PALEMBANG, Fornews.co – Meningkatnya kasus positif Virus Corona atau COVID-19 di Sumsel menjadi ke khawatiran bagi masyarakat, Karena itu, sebagai Pakar dibidang Mikrobiologi, Prof dr Yuwono M Biomed pun memberikan tips agar dapat mengatasi dan menghadapi COVID-19 dengan tenang dan aman.
“Ada 5i yang harus kita mulai terapkan agar tenang menghadapi COVID-19,” kata Yuwono, Minggu (17/05).
Pertama dan kedua yakni Ilmu dan Imun, COVID-19 merupakan salah satu dari 30 an spesies Virus Corona (KVC). Berdasarkan data di seluruh dunia, tidak semua positif COVID-19, tetapi ada juga yang positif KVC.
COVID-19 memang mudah menular namun rendah fataalitasnya yaitu 2 hingga 4 persen, Jika ada angka yang lebih tinggi dari itu maka kemungkinan ada penyakit lain yang menjadi penyebab kematian pasien tersebut.
“COVID-19 ini akan menimbulkan gejala seperti lemas, demam, batuk dan sesak sejak hari keempat terinfeksi atau positif,” katanya.
Menurutnya, gejala tersebut timbul dikarenakan imunitas orang tersebut kalah terhadap virus. Namun, bagi Orang Tanpa Gejala (OTG) artinya imunitas mereka menang. Sedangkan, di Sumsel sendiri mayoritas merupakan OTG.
Infeksi COVID-19 ini juga paling lama yaitu 28 hari atau selambatnya 28 hari sudah dalam kondisi negatif. Jika beberapa kasus terdapat lebih dari 28 hari maka kemungkinan hal tersebut bukan COVID-19 melainkan KVC.
“Semua jenis KVC ini bisa terus hidup baik di hewan dan sesekali menginfeksi manusia. Artinya, tidak akan hilang dari bumi,” ujarnya.
Dengan kondisi ini, maka patokan pandemic usai adalah terkendalinya infeksi serta kematian dari manusia. Jika tingkat kematian dibawa 1 persen. Artinya, pandemic ini sudah terkendali. Jika dilihat dari data yang meninggal akibat COVID-19, data dunia menunjukkan sebesar 6,6 persen, di Indonesia yakni sebesar 6,4 persen, di Sumsel yakni sebanyak 2,8 persen.
Sedangkan, untuk kasus sembuh di dunia yakni sebanyak 38,4 persen, Indonesia sebanyak 23 persen dan Sumsel sebanyak 16 persen. “Untuk yang sakit berat di seluruh dunia yakni hanya 1,7 hingga 2 persen,” terangnya.
Ketiga yakni Iman, menurutnya, pandemic ini tidak lebih bahaya dibandingkan DBD, TBC dan HIV. Namun, kehebohan dan kecemasan yang lebih dominan. Hal ini dikarenakan hati kurang berzikir atau beriman. “Jadi dengan hanya berzikir maka hati kita akan lebih tenang lagi,” katanya.
Keempat dan kelima yakni Ikhtiar dan Inspirasi, Yuwono yang juga juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Sumsel menjelaskan bahwa ikhtiar artinya memilih kemudian usaha sesuai dengan pilihan tersebut.
Karena itu, dirinya lebih memilih untuk optimis dan semua usaha dalam rangka memupuk optimismenya. Jadi, apapun plihan anda dan akhirnya segala usaha dan dia hanya akan ditujukan kepada tuhan untuk mendapatkan pertolongan.
“Jadi, jika masih tidak sadar dengan pandemic ini maka berarti sudah bebas alias dungu, alias bongok kato wong Plembang,” singkatnya. (lim)

















