Penulis: A.S. Adam
SORE menjelang senja Merapi berkabut tebal. Getaran besar tercatat seismograf. Beberapa kali jarumnya lepas. Tidak diketahui apa yang terjadi pada Merapi.
Hari mulai gelap. Sekitar jam 17.30-18.30 WIB, mendekati waktu Maghrib. Sirine tanda bahaya berbunyi. Tiga kali letusan terdengar keras dari arah Merapi. Seluruh petugas pengamat di lereng Merapi diperintahkan meninggalkan posnya masing-masing.
Baca: Gunung Merapi di Jelaga Sismograf
Suara gemuruh dan dentuman terdengar dari Jrakah dan Selo. Nyala api bersamaan kolom asap membumbung setinggi 1,5 km dari puncak Gunung Merapi.
Luncuran awan panas bersuhu 600-1000 derajat celcius menyebar ke arah Tenggara, Selatan, Barat, dan Barat Daya. Warga harus dievakuasi. Paksa.
Rabu 27 Oktober 2010 awan panas berkecepatan 60km/jam menyapu Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, menewaskan sejumlah orang termasuk Mbah Maridjan.
Kini delapan tahun berlalu setelah peristiwa erupsi 2010 silam. Kawasan Merapi kembali hijau. Tanahnya menjadi subur. Hutannya lebat. Pakan ternak berlimpah-limpah. Kinahrejo kembali gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo (kekayaan alam yang berlimpah dalam keadaan tentram).
Kinahrejo

SAYA memutuskan turun meski belum sampai Sri Manganti di Pos Satu. Meski udara masih segar, jika tidak membawa bekal yang cukup mendaki di Merapi bisa berubah bencana.
Gunung Merapi terkenal tandus dan kering. Sedikit yang berani menanjak lewat jalur selatan di Kinahrejo. Kebanyakan pendaki memilih jalur utara di Selo, Boyolali.
Berbeda sebelum Merapi mengalami erupsi 2010. Di tahun 90-an tempat ini masih sangat alami. Tidak ada backhoe dan kendaraan berat lain merambah pasir-material hingga mengeruk tanah di jalur lahar.
Kaliadem, Gendol; Kalikuning dan Opak, paling santer hanya dijamah macan.
Baca: Pos Pemantauan Gunungapi Terbanyak Se-Indonesia
“Kalau malam biasanya macan pada turun ke Kalikuning mencari air,” kata Darto dalam Bahasa Jawa.
Mbah Darto panggilan akrabnya, dan istrinya, setiap hari dapat ditemui di Kinahrejo. Mereka menjaga warung kopi, namun juga menyediakan mie rebus dan nasi goreng. Bahkan menyewakan tempat parkir bus dan rumah limasan untuk berbagai kegiatan.

Anjingnya benama Diego, Semut dan Ciko, menjadi penjaganya jika mereka tidak di tempat atau sedang pulang ke Hunian Tetap (huntap) di Karangkendal, Tangkisan, Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Panut anak perempuan Mbah Maridjan masih berjualan wedhang gedang. Ia berjualan di area parkir Ngrangkah, Pangukrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Sekitar satu kilo meter dari Kinahrejo. Para pendaki biasa memanggil Bu Panut.
Bu Panut dikenal pendaki sejak berjualan di rumah milik ayahnya di Kinahrejo. Kisah wedhang gedangnya melegenda hingga sekarang. Entah siapa yang memulai membuat wedhang gedang di warung Bu Panut yang dibandrol 5 ribu rupiah perporsi.
“Waktu itu jualan di rumah bapak,” ujarnya.
Dulu rumah bapak menjadi Pos Pendakian, imbuhnya, sangking banyaknya pendaki membuka warung di sebelah timur tempat pertemuan, di samping depan rumah Mbah Maridjan.
Mbah Darto dan Bu Panut adalah warga Kinahrejo yang selamat dari awan panas karena mengikuti imbauan pemerintah. Bukan berarti yang lain mengabaikan imbauan. Ada hal lain yang menjadi prinsip dalam pegangan hidup. Bisa jadi karena kehormatan atau mentaati perintah raja.

Kembali menginjakkan kaki di Kinahrejo berjarak 4,5 km dari puncak Merapi, teringat tahun 90-an, ketika seluruh kawasan Kinahrejo dan Kaliadem menjadi tempat ngumpul bagi pendaki di seantero Indonesia Raya. Tapi anak-anak Malioboro paling sering ke tempat ini.
Tidak ada ketakutan melihat lava pijar yang keluar dari kawah Gunung Merapi dari halaman Masjid di Kinahrejo. Bahkan di Kaliadem. Itu karena kebanyakan para pendaki waktu itu belum berbekal ilmu pengetahuan tentang vulkanologi. Namun berbeda dengan sekarang yang tidak kalah banyak lebih memilih menjauh dari Merapi meski beraktivitas waspada level 2.

Dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta menuruni jalan yang curam dan terjal butuh kehati-hatian berkendara. Sepanjang perjalanan dari Kinahrejo hingga Jalan Kaliurang Km 22,5 aspal tidak semulus di perkotaan. Menurut para ahli, jalan yang rusak itu akibat pergerakan tanah.
“Mas saya numpang turun di portal,” kata seorang warga Kinahrejo yang kini tinggal di Ngrangkah.
Mengaku bernama Mbah Parjo, umurnya sekitar 70 tahun, tinggal tidak jauh dari kerabat dekat almarhum Mbah Maridjan. Saya berboncengan dengannya.
Kecepatan kendaraan melaju lambat karena jalan curam tajam. Mbah Parjo bercerita panjang bagaimana awan panas menerjang Kinahrejo. Tapi ia tidak mengeluh. Kisah nyatanya pun tidak memilukan. Justru Mbah Parjo menceritakan kebangkitan Kinahrejo yang sekarang hijau subur.
“Sekarang pohon-pohon sudah tumbuh segar,” ucapnya dalam Bahasa Jawa.
Sempat terlintas di benak saya tentang situs-situs candi yang hancur di sekitar Gunung Merapi ratusan tahun silam. Apakah sekarang masih ada atau malah hilang?
Di seputaran Gunung Merapi hingga radius 15 Km melingkar masih banyak terdapat situs-situs candi seusia Borobudur dan Prambanan. Bahkan Candi Kimpulan di tengah gedung perpustakaan UII Jalan Kaliurang Yogyakarta pun ditemukan sedalam lima meter. Saya dan seorang teman pernah mendatanginya ditemani seorang satpam.

Tidak lama kemudian sampailah kami di portal. Saya menurunkan Mbah Parjo dan meninggalkannya bersama temannya yang sudah menunggu.
Matahari sudah agak meninggi. Dalam waktu sejam harus sampai di Jogja. Jalan menurun membantu mempercepat perjalanan. Melaju menembus desa-desa menghindari kemacetan.
Keelokan Merapi tidak mudah dilupakan. Meski lahar meleleh memancarkan cahaya, bagai bergerombol wedus gembel lari sekencang-kencangnya, turun di kali-kali menyambar apa saja yang dilewati, Kinahrejo saksi awan panas. (*)
















