PALEMBANG, fornews.co – Kapasitas sebagian politisi perempuan di Sumatera Selatan masih perlu ditingkatkan. Para politisi perempuan diharapkan terus belajar dan meng-upgrade diri agar keberadaan mereka di Lembaga politik tidak hanya menjadi pelengkap atau pemanis belaka.
Demikian salah satu kesimpulan dari kegiatan diskusi Fornews Forum bertajuk ‘Wanita dalam Pusaran Politik, Siapa Takut!’ di Kopi Kita dan Siber Workspace, Jalan Voley no G8, Kampus, Palembang, Sabtu (25/1) malam. Hadir sebagai narasumber pada acara yang dipandu Jurnalis Senior Palembang Sidratul Muntaha itu, Ketua DPRD Sumsel Anita Noeringhati, Ketua KPU Sumsel Kelly Mariana, Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia Ade Indriani dan Pemimpin Redaksi Sripo – Tribunsumsel Weny Ramdiastuti.
“Saat ini kami melihat kemampuan para politisi perempuan di Sumsel membicarakan atau memahami isu terkini masih sangat kurang. Jangankan membicarakan isu, membicarakan diri sendiri saja mungkin tidak mampu,” ujar Ade.
Ade merupakan perempuan pertama yang menjadi Ketua Umum Sarekat Hijau Indonesia. Bahkan Ade yang terpilih se adalah satu-satunya perempuan yang memimpin Sarekat/Partai Hijau di wilayah Asia Pasifik. Dia terpilih menjadi ketua umum Sarekat Hijau Indonesia pada tahun 2017 lalu.
Ade mengaku prihatin dengan kondisi perempuan saat ini. Meskipun, sejara jumlah politisi perempuan yang berhasil menembus parlemen meningkat, namun dia menilai secara kualitas masih cukup rendah.
“Yang harus dilakukan adalah peningkatkan kapasitas politisi perempuan dan organisatoris perempuan. Caranya belajar, mendidik diri. Cantik boleh, tapi harus dibarengi dengan brain. Kalau tidak, perempuan hanya jadi etalase. Jika melakukan hal itu saja tidak mampu, lebih baik pulang kampung! Angkat Koper!,” kata Ade, tegas.
Ketua KPU Sumsel Kelly Mariana menyebut jumlah perempuan yang menjadi calon anggota legislatif Sumsel meningkat pada pemilu 2019. Dalam catatan KPU Sumsel, dari 1.014 caleg DPRD Sumsel 42 persen di antaranya adalah perempuan. “Yang terpilih menjadi anggota DPRD Sumsel juga meningkat, dari sebelumhya 12 orang menjadi 16 orang,” ungkap Kelly.
Pada kesempatan yang sama, Weny Ramdiastuti mengungkapkan pihaknya kerap kesulitan mendapatkan politisi perempuan yang mau dan mumpuni untuk dijadikan narasumber. Padahal, kata Weni, media yang dia pimpin memberikan porsi yang cukup besar untuk perempuan.“Tapi yang menjadi narasumber paling satu – dua orang. Paling-paling yang dikutip bu ketua (Ketua DPRD Sumsel Anita Noeringhati), bu ketua lagi,” keluh Weny.
Ketua DPRD Sumsel Anita Noeringhati mengakui jika politisi perempuan Sumsel yang berani tampil di media atau di muka publik masih minim. Padahal, jika melihat latar belakangnya, seharusnya mereka memiliki kemampuan pemahaman dan public speaking yang mumpuni.
“Saya juga kadang kesulitan mau memberikan disposisi ke siapa jika diundang sebagai narasumber,” ungkap politisi Partai Golkar tersebut.
Anita berharap politisi, aktivis atau organisatoris perempuan yang memiliki kapasitas mumpuni di Sumsel akan lebih banyak lagi. Namun, hal itu menurut dia bisa terwujud jika didukung semua pihak. “Harus di-support, media massa misalnya, kami harap tidak lagi memberikan pertanyaan yang receh soal make up, pakaian atau hal-hal yang menjadi streotipe perempuan. Berikan pertanyaan yang berbobot sehingga para politisi bisa lebih giat lagi belajar,” tuturnya. (ari)

















