PALEMBANG, fornews.co – Kecamatan Kalidoni menjadi pilot project pengelolaan sampah dengan cara instalasi 3R (reuse, reduce dan recyle) dari bank sampah.
Lewat instalasi 3R bank sampah, Kecamatan Kalidoni telah menghasilkan berbagai macam produk bernilai ekonomis, di antaranya pupuk dan bahan bakar minyak.
Camat Kalidoni Arie Wijaya mengatakan, instalasi 3R yang ada di wilayahnya saat ini baru terdapat di Kelurahan Kalidoni. Selama lebih dari satu tahun terakhir ini, menurutnya, sudah memberikan dampak positif kepada kehidupan warganya.
Arie mengatakan, Kecamatan Kalidoni dalam waktu dekat kembali akan membuat dua instalasi 3R dari bank sampah di Kelurahan Sei Selayur dan Bukit Sangkal.
“Sampah yang kami olah adalah jenis organik menjadi pupuk organik dan produk bioteknologi. Dari jenis anorganik menjadi bahan bakar minyak yang berasal dari sampah plastik yang dicacah, serta sampah cair dalam produk turunannya dan sudah cukup memiliki profit ekonomi di masyarakat,” kata Arie Wijaya diwawancara awak media usai rapat pengelolaan sampah di 18 Kecamatan se-Kota Palembang, Rabu (08/05).
Secara hitung-hitungan, imbuhnya, jika satu rumah di Kalidoni menghasilkan 3 kilogram sampah per hari, artinya total sampah yang bisa dihasilkan Kecamatan Kalidoni bisa sampai 60 ton per hari.
“Sementara dengan keterbatasan alat instalasi 3R yang kami miliki, kami hanya sanggup mengolah 1 ton sampah per hari,” ucapnya.
Dengan keterbatasan alat dan hanya dua tempat pembuangan sementara (TPS) di Kecamatan Kalidoni, pihaknya terus menggulirkan edukasi bahwa sampah bukanlah suatu masalah sebenarnya, tetapi ini soal kebiasaan.
Lanjut dia, jika Rp200 juta dari Rp325 juta dana kelurahan yang dianggarkan Pemkot Palembang bakal dialokasikan untuk mengelola sampah, tentu ini akan mempermudah progres pengelolaan sampah sampai tingkat kelurahan.
“Sampah itu 80 persen adalah organik, misal ada 1.200 ton sampah di Palembang yang dihasilkan dalam satu hari, maka 900 ton itu tak perlu lagi masuk TPA, cukup di TPS dan bank sampah olah. Jika instalasi 3R merata di seluruh kelurahan, saya yakin sampah yang masuk TPA cuma 200-300 ton per hari, paling banyak,” ungkapnya.
Sementara Pemerintah Kota Palembang melalui Asisten I Sulaiman Amin, mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Kecamatan Kalidoni dalam melakukan pengolahan sampah.
“Kalidoni sudah menjalankan ini satu setengah tahun, mereka membangun ini secara swadaya. Untuk itu kita dorong juga kecamatan lain untuk aktif dan melakukan inovasi,” ungkapnya.
Ditambahkan Sulaiman, Meskipun ada beberapa hal yang masih belum maksimal dalam pengelolahan sampah, tetapi yang dibutuhkan saat ini adalah tindakan nyata dan begerak, bukan diam namun tidak menghasilkan sesuatu.
“Awalnya mesinnya kecil, setelah dikaji dan dirancang, ada kapasitas lebih besar dengan menghandle sampah 2 ton. Karena biaya operasional produksi untuk 100 kg sampah dan 500 sampah plastik sama saja, maka mereka berhenti dulu kekurangan bahan baku. Mereka juga bisa menghasilkan pelet ikan dengan konsentrat 50 %, sedangkan yang dijual pelet ikan sekarang hanya 30% proteinnya, sambil jalan kita terus mengembangkan. Kalau nunggu kajian lengkap ini dan itu, maka tidak akan berjalan,” tukasnya.(irs)

















