PALEMBANG, fornews.co-Jelang gelaran Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumsel 2018, beberapa lembaga survei telah merilis hasil riset terhadap bakal calon (balon) kepada publik. Sayangnya, hasil yang ditelurkan tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh sebagian tim pemenangan kandidat.
Kredibilitas dan ke-independensian dari lembaga survei, menjadi pertanyaan bagi pihak-pihak yang akan bertarung. Dasarnya, apakah hasil riset yang dikeluarkan lembaga itu merupakan pesanan dari salah satu kandidat.
Ishak Mekki, satu dari balongub yang masih aktif menjabat Wakil Gubernur Sumsel dan sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel, menjadi kandidat yang selalu berada di peringkat tiga dari hasil survei yang dikeluarkan Lembaga Survei Indomatrik dan iPOL (IT-Riset Politic Consultant) Indonesia. Dari rentang waktu September dan Oktober, mantan Bupati OKI itu selalu berada di bawah bayang-bayang Herman Deru dan Dodi Reza Alex.
Menurut Ishak, sebagai ketua partai tentu pihaknya juga mensurvei untuk gubernur, bupati/walikota yang didukung Partai Demokrat. Jadi, sebenarnya survei itu hanya sebagai tuntutan, gambaran bagi seorang kandidat untuk mengetahui celah-celah yang lemah dan apa yang perlu digencarkan, apa keinginan masyarakat dan isu yang berkembang disitu. “Agar semua kelemahan dari kandidat tersebut bisa terlihat. Jadi saya tahu bagaimana survei itu. Bukan berarti sekarang survei tinggi ada peluang pasti menang. No ! survei itu hanya tuntunan,” ujarnya, saat berbincang-bincang dengan Forum Jurnalis Parlemen (FJP), Senin (30/10).
Ishak menjelaskan, untuk saat ini boleh-boleh saja bagi lembaga survei untuk membantu seseorang agar bisa terdongkrak, ingin menggiring opini, ataupun agar partai memberikan dukungan. Karena partai juga melihat elektabilitas dari hasil survei. “Tapi yakinlah, kalau sudah mendekati tiga bulan jelang pilkada, lembaga survei itu baru akan bicara lebih riil. Kalau hasil dari satu lembaga survei itu jomplang dari lembaga lainnya dan ternyata orang yang disurvei itu kalah, akan ada sanksi publik. Kok mengunggulkan kandidat itu sekian persen tapi kalah. Tentu kedepannya orang tak mau lagi pakai lembaga survei itu,” jelasnya.
Memang, papar Ishak, untuk saat ini tidak ada resiko bagi lembaga survei, karena pemilihan masih jauh. Ishak juga tidak menuduh kalau ada lembaga survei yang bekerja sesuai pesanan klien, walaupun semua itu bisa terjadi. “Bisa diibaratkan, juri dari satu pertandingan olahraga, yang ditonton orang banyak dan disaksikan pengamat olahraga. Tapi tetap masih bisa di mark up. Lembaga survei itu memang ilmiah dan berdasarkan riset, tapi bukan seperti Alquran,” paparnya.
Terhadap hasil dari lembaga survei yang merilis elektabilitas dirinya bukan yang tertinggi, Ishak menyampaikan, bahwa itu justru menjadi penyemangat dan pemacu adrenaline. “Karena ini bukan hal yang main-main, semua ini bisa menghabiskan tenaga, pikiran dan finansial. Namun, saya optimistis apa yang saya lakukan selama ini dan saya yakin bisa leading dan saya tetap berjuang keras. Karena bukan tidak mungkin kandidat-kandidat lain juga sama punya target untuk menang,” tandasnya. (tul)

















