahat, yang diduga ada aktor politik uang. Dikatakan, korban pengeroyokan tersebut merupakan salah satu keluarga paslon yang hanya melintas. Namun, dikarenakan beberapa yang tidak senang hasil pilkada sehingga korban langsung dikeroyok.
Beruntung korban langsung diselamatkan Polres Lahat. Untuk tersangkanya sendiri pihaknya akan melakukan pencarian.
“Jika korban melapor tentu kami terima dan kami akan mencari tersangkanya,” tandasnya. (bas)

















