PRABUMULIH, fornews.co – Komunitas Musik untuk Lingkungan Hijau (Mulih) Kota Prabumulih, berempati untuk merubah kebiasaan masyarakat setempat yang masih buang sampah ke sungai.
Untuk menjaga lingkungan terutama di daerah aliran sungai (DAS) Kelekar, komunitas yang digerakkan oleh Oni Selamat, Nata Medianto, dan Doni Sefriansyah, itu tidak hanya menyerukan larangan buang sampah sembarang, tetapi juga melakukan penanaman pohon produktif berupah pinang di bantaran sungai, Minggu (15/07).
“Ada banyak aksi yang dapat dilakukan untuk memulihkan ekosistem Kelekar. Yang paling penting adalah memulihkan cara pandang masyarakat terhadap sungai lebih dulu. Misalnya, dengan mengubah pandangan bahwa sungai bukan tempat pembuangan sampah, atau memandang bahwa tepian sungai adalah ruang terbuka hijau yang memiliki banyak fungsi dan perlu dijaga alamnya, dan lain sebagainya,” ujar Oni alias Ondet.
Bagi Oni dkk, pemilihan lokasi penanaman juga didasari histori. Tepian sungai Kelekar yang ditanami berada di lokasi yang dulu menjadi pangkalan atau pemandian warga Prabumulih, ketika sungai Kelekar masih sangat bersih. Ada di kawasan Dusun Prabumulih, tepatnya di belakang eks kompleks SMP Yayasan Pendidikan Kerja.
Pinang (Areca catechu) dipilih sebagai tanaman penghijauan karena berbagai pertimbangan. Selain manfaat buah dan batangnya, estetika, akarnya yang kuat sehingga tak mudah tumbang, bibit pinang mudah dicari, gampang tumbuh, serta mudah dirawat. Cocok untuk penghijauan.
“Tanaman ini akan menguatkan pinggiran sungai Kelekar agar tak mudah terbis atau longsor,” timpal Nata.
Menurutnya, penanaman pinang atau tanaman lokal lainnya di tepian sungai Kelekar perlu dilakukan terus-menerus. “Anggap saja sedekah oksigen. Nanti kita semua yang menerima manfaatnya. Semakin hijau semakin banyak racun (polutan) di udara yang bisa dibersihkan,” imbuhnya.
Syamsul Asinar Radjam, praktisi agroekologi dari Institut Agroekologi Indonesia (INAgri) memandang aksi-aksi nyata yang dilakukan di tingkat lokal semacam ini merupakan gerakan agroekologi perkotaan yang perlu terus digalakkan.
Dua pekan sebelumnya, sekelompok anak muda dari Komunitas Pecinta Kelekar menghijaukan tepian sungai Kelekar dengan karamunting (Melastoma affine), tumbuhan lokal yang banyak dijumpai di Prabumulih.
Ke depan, aksi nyata di tingkat lokal bukan tidak mungkin akan membesar dan melibatkan lebih banyak komunitas atau komponen masyarakat kota Prabumulih lainnya. Sebuah prakarsa bisa saja kecil, tapi Tuhan punya cara untuk memperbesar dampaknya. (bas/rel)

















