YOGYAKARTA, fornews.co—Pemerintah terus mendorong pengembangan tanaman porang agar dapat menghasilkan produk turunan bernilai tinggi dengan menargetkan luas tanam porang hingga 100.000 hektar.
Direktur PT. Agri Catra Internusa (ACSA), Agrimon Bachtiar, mengungkapkan porang dapat menghasilkan hingga puluhan produk turunan.
“Manfaat porang sangat banyak. Produk turunannya sampai sekarang sudah puluhan. Kemungkinan akan diperbanyak lagi karena penelitian terus kami lakukan,” ujar Dirut PT ACSA kepada fornews.co, Kamis.

Porang diolah menjadi berbagai makanan seperti keripik, beras, tahu, tempe dan mie.
Porang juga diolah menjadi bahan pengenyal dan bahan pengikat pembuatan sosis dan baso. Selain itu, porang dimanfaatkan menjadi tepung glukomanan.
Bahkan tepung glukomanan itu sendiri juga dapat diolah menjadi bahan cat seperti aqua proof, lem kertas dan pelapis kedap air, karena mengandung bahan yang sangat lengket.
“Terakhir produk yang kami hasilkan berupa kertas bahannya dari kulit porang yang tidak terpakai.”
Tepung glukomanan bernilai sangat tinggi tidak dimiliki oleh negara lain di dunia selain di Indonesia.
“Rata-rata di negara lain tepung itu belum maksimal. Sementara kita adalah negeri yang terbekati karena dapat menghasilkan tepung yang maksimal.”
Dijelaskan, porang bisa ditanam di mana saja karena hanya akan tumbuh di musim hujan meskipun ditanam di tanah yang tidak tidak bagus.
Baca: Program Tani Bangkit, Lazizmu Gaet Dua Perusahaan Budidayakan Umbi Porang
Sebagai perusahaan yang juga melakukan penelitian terhadap porang, dalam rentan waktu 6 bulan ACSA dapat memastikan panen umbi porang seberat 1-2 kg.
Nanti kita akan ada tambahan lahan budidaya porang di berbagai daerah di DIY. Terutama yang paling luas ada di Kulon Progo.
Lahan tanam 3 hektar di Wedomartani, Sleman, itu akan menjadi pilot project diversifikasi pangan atau alternatif makanan non beras di DIY.
ACSA juga akan mendirikan pabrik khusus pengolahan porang agar mampu memenuhi permintaan konsumsi porang di DIY dan sekitarnya serta memenuhi permintaan ekspor ke luar negeri.

Setelah mengikuti penyuluhan pratanam para petani akan mendapatkan pendampingan dari perusahaan.
“Harapannya produk olahan porang itu dapat menyerap hasil panen porang para petani di DIY,” kata Agrimon Bachtiar.
Bersama Lazizmu, ACSA juga telah menyiapkan lahan tanam porang di Kabupaten Gunung Kidul, Kulon Progo, Bantul dan Kota Yogyakarta.
Disinggung soal regulasi Pemerintah yang menyebabkan harga porang terjun payung, Agriman Bachtiar, berharap Pemerintah dapat membuka pasar dan kemudahan ekspor.
“Harapannya bagaimana Pemerintah membuka pasar dan kemudahan ekspor karena ini (umbi porang) sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat di dunia mengetahui kandungan glukomanan yang sangat besar,” pungkasnya. (adam)
















