JAKARTA, fornews.co – Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo mengatakan, sudah menggelar putaran pertama perundingan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) pada 8-9 Januari.
Menurut Iman yang juga Ketua Delegasi Indonesia dalam perundingan tersebut, IT-CEPA akan meningkatkan nilai ekspor Indonesia ke Turki secara signifikan dengan mengeliminasi hambatan perdagangan kedua negara, baik hambatan tarif maupun nontarif. Perundingan ditarget selesai dalam perdagangan barang (trade in goods) hingga akhir tahun ini.
“Penyelesaian perjanjian perdagangan barang merupakan awal dari kesepakatan yang lebih komprehensif,” ujar Iman di Jakarta, yang dilansir Anadolu Agency, Rabu (10/01).
Sambungnya, perundingan putaran pertama ini, membahas Terms of Reference (ToR) IT-CEPA, serta menyamakan persepsi terkait isu-isu yang terkait dengan perdagangan barang seperti rules of origin (ROO), customs and trade facilitation, trade remedies, technical barrier to trade, sanitary and phytosanitary, dan legal matters.
Dijelaskannya pula bahwa masalah utama yang dihadapi produk Indonesia di pasar Turki adalah tarif bea masuk yang lebih tinggi dan tambahan bea lainnya. Padahal, negara pesaing Indonesia, sudah tidak lagi menghadapi hambatan ini.
Total perdagangan Indonesia-Turki pada 2016 mencapai USD1,33 miliar. Ekspor Indonesia sebesar USD1,02 miliar dan impor sebesar USD311,1 juta, dengan surplus bagi Indonesia sebesar USD712,9 juta.
Turki merupakan negara tujuan ekspor nonmigas ke-28 dan negara asal impor nonmigas ke-34 bagi Indonesia pada tahun 2016. Produk ekspor utama Indonesia ke Turki pada 2016 adalah adalah karet, tekstil, bubuk kayu, kertas, konduktor, motor, dan kimia asam stearat.
Produk impor utama Indonesia dari Turki pada 2016 adalah tembakau, gandum, jagung, marmer, lemon, barang elektronik, karpet, dan pakaian. Nilai investasi Turki di Indonesia pada tahun 2016 mencapai nilai USD2,7 juta.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, Turki saat ini lebih memilih crude palm oil (CPO) dari Malaysia dibanding Indonesia, karena negara tersebut sudah mempunyai perjanjian perdagangan. Ketertinggalan ini dikejar dengan secepatnya menyelesaikan perundingan dagang.
Tahun ini, ada enam perundingan dagang yang akan diselesaikan, yaitu Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-European Free Trade Association FTA, Indonesia-European Union CEPA.
Kemudian Indonesia-Iran Preferential Trade Agreement (PTA), Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), dan Indonesia-Malaysia Border Trade Agreement (BTA). (AA)

















