PALEMBANG, fornews.co – Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi Badan Restorasi Gambut (BRG), Suwignya Utama mengatakan, pembangunan infrastruktur pembasahan ekosistem gambut selama 2018 melalui Tugas Pembantuan (TP).
Diakui, program kerja tahun ini sedikit berbeda yakni membangun 200 sumur bor di 3 desa dalam Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), guna mengantisipasi kebakaran lahan dan berpotensi menghantarkan asap ke Palembang.
Selanjutnya, pembangunan 604 sekat kanal di 6 Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) prioritas, pembangunan demplot revegetasi seluas 50 Ha dan penimbunan kanal di 18 titik di KHG Sungai Saleh – Sungai Sugihan, serta 16 paket model revitalisasi ekonomi masyarakat sekitar,
“Ini menjadi prioritas BRG dalam mendukung pencegahan kebakaran selama Asian Games 2018 berlangsung,” kata Suwignya, dalam keterangan persnya, Rabu (25/07).
Adapun kegiatan restorasi gambut tahun 2018 melalui Tugas Pembantuan (TP) disebutkan, akan dilakukan pada 6 KHG yang berada di Kabupaten/Kota Ogan Komering Ilir, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin dan Banyuasin dengan pendekatan 3R: (rewetting, revegetasi dan revitalisasi) ekonomi masyarakat lokal.
Lanjutnya, BRG juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan para pemangku kepentingan, untuk mensosialisasikan rencana dan kemajuan kegiatan restorasi gambut di Sumatra Selatan (Sumsel).
Masih kata dia, tidak hanya pembangunan infrastruktur, kegiatan restorasi juga akan dilakukan dengan penyiapan dan pendampingan masyarakat desa di area KHG prioritas melalui berbagai bentuk pelatihan dalam program Desa Peduli Gambut (DPG).
“Tahun 2018 BRG kembali menerapkan program DPG menggunakan 2 sumber pendanaan untuk Sumatera Selatan. Untuk pendanaan melalui APBN, DPG akan dilakukan di total 14 desa/kelurahan di Kabupaten OKI, dan Musi Banyuasin. Sementara untuk pendanaan yang bersumber dari lembaga donor, DPG dilakukan di 12 desa/kelurahan yang seluruhnya berada di Kabupaten OKI,” jelas Suwignya.
Kegiatan penelitian dan pengembangan dalam restorasi gambut di Sumdel pada 2018 juga terus dilakukan. Mayoritas penelitian akan dilakukan pada Kabupaten OKI, yang bekerjasama dengan berbagai lembaga. Di samping itu, pemantauan juga akan terus ditingkatkan melalui pemasangan alat pemantau.
“Rencana pemasangan alat pemantau Tinggi Muka Air (TMA) atau water logger di Sumatera Selatan akan dilakukan sebanyak 18 unit yang tersebar pada Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten OKI,” imbuhnya
“BRG juga tengah bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Hokkaido University menyiapkan Real-Time Monitoring System (Sesame) untuk mengetahui level muka air dan kelembapan gambut,” sambung Suwignya.
Untuk diketahui, kegiatan sosialisasi pengolahan gambut di Sumsel, akan dilanjutkan dengan kegiatan pelatihan edukasi gambut kepada para guru Sekolah Dasar (SD). Pelatihan yang merupakan kali kedua ini akan mengundang 28 guru dari 14 SD yang berada pada desa-desa yang terdampak program DPG di 2018.
Sebelumnya pelatihan edukasi gambut di 2017 mengundang 30 guru dari 15 SD. Setelah sosialisasi, BRG akan melatih para guru SD untuk menggunakan alat peraga edukasi gambut sejak dini. Edukasi gambut akan memakai berbagai jenis permainan yang bisa disisipkan dalam beberapa mata pelajaran seperti matematika, ilmu pengetahuan alam dan bahasa Indonesia. (ibr/rel)

















