
PALEMBANG, fornews.co-Gubernur Sumsel Alex Noerdin menyatakan, merestorasi ribuan hektar hutan yang terbakar memerlukan waktu bertahun-tahun dan tidak akan mampu dilaksanakan hanya dengan kemampuan sendiri.
Atas dasar itulah, pihaknya berharap melalui Bonn Challenge ini, upaya merestorasi hutan dan lahan ini mampu memunculkan peluang yang besar. “Langkah kongkrit yang sudah kita lakukan dalam upaya restorasi hutan dan lahan, diantaranya menemukan metode dan jenis tanaman yang cocok. Restorasi bukan hal yang mudah, kita senang mendapat dukungan banyak pihak baik pemerintah pusat maupun pemerintah kabupaten dan kota di Sumsel,” ujarnya, pada pembukaan the 1st Asia Bonn Challenge High Level Meeting, di Griya Agung Palembang, Rabu (10/05).
Alex mengungkapkan, Sumsel bertekat tidak lagi terjadi kebakaran hutan dan lahan, dan berupaya bagaimana merestorasi kembali hingga mengembalikan fungsi hutan yang telah terbakar. Pemerintah Sumsel, jelasnya, secara aktif terlibat dan tidak terpisahkan dari inisiatif global, untuk memfasilitasi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan, dengan berupaya keras menetapkan pendekatan yurisdiksi, terhadap pertumbuhan ekonomi hijau untuk mendukung pelaksanaan Komitmen Nationally Determined Contributions (NDC) dan Persetujuan Paris mengenai perubahan iklim.
“Seiring berjalannya waktu, Sumsel memprakarsai Kemitraan Pemerintah- Masyarakat-Swasta (P4) untuk Pengembangan Pertumbuhan Hijau dan Pengelolaan lansekap berkelanjutan sebagai strategi mengelola lanskap Sumatera Selatan,” jelasnya.
Alex melanjutkan, keberlanjutan lanskap Sumsel membutuhkan komitmen jangka panjang. Oleh karena itu, pendekatan lanskap untuk keberlanjutan merupakan suatu keharusan bagi Sumsel untuk mencapai visi pertumbuhan hijau. Salah satu prasyarat untuk komitmen jangka panjang adalah adanya Sustainable Funding. Pemerintah Sumsel, paparnya, mengusulkan mendirikan lembaga pendanaan berkelanjutan , yang nantinya dana tersebut akan digunakan untuk mendukung rencana pembangunan strategis provinsi, terkait dengan mata pencaharian dan kesejahteraan rakyat, perubahan iklim (mitigasi, adaptasi/ketahanan dan energi terbarukan), pengelolaan lansekap berkelanjutan, jasa lingkungan, perlindungan keanekaragaman hayati dan konservasi ekosistem.
“Kita berharap Bonn Challenge menjadi suatu potensi untuk memulai networking, membangun kolaborasi, dan mengembangkan kesempatan untuk mendukung komitmen Sumsel dalam mencapai pertumbuhan hijau” harapnya.
Sementara, Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Hadi Daryanto menuturkan, program pembangunan nasional dengan konservasi dan restorasi bentang alam, tidak bisa hanya dilakukan satu pihak, melainkan harus melibatkan multipihak termasuk pelaku usaha dan masyarakat.
Hadi menyatakan, upaya konsevasi dan restorasi bentang alam di Indonesia juga dituangkan dalam dokumen NDC (kontribusi pengurangan emisi gas rumah kaca) terkait dengan persetujuan Paris. “Sepertihalnya restorasi membutuhkan waktu yang cukup lama yakni memulihkan kembali kondisi alam berikut isinya yakni flora dan fauna, pemerintah pusat akan mendukung penuh dan menfasilitasi untuk semua ini,” tandasnya. (tul)















