BALIKPAPAN, fornews.co-Wakil Bupati Musi Banyuasin (Muba), Beni Hernedi menyampaikan, wilayah yang memiliki suatu produk dan komoditas seperti Muba dengan kelapa sawitnya, akan berhasil bila suatu produk yang dihasilkan/diciptakan, memiliki sesuatu yang lebih dari yang lain sehingga harga yang akan dibuatnya akan semakin tinggi.
“Dunia saat ini penuh daya saing, baik antar daerah bahkan antar negara, daya saing yang terjadi saat ini sangat ketat dan harus memenuhi syarat pengujian,” ujarnya, saat menyampaikan gambaran budidaya komoditas kelapa sawit di Muba, pada forum dialog The Tropical Forest Alliance 2020 (TFA 2020), di Balikpapan, Selasa (26/09).
Forum dialog The Tropical Forest Alliance 2020 (TFA 2020) ini, terang Beni, merupakan suatu kemitraan internasional (global public-private partnership) dalam upaya mengurangi deforestasi yang dikaitkan dengan bagaimana suatu komoditas dihasilkan. misalnya kelapa sawit, kedelai, daging sapi dan kertas.
“Tujuan kami, agar dari hari ke hari dunia internasional memahami dan mendukung keunggulan komoditas kelapa sawit Muba. Mendukung dalam arti tidak menganggap negatif komoditas ini, dan mau memberi insentif kepada petani Kelapa sawit Muba yang sudah berstandar, baik yang pada gilirannya menaikkan daya saing daerah sekaligus kesejahteraan petani,” terangnya.
Beni melanjutkan, menuju HUT Kabupaten Muba ke-61, pihaknya mengajak untuk menciptakan daya saing di kabupaten tercinta ini sebaik-baiknya. Tentu menjadikan Muba yang berdaya saing, bergotong royong agar berkemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang memenuhi pengujian internasional. “Dalam saat bersamaan juga dapat memelihara tingkat pendapatan yang tinggi dan berkelanjutan, yang tentu saja dengan tetap terbuka terhadap persaingan eksternal,” katanya.
Lebih jauh Beni memaparkan, sejak RSPO Roundtable 13 di Bangkok, Muba telah mendorong kemajuan di berbagai aspek yang dibutuhkan, untuk implementasi ‘verified sourcing’ area. Lebih simpelnya, bagaimana pembelian produk Muba bisa lebih diprioritaskan karena kualitas dan jaminan bahwa produk tersebut berkelanjutan. “Kita bergerak bersama Seruyan dan Sabah sebagai percontohan ini – dan semoga Muba dan upayanya bisa menjadi yang terdepan,” terangnya.
Berangkat dari kriteria indikatif yang digunakan oleh RSPO untuk sertifikasi jurisdiksi, Muba membuat daftar capaiannya sendiri untuk mengarahkan arah pembangunan. Setidaknya, progress MUBA sudah cukup pesat untuk 8 Kriteria. Pertama, Proses Multipihak, yakni melalui Sahabat Muba & LTKL, Muba berupaya mendorong perencanaannya secara inklusif dan kolaboratif. Muba sudah menerjemahkan juga visi Green Growth bersama para pemangku kepentingan dan mitra di bulan ini, yang kemudian diserahkan pada DPRD dan dilanjutkan dengan penyusunan renstra; Pencegahan dan Penanganan Konflik, yang dibentuknya Satgas resolusi konflik dan reforma agraria.
Berikutnya, Penanggungjawab, dengan pembentukan pokja Pembangunan Hijau sebagai penanggungjawab pelaksanaan komitmen; Penurunan Deforestasi, suatu komitmen pembatasan area produksi dan fokus pada intensifikasi utk sektor perkebunan dan pertanian strategis dituangkan dalam SK Dinas, Indikator RPJMD, rencana strategis dan Perda. Kerjasama dengan Kelola Sendang dan Sahabat Muba utk melindungi area nilai konservasi tinggi dan membuat rencana restorasi.
“Selanjutnya, Mekanisme Monitoring dan Verifikasi, yakni mendorong kerjasama untuk mewujudkan Satu Peta dan Satu Data, melalui sistem monitoring yang komprehensif. Mungkin Muba akan mulai dulu dengan Kecamatan Lalan, dimana Konsesi dan Area Pekebun sudah dipetakan dan Area Nilai Konservasi Tinggi sudah diidentifikasi – mendorong aplikasi sistem monitoring di Kecamatan Lalan untuk kemudian di replikasi. Progres terakhir, Good Agriculture Practice, yakni mendirikan Center of Excellence untuk menjawab kebutuhan Pekebun untuk transformasi pada praktek perkebunan berkelanjutan,” paparnya.
Komitmen Muba untuk jurisdiksi yang berkelanjutan, jelas Beni, sudah mulai diaplikasikan secara nyata, hanya saja untuk semua rencana pihaknya membutuhkan partisipasi dari semua pemangku kepentingan, yang ingin melihat upaya ini berhasil.
“Untuk sektor lahan seperti perkebunan dan pertanian di Muba, arah dan kebutuhannya jelas. Intensifikasi dan Hilirisasi. Untuk ini kebutuhan Muba juga jelas, ada data dan kapasitas membangun sistem monitoring yang kokoh dan menghitung deliniasi pembatasan area produksi secara jelas; akses bibit yang baik, salah satu cara efektif adalah dengan membangun nursery. Diluar ini fungsi2 lain dibawah Center of Excellence untuk pengembangan GAP; serta pusat lelang untuk stabilisasi harga, baik sawit maupun karet,” jelasnya.
Pada intinya, urai Beni, komitmen Kabupaten hanya bisa berkembang kalau didukung dengan kolaborasi semua pemangku kepentingan. Untuk itu harus jelas, apa keuntungannya dan apa nilai lebihnya dari Investasi Hijau. Dari diskusi hari ini, Beni berharap untuk mengerti dengan lebih jelas pengertian pihak lain, seperti pemerintah pusat, provinsi, swasta, investor, donor, NGOs, forum seperti TFA2020 dan lainnya tentang Green Growth.
“Pertanyaan kunci yang ingin Muba tanyakan, apakah swasta betul bisa membeli dari jurisdiksi yang berprestasi? Bagaimana mekanismenya?. Apakah yang perlu disiapkan dari sisi kabupaten, untuk meyakinkan investor dan donor bahwa komitmennya jelas. Apakah dengan menggunakan kriteria RSPO sudah cukup? Atau ada yang kurang?. Terakhir, apakah kita bisa mendorong akses dana daerah berdasarkan indikator yang berbasis lestari?,” tandasnya. (tul)

















