JOGJA, fornews.co — Koperasi Seniman dan Budayawan Daerah Istimewa Jogjakarta (KOSETA) menggelar aksi solidaritas kemanusiaan bertajuk “Pray for Sumatra”.
Aksi KOSETA itu sebagai respons atas bencana alam yang melanda Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat.
Ketua Panitia, Satria Wibowo, menjelaskan penggalangan dana ini tidak hanya untuk membantu kebutuhan ekonomi, tetapi juga sebagai dukungan moral bagi para pelajar dan mahasiswa perantauan dari keluarga terdampak langsung bencana.

“Donasi berasal dari beragam unsur masyarakat, mulai dari seniman, budayawan, komunitas, hingga individu yang memiliki kepedulian terhadap isu kemanusiaan,” ujarnya.
Setidaknya KOSETA telah berhasil menggalang dana sebesar Rp13.130.000 yang ditujukan khusus bagi pelajar dan mahasiswa asal daerah terdampak yang saat ini menempuh pendidikan di Jogjakarta.
Dana diserahkan secara simbolis kepada empat perwakilan organisasi mahasiswa, yakni PLT IKPM Sumatera Barat, Asrama Mahasiswa Merapi Singgalang, BEM Universitas Mahakarya Asia, dan Taman Pelajar Aceh.
Penyaluran bantuan dilakukan dalam bentuk uang tunai agar dapat digunakan secara fleksibel sesuai kebutuhan riil oleh para penerima.
Ketua KOSETA, Sigit Sugito, menilai aksi yang dipusatkan di rumah Sapto Hudoyo tersebut sebagai bentuk nyata peran kebudayaan dalam merespons krisis sosial.
Menurut dia, seni dan budaya memiliki kekuatan untuk membangun empati, nasionalisme, serta solidaritas lintas wilayah.
“Indonesia Raya adalah pengingat bahwa penderitaan di Sumatera adalah panggilan nurani kita bersama,” ungkapnya.
Sigit juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kota Jogjakarta terhadap berbagai kegiatan KOSETA, termasuk fasilitasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY pada agenda sebelumnya.
Ia menambahkan, KOSETA tengah merancang kerja sama kebudayaan dengan Universitas Ahmad Dahlan guna memperluas jangkauan aktivitas seni, khususnya di wilayah Jogja Selatan.

Yani Sapto Hudoyo selaku tuan rumah menegaskan pentingnya menjaga empati kebangsaan.
Ia menilai musibah yang dialami masyarakat Aceh dan Sumatra merupakan duka kolektif seluruh bangsa Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua KOSETA sekaligus Sekretaris kegiatan, Prill Huseno, memaparkan kondisi di daerah terdampak bencana masih dalam kondisi memprihatinkan.
Curah hujan tinggi, banjir berulang, serta kerusakan lingkungan menyebabkan krisis air bersih dan meningkatnya risiko gangguan kesehatan.
Menjelang bulan Ramadan, kebutuhan mendesak meliputi air layak konsumsi, perlengkapan ibadah, pakaian dalam, serta alat sterilisasi air.
“Di Aceh sendiri, dampak bencana tercatat meluas hingga 14 kabupaten,” bebernya.
Aksi Pray for Sumatra ditutup dengan pembacaan puisi dan pertunjukan seni sebagai simbol harapan dan kebersamaan menghadirkan Mustofa W Hasyim dan Asmariah.
Melalui kegiatan ini, KOSETA menegaskan posisinya sebagai komunitas budaya yang tidak hanya bergerak di ranah seni, tetapi juga aktif dalam aksi kemanusiaan dan kebencanaan.

















