Penulis oleh A.S. Adam
BURUH batu bekerja paruh waktu, meski pemerintah mengeluarkan larangan keluar rumah. Penambangan di Sungai Gendol sepi, karena khawatir virus corona semakin mewabah.
Warga Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak, pernah resah terhadap rencana penambangan pasir dan batu, di Sungai Gendol, oleh sebuah perusahaan tambang. Penambangan di lahan seluas 5,06 hektar dianggap warga merugikan, dapat merusak sumber mata air.
Warga khawatir, jalan akan rusak karena dilewati puluhan truk yang keluar-masuk dari lokasi penambangan selama 4 tahun, 11 bulan, 600 hari masa kerja, sesuai dengan kontrak perjanjian kerja. Hasilnya, warga tetap menolak.

Sejak bencana erupsi 2010 silam, Sungai Gendol, di wilayah Ngemplak, terdapat empat mata air menjadi sumber kebutuhan air bersih dan persawahan. Mata airnya menyuburkan tanah sehingga memiliki hasil panen yang bagus. Warga was-was penambangan akan berakibat buruk terhadap ratusan keluarga di sejumlah dusun di Desa Sindurmartani.
Tambang pasir di Sungai Gendol tidak hanya berimbas buruk terhadap mata air. Tanggul sungai akan rusak jika hujan lebat. Airnya yang deras bisa menyebabkan banjir.
Waktu itu, rencananya, mulai 2016 perusahaan tambang akan mengeruk pasir. Tapi, rencana itu terhenti karena penolakan warga. Sementara waktu perusahaan tambang membatalkan niatnya. Namun, setelah situasi tenang, perusahaan itu kembali berulah.

Menurut penelitian setidaknya Merapi pernah meletus pada tahun 1587, 1672, 1822, dan 1872. Pada tahun 1822 letusan Merapi termasuk paling besar. Jangkauan awan panasnya sejauh 10-15 kilometer, meratakan Kali Blongkeng, Senowo, Apu, Trising, Gendol, dan Woro. Bahkan kawasan yang sekarang menjadi Lapangan Golf Cangkringan.
Tahun 1930, letusan Merapi memakan korban 1.369 jiwa dan 2.100 ternak. Kubah lavanya hancur. Awan panasnya hingga 13 kilometer, mengubur 13 desa sekaligus. Laharnya mengendap setebal 10 meter.
Meskipun biasanya Merapi butuh waktu lama mengumpulkan tenaga, namun para peneliti mencatat letusan Gunung Merapi yang terjadi pada Juni 2006, awan panasnya meluncur sejauh 7 kilometer ke arah Kali Gendol. Dua orang tewas terjebak awan panas. Sontak membuat warga Kaliadem mengungsi.
Naryo, warga Kopeng, Cangkringan, Sleman, tak punya pilihan. Berdiam diri di rumah sama halnya membiarkan keluarganya kelaparan. Tidak ada yang menjamin kebutuhannya sehari-hari. Padahal masih banyak yang harus dicukupi. Bekerja sebagai tukang batu, sementara menjadi solusi terbaik di saat situasi “lockdown”.
Naryo hampir berusia 70 tahun. Ia masih kuat membelah batu seorang diri. Tangannya tak lagi merasakan sakit terkena pukulan palu. Naryo lebih sakit jika tak bisa menafkahi istri dan anak-anaknya.
Bagi sebagian masyarakat di kaki Merapi, pasir dan batu merupakan sumber dan berkah penghidupan. Meski kadang harus menanggung resiko bahaya Merapi, untuk dapat menyambung hidup, mereka turun ke Sungai Gendol. Pasir dan batu di jalur lahar, di kawasan rawan bencana (KRB), adalah harta karun.

Giyatmi (32), istri Supriyanto (38), anak perempuan Naryo, merapikan batu bahan nisan. Setiap hari, batu yang sudah dibelah dan diukur, yang siap dipermak, butuh sedikit penatahan agar terbentuk rapi.
Sang menantu, Supriyanto, harus bekerja keras menafkahi istri dan anak-anaknya. Sebagai suami, ia berprinsip: bekerja dengan ihlas dan sabar, akan ada hasilnya.
Batu-batu yang sudah terbelah segera diolah sesuai pesanan. Supriyanto menggunakan alat-alat bertenaga listrik. Ia lebih beruntung ketimbang mertuanya yang masih menggunakan cara lama untuk membelah batu. Tapi Naryo lebih berpengalaman dari anak dan menantunya. Ia ahli memecah batu.
“Ini pekerjaan berat,” kata Naryo. Terus-menerus memukuli batu, membelah, dan membentuk kotak persegi panjang. Tidak semua orang sanggup melakukannya.
“Di rumah, kami tidak bisa bekerja,” ujar Naryo.
Sehari, Naryo dapat mengantongi uang 50 ribu rupiah dari setiap batu berbentuk kotak yang selesai. Tengkulak membelinya dengan harga 100 ribu rupiah per batu. Itu pun rejeki macan. Namun jika sedang banyak pesanan dapur bisa awet mengepul.
Naryo, anak dan menantunya, bekerja dari jam 07.00-12.00 WIB. Sebab di atas jam dua belas siang, alam dan cuaca mudah berubah. Naryo hapal betul waktu-waktu berbahaya di Sugai Gendol.
Tapi rasa takut mereka tidak bisa disembunyikan. Para buruh batu tetap waspada sewaktu-waktu terjadi erupsi Merapi.

Wilayah Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kaya akan potensi pasir dan batu. Akibatnya marak kegiatan penambangan.
Merapi tidak hanya memuntahkan lahar dan awan panas, namun juga jutaan kubik material vulkanik. Pasir dan batu menjadi rebutan perusahaan tambang. Harus ada pengkajian serius terhadap dampak buruk penambangan pasir dan batu di Sungai Gendol.
Misalnya upaya mitigasi dan mengetahui tingkat kerusakan lahan serta risiko banjir lahar akibat penambangan di Sungai Gendol.
Kajian untuk mengetahui dan mengatasi pengaruh kerusakan lahan terhadap risiko banjir lahar juga penting dilakukan. Ini guna menghindari kerusakan lingkungan pada Sub-DAS Gendol, yang nisa berakibat buruk pada lahan produktif. Salah satu dampak paling buruk adalah risiko banjir lahar.
Diberlakukannya Social Distancing karena mewabahnya virus corona mengakibatkan perekonomian masyarakat di kaki Gunung Merapi lumpuh.

Belakangan, setelah dinyatakan darurat wabah corona, aktivitas penambangan pasir di Sumgai Gendol terlihat sepi. Hamya beberapa orang terlihat mengumpulkan pasir dengan cara tradisional. Mereka adalah warga sekitar Gunung Merapi.
Di bagian lain, masih di lokasi penambangan, beberapa orang terlihat di sekitar kantor perusahaan tambang. Mereka mengamati kami yang baru saja akrab. Sedekat dua jari yang ditempelkan.
Jalan menuju lokasi tambang cukup curam dan terjal. Jarak dari jalan lintas truk yang tidak beraspal ke lokasi tambang, yang juga menjadi jalur jeep lava tour, lebih-kurang sekira 400 meter. Cukup ekstra hati-hati untuk bisa sampai ke dasar Sungai Gendol. Kendaraan berat mungkin masih dapat melintas. Tapi tidak untuk sepeda motor biasa.
Kawasan Sungai Gendol tidak hanya berpotensi longsor. Sewaktu-waktu tiada kabar bisa datang banjir. Naryo dan buruh batu lainnya sudah hapal pertanda bakal banjir.
“Janjane nggih ajrih, ning nggih pripun malih, kudu ngenten niki (Sebenarnya kami juga takut, tapi mau gimana lagi, harus begini),” ujar Naryo.
Kata Naryo, biasanya para penambang segera menyelamatkan diri jika terdengar suara gemuruh yang menjadi pertanda datang banjir. Mereka akan menyingkir, berlari ke tempat yang lebih tinggi.
“Pripun nggih, weteng kudu diisi. Lha mangkih yen mboten kerjo mboten saget mangan (Gimana ya, perut harus diisi. Kalau tidak bekerja nanti tidak makan),” kata Sri Utami, istri Prawoto, warga Tegalsari, Karangmelok, Cangkringan, Sleman, DIY.



Prawoto dan istrinya tidak punya pekerjaan lain. Mereka juga buruh batu di Sungai Gendol. Kulit mereka kering dan bersisik. Itu karena terik matahari bersamaan angin dingin menghantam tubuh mereka. Kedua tangan mereka terdapat bekas-bekas luka. Tapi tangan kiri Sri terlihat berdarah.
Pukulan palu yang meleset berkali-kali menyasar tangan. Terluka kena tatah dan palu, katanya makanan sehari-hari. Sri terus memahat batu dengan kuat meski matanya terlihat berkaca-kaca.
Begitu pun suaminya, Prawoto, luka tangannya yang mengering kembali basah darah. Prawoto menyembunyikan kesedihannya. Sesekali pukulannya berhenti. Nafasnya pendek-pendek. Beberapa saat kemudian Prawoto kembali meneruskan pukulan palunya.
Prawoto harus berhati-hati dan selalu memperhatikan batunya yang ditatah. Begitu juga istrinya, Sri.
Batu yang ditatah harus presisi dengan ukuran 120 cm x 45 cm. Prawoto dan Sri, juga harus rajin mengukur ulang menggunakan meteran agar panjang dan pendek batu yang dibuatnya mendekati sempurna.
Tapi Prawoto mengeluhkan peralatannya yang sederhana: hanya palu dan tatah bekas.
“Yen alate ngene iki sedino ming dadi siji (Kalau peralatannya begini sehari hanya dapat satu),” selorohnya.
Suami istri itu tahu risikonya bekerja sebagai buruh batu. “Yo ora mungkin mas oleh bantuan (tentu saja mustahil mas mendapatkan bantuan),” kata Prawoto.
Barangkali bisa dibantu, tapi siapa yang mau? Pertanyaan itu muncul dari lisan pesimis. Peralatan lengkap khusus tatah batu saja tidak terbeli, katanya, kami hanya menggunakan tatah dan palu bekas.
“Kene iki ming wong cilik, nek ora kerjo yo ora oleh opo-opo (kami ini hanya orang kecil, jika tidak keras bekerja tidak dapat apa-apa,” kata Prawoto.
Prawoto hapal betul jenis-jenis batu yang keras dan lunak. Paham dengan kualitas batu.
“Mben watu kuwi nduweni pori-pori. Ono sing rapet, ugo ono sing ora (setiap jenia batu punya pori-pori, ada yang rapat juga renggang),” katanya sambil menunjuk batu dengan jenis yang berbeda-beda.


Karantina mandiri di hampir semua tempat di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19 sangat berdampak bagi Prawoto dan istrinya. Padahal dapurnya juga harus terus mengepul.
Sri mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Apalagi sembako gratis. Sedangkan sembako harga murah pun ia tak dapat. Bagi Sri, bisa bertemu dengan penulis adalah kesempatannya bercerita, mengadu, dan berkeluh-kesah.
Sama halnya Naryo, Supriyadi dan Giyatmi. Mereka pun senang dapat bercerita dengan penulis. Harapan mereka sederhana: bisa menyambung hidup, dapat makan bersama keluarga sudah bersyukur.

Larangan beraktivitas di luar rumah tidak hanya berimbas kepada orang-orang kota. Di pedesaan di Sleman, juga banyak yang dirugikan. Tapi mereka diam—meskipun tidak ada jaminan ekonomi untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka harus bekerja dan menggaji dirinya sendiri. “Urip ora obah ora mamah (hidup tidak bergerak tidak makan),” ujar Wagimin, warga Jambu, Kepuharjo, akrab dipanggil Wagimin Cebol.
Wagimin berpikir sederhana, untuk bisa makan orang harus bekerja. “Kalau tidak cari uang, ya tidak bisa makan,” katanya.
Wagimin yang tinggal di desa pun tahu akibat larangan keluar rumah. Ekonominya morat-marit akibat virus yang mewabah. Ia sadar penutupan lokasi penambangan dimaksudkan agar virus corona tidak menular ke lokasi tambang.
“Penutupan lokasi penambangan pasir sudah ditutup dalam sepekan ini,” beber Wagimin. Ia tidak tahu kapan lokasi tambang akan kembali dibuka. Sebab, tidak ada kepastian kapan darurat wabah corona dinyatakan rampung.
Terdesak kemiskinan bukan soal remeh-temeh. Sebagai penambang pasir lokal, Wagimin mengeluh rugi dan terjepit. Meski sebenarnya ia juga takut wabah corona.
Mengambil pasir secukupnya—tidak serakah—menjadi prinsip orang-orang di kaki Gunung Merapi. Tidak seperti perusahaan-perusahaan tambang yang kemaruk mengeruk pasir. Bagi mereka sekadar dapat menyambung hidup sudah berkah.
Sebelum virus corona pasir yang didapat cukup lumayan. Dalam sehari bisa dapat tiga hingga empat colt pickup. Semenjak darurat wabah corona, pasir hanya bisa terangkat satu hingga dua rit.
Per satu rit dibandrol 150 ribu rupiah, hanya khusus dijual kepada warga lokal di sekitar Merapi. Di pasaran per satu rit pasir harganya bisa 300-an ribu rupiah.
Wagimin berharap, wabah corona segera berakhir agar perekonomian masyarakat di kaki Gunung Merapi dapat pulih kembali. (*)
FORNEWS OFFICIAL
instagram:
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja

















