PALEMBANG, fornews.co – Baru memainkan laga perdana dan selanjutnya kompetisi dihentikan, membuat seluruh klub merasakan kerugian. Tak hanya materiil, kerugian imateriil juga begitu dirasakan tak hanya pemain dan ofisial namun juga pengelola klub.
“Bicara kerugian akibat dihentikannya kompetisi, tentu ada dirasakan semua klub dan cukup besar,” ujar Manajer Sriwijaya FC Hendri Zainuddin, Jumat (03/04).
Menurut HZ, bagi Sriwijaya FC, kerugian dirasakan dari sisi persiapan yang sudah dilaksanakan selama hampir dua bulan.
“Saat kondisi pemain sudah bagus, lalu kompetisi tiba-tiba terhenti. Jelas itu suatu kerugian yang besar bagi kita,” kata HZ.
Tak hanya itu, kerugian lain yang dirasakan klub dengan penghentian kompetisi adalah jadwal pertandingan yang ikut molor, terutama saat tandang ke markas lawan. Sebab jelang laga away tim harus mempersiapkan tiket, hotel, dan hal pendukung lainnya untuk kelancaran pertandingan tandang tersebut.
“Untung saja (sebelum kompetisi dihentikan) kita belum ada pemesanan tiket maupun hotel maupun hal-hal lain untuk laga away. Coba kalau sudah (pesan), tentunya uang pemesanannya hangus atau dipotong karena pembatalan,” tuturnya.
Selain itu, HZ juga mengatakan, semua persiapan di kandang sendiri juga kembali ke nol.
“Kita yang kemarin sudah mempersiapkan dengan baik mulai dari panitia, stadion, sampai ke perizinan, dengan adanya penghentian kompetisi ini maka kedepan harus diulang kembali. Tentunya semua persiapan itu memakan waktu,” ucap pengusaha asal Payaraman, Kabupaten Ogan Ilir ini.
Bahkan, para sponsor yang telah siap mendukung Sriwijaya FC, menahan diri sebelum kompetisi kembali bergulir.
“Manajemen saat ini terus berkoordinasi dengan sponsor. Sebab ada beberapa pihak yang harusnya sudah tanda tangan sponsorship tapi ditunda dan menunggu surat dari PSSI tentang kejelasan kompetisi,” tukasnya.
Sementara bagi pemain, sesuai surat PSSI yang menyatakan bulan Maret, April, Mei, Juni 2020 dalam status force majeure, maka klub tidak diwajibkan membayar gaji secara penuh. Bahkan PSSI memberi batasan bagi klub untuk membayar gaji pemain dan ofisial selama ditetapkan force majeure maksimal 25% dari gaji bulanan. Sehingga pemain pun harus rela mendapat potongan gaji selama mereka tidak berkompetisi. (ije)

















