Penulis: A.S. Adam
CUACA siang tidak begitu terik. Awan lebih sering bergeser menutup sinar matahari. Seakan-akan telah mendung. Pohon-pohon besar di pinggiran jalan menambah suasana semakin adem. Mendadak saya berhenti di jalan menanjak di puncak perbukitan. Saya terpesona oleh pemandangan indah: pegunungan yang tersapu kabut membiru.
Melewati jalan raya di Kalibawang, warung-warung penjual berbagai macam buah mudah ditemui. Buah-buah yang dijual itu kini menjadi ciri khas wisata kuliner daerah Kalibawang.
Durian hingga buah Naga. Slondok juga gula kristal. Gula aren pun beda kualitasnya dibanding di tempat lain di Yogyakarta.

Di daerah ini terdapat makam tokoh Nyi Ageng Serang. Dulu saya pernah mencari-cari letak makam pahlawan Nasional ini.
Meski sudah mengetahui keberadaannya di daerah Kulon Progo, namun secara pasti saya belum mengetahui lokasinya.
Dari polsek Kalibawang, sebelum pasar Bogo, saya berbelok ke kanan (barat). Sebuah gapura bergaya Mataram kuno sedang dibangun sebagai pintu masuk menuju makam.
Jalan menuju makam ini juga menanjak dan berkelok-kelok. Jalan beraspal selebar sekitar 3-4 meter cukup membuat was-was. Saat berkendara di jalan menanjak, saya membayangkan bagaimana jika dua mobil saling berpapasan di jalan ini?

Menurut keterangan dari sejumlah narasumber, Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi (nama lain dari Nyi Ageng Serang) masih sedarah dengan Sunan Kalijaga. Ia merupakan nenek dari Ki Hajar Dewantoro putri seorang panglima perang Sri Sultan Hamengku Buwono I, Pangeran Natapraja, penguasa daerah Serang, Jawa Tengah.
Nyi Ageng Serang wafat di Notoprajan, Yogyakarta, dan dimakamkan di Dusun Beku, Desa Banjarharjo, di bukit Traju Mas, Kulon Progo.
Bukit Traju Mas merupakan markas Nyi Ageng Serang saat berperang melawan Belanda bersama pasukan Diponegoro.
Beberapa tahun setelah kemerdekaan Republik Indonesia, Nyi Ageng Serang diresmikan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No.084 / TK / 1974.
Baca: Jalur Lain ke Borobudur #3
Sampailah saya di kompleks makam Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang. Baru kali pertama ke tempat ini saya disambut kotoran ayam di serambi masjid kecil. Kotoran ayam juga mengotori tempat wudhu.
Saat ingin menggunakan toilet, lantainya pun kotor. Bahkan pintu toiletnya tidak dapat ditutup rapat. Rusak! Masjid ini butuh perhatian serius.
Karena hari sudah semakin siang, setelah mengambil gambar dan mengetahui masa hidup Nyi Ageng Serang, saya tidak berlama-lama di tempat ini. Saya bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta.
Siang hari, jalan raya ke Jogja semakin ramai. Mobil-mobil pribadi terlihat lebih banyak dibanding angkutan umum, seperti bus dan angkutan desa (angdes). Pasar-pasar yang saya lewati juga terlihat sepi.

Kulon Progo memang menggoda untuk dikunjungi. Berbagai tempat wisata sejarah Jawa dan legenda pewayangan ada di sini. Kulon progo juga terkenal dengan cerita “Pendekar dari Bukit Menoreh”.
Tidak diketahui pasti mengapa ada yang menyebut bukit Menoreh atau pengunungan Menoreh. Pada dasarnya dua versi penyebutan itu tetap tidak mengurangi keberadaan Menoreh yang sampai sekarang dikenal sebagai bagian dari berdirinya Kerajaan Mataram.
Terlepas dari pro dan kontra keberadaan bandara baru Yogyakarta International Airport (YIA) di Kulon Progo, Borobudur tetap menjadi salah satu unggulan tujuan wisata di Indonesia.
Akhirnya saya sampai lagi di Yogyakarta—sebuah wilayah yang masih menganut budaya tepo seliro, unggah-ungguh dan sopan santun. Sebuah provinsi Istimewa yang sampai saat ini masih dipimpin oleh seorang raja: Sri Sultan Hamengku Buwono X. (*)
Ikuti juga fornews.co di instagram

















