JOGJA, fornews.co — Ketua Presidium JKPI, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo, menilai kerja sama antarkota tidak cukup berhenti pada pelestarian, tetapi harus menghasilkan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
Hasto menyebut konsep yang perlu dikembangkan JKPI adalah aglomerasi wisata budaya yang menghubungkan kota-kota pusaka dalam satu jaringan perjalanan tematik berbasis sejarah, identitas, dan budaya yang saling melengkapi.
“Kota pusaka tidak bisa berdiri sendiri. Kita harus membangun poros-poros kerja sama berbasis tema budaya dan sejarah agar wisatawan bergerak dalam satu ekosistem destinasi,” ungkapnya.
Hal itu disampaikan saat memimpin Rapat Pengurus JKPI di Ruang Yudistira, Balai Kota Jogja pada Selasa, 3 Februari, dihadiri perwakilan dari sejumlah daerah di Indonesia.
Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya membangun pola kolaborasi baru yang lebih produktif di tengah keterbatasan fiskal daerah.
Hasto menilai, keterhubungan lintas wilayah akan menciptakan arus pergerakan wisatawan yang lebih panjang dan berdampak langsung pada aktivitas ekonomi lokal.
Ia kemudian menyontohkan peluang pengembangan poros Aceh–Bandung untuk wisata religi dan edukasi budaya, serta jalur Jogja–Singkawang melalui agenda kebudayaan Tionghoa.
“Kalau ada event budaya Tionghoa di Jogja, bisa dikaitkan dengan Singkawang. Begitu juga sebaliknya. Dari situ muncul promosi bersama, event lintas kota, hingga konektivitas transportasi yang mendorong pergerakan orang dan ekonomi,” ujarnya.
Lebih jauh, Hasto menegaskan bahwa keanggotaan JKPI harus memberikan nilai tambah konkret bagi daerah dengan harapan mampu melahirkan inovasi yang berdampak pada peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau bergabung di JKPI, harus ada manfaatnya. Harus ada gagasan baru yang ujungnya menaikkan pendapatan daerah dan mendorong kesejahteraan warga,” tegasnya.
Hasto juga mengingatkan agar pelestarian warisan budaya tidak dilepaskan dari strategi ekonomi kreatif. Maka, pusaka kota harus diposisikan sebagai kekuatan produktif, bukan hanya menjadi objek konservasi.
“Pelestarian penting, tetapi harus terhubung dengan produktivitas. Warisan budaya harus menjadi basis pengembangan ekonomi kreatif daerah,” kata Hasto.
Pada kesempatan itu, melalui video live, Wali Kota Ternate M. Tauhid Soleman, menyampaikan kesiapan Ternate menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-12 JKPI pada Agustus 2026 di Maluku Utara mengusung tema Ternate Episentrum Rempah Dunia.
Tema itu merefleksikan sejarah Ternate sebagai pusat jalur rempah yang menghubungkan Nusantara dengan dunia sejak masa lalu.
Tauhid berharap agenda nasional tersebut dapat memperkuat identitas kota pusaka sekaligus memperluas jejaring kerja sama antarwilayah.
“Sejak tahun lalu kami sudah melakukan berbagai persiapan. Harapannya Rakernas JKPI 2026 di Ternate bisa berjalan baik dan memberi kontribusi bagi penguatan jaringan kota pusaka di Indonesia,” ujar Tauhid.
Melalui penguatan aglomerasi budaya dan agenda nasional JKPI, jejaring kota pusaka diarahkan tidak hanya sebagai ruang pelestarian sejarah, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi budaya lintas daerah.

















