Penulis A.S. Adam
MASUK antardua beringin bisa jadi mitos belaka. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, jika berhasil masuk di antara kedua pohon beringin dengan mata tertutup berarti memiliki kepribadian yang baik.
Di akhir pekan sore sekitar jam lima, saya menemui Harno di Alun-alun Kidul. Ia salah seorang warga Kecamatan Kraton yang menyewakan ikat penutup mata masangin. Sambil ngobrol santai Harno melayani wisatawan yang silih berganti menyewa penutup mata masangin. Harga sewa untuk satu penutup mata masangin Harno membandrol Rp 5000. “Tidak ada batas waktu sewa.”
Kain penutup mata masangin berwarna hitam yang didesain khusus terbuat dari kain semacam dril itu di dalam kain terdapat spon tipis. Di bagian luar kain penutup mata juga dilapisi kain lembut.

“Tidak mesti ramai meski pada hari-hari libur,” katanya.
Puluhan tahun belakangan ini peminat masangin sudah berkurang. Meski begitu, kata Harno, sejak sore hingga malam peminat masangin tetap ada. Mereka ingin merasakan sensasi melewati dua beringin kurung di Alun-alun Kidul (baca Alun-alun Selatan pen.).
Batas waktu Harono melayani sewa tutup mata masangin hanya sampai jam enam sore. Ia harus berbagi rejeki dengan teman lainnya. Sewa penutup mata masangin dibuka sejak pukul 15.00 WIB.
Sebut saja Erika, pengunjung Alun-alun Kidul yang sore itu juga menyewa tutup mata milik Harno. Ia penasaran mengapa banyak yang gagal berjalan di tengah antardua pohon beringin.
Erika sudah lama ingin mencoba masangin meski beberapa tahun lalu sejak kuliah di Yogya ia mengetahui permainan tutup mata di Alun-alun Kidul. “Penasaran saja dengan masangin.”
Erika bersama seorang temannya yang sedang berlibur di Yogya. Ia menemani temannya berkeliling menikmati tempat-tempat wisata di Yogyakarta.

Beberapa warga setempat yang memanfaatkan keramaian di Alun-alun Kidul juga sempat berbincang dengan saya. Kata mereka pada waktu-waktu tertentu ada wayang kulit di Sasono Hinggil Dwi Abad, sebuah bangunan yang berdiri pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792).
Bangunan ini dulunya juga digunakan oleh Raja untuk menyaksikan gladi bersih upacara Garebeg yang dilakukan oleh prajurit Kraton. Tidak hanya itu, raja juga menyaksikan Rampongan yakni adu manusia dengan harimau.
Namun sekarang bangunan ini telah berubah fungsi. Sasono Hinggil Dwi Abad lebih sering digunakan utnuk pergelaran seni dan pertunjukan.


Menurut kepercayaan masyarakat Jawa bisa masuk di antara kedua pohon beringin dengan mata tertutup katanya keinginannya bisa terkabul. Mitos ini dikenal dengan tradisi “masangin” yang diyakini hingga sekarang.
Permainan ini sangat digemari wisatawan saat berkunjung ke Yogyakarta.
Tapi saya tidak menemukan rajah pada dua beringin ini. Sebuah rajah tolak-bala yang dapat menghilangkan kesaktian musuh saat berupaya menyerang Kraton.
Menurut K.R.T. Waseso Winoto dari Kraton Yogyakarta, masangin yang berarti masuk antardua ringin di Alun-alun Selatan Yogyakarta mengandung makna bahwa segala cita-cita akan tercapai bila dilandasi keimanan, ketakwaan dan keistiqomahan.
“…dan atau keimanan harapan dan cinta kasih,” katanya.
Masangin muncul dari seorang putri Raja Yogyakarta sebagai upaya penolakan perjodohan dengan pria yang tidak dikenalnya. Ayahnya Sri Sultan Hamengku Buwono I menjodohkan putrinya dengan pria dari keluarga kerajaan.
Agar kegelisahan dan kerisauan putri raja tentang perjodohan yang semata-mata hanyalah politik untuk bisa menyatukan dua kerajaan tidak ingin diketahui ayahnya, sang putri pun membuat persyaratan.

Dalam mitos tersebut diceritakan Raden Yudo Rekso Raden dengan gagah perkasa mengendarai kuda jantan yang terbaik. Ia beserta rombongan diterima Sri Sultan Hamengku Buwono I di Bangsal Kencono. Mereka bercengkrama sembari menunggu kehadiran putri Raja setelah menyuruh abdi dalem memanggil putrinya. Namun semua yang berada di Bangsal Kencono terhenyak. Tidak menyangka atas persyaratan permintaan oleh putri Sultan.
Berpikir cara untuk menolak keinginan ayahnya—dengan tidak melukai perasaan—Putri Sultan pun mengajukan persyaratan: setiap pria yang ingin melamar harus bisa melewati pohon beringin kembar dari Pendopo menuju Utara Alun-alun. Kemudian harus melewati dua pohon beringin dan selesai di Pendopo Alun-alun Selatan dengan mata tertutup.
Karena prinsip pantang menyerah, Raden Yudo Rekso tetap memenuhi permintaan putri Raja. Keinginan untuk dapat meminang putri Raja Sri Sultan Hamnegku Buwono I terus bergjolak.
Semua rombongan segera menuju Alun-alun Selatan. Suasana berubah mencekam menyaksikan Raden memenuhi persyaratan itu. Dengan mata tertutup Raden berusaha melewati jalan tengah yang di kanan-kirinya ada ringin kurung. Namun keinginannya tidak terpenuhi, Raden gagal memenuhi persyaratan putri Raja. Ia justru berjalan ke timur dan tidak terarah.

Di kemudian hari, ayahnya Sultan Hamengku Buwono I kembali menjodohkan sang putri dengan seorang Pangeran dari Kerajaan Siliwangi. Kejadian Raden pun juga dialami Pangeran dari Kerajaan Siliwangi.
Dengan tenang Pangeran berjalan tegap berusaha melewati dua ringin kurung.
Kali ini tidak ada yang protes terhadap keputusan ayahnya menjodohkan putri dengan seorang pria. Malahan semua biyung mban berharap Pangeran dari Siliwangi itu bernasib baik bisa meminang Putri Raja.
“Kita lihat saja apa yang terjadi biyung emban,” ucap putri Sultan.
Tidak disangka Pangeran dari Kerajaan Siliwangi bisa melewati jalan yang di kanan-kirinya ada ringin kurung. Keyakinan hati Pangeran. Ketulusan dan kejujuran hati Pangeran, menunjukan semua persyaratan bisa dilewati. Putri Raja bahagia telah menemukan tambatan hatinya yang benar-benar terpilih.


Namun cara untuk berjalan di antara ke dua pohon beringin masih menjadi perdebatan. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana cara berjalan melewati dua beringin tersebut. Kebanyakan dimulai dengan badan diputar-putar hingga jumlah bilangan tertentu lalu melepaskannya berjalan sendiri. Tidak dituntun atau diarahkan.
Sebelum seramai sekarang ruang terbuka Alun-alun Kidul dimanfaatkan oleh warga Yogyakarta sebagai tempat berolahraga. Berjalannya waktu, Alkid berubah menjadi tempat wisata yang selalu ramai setiap akhir pekan.
Di sini pengunjung juga dapat menikmati wedang ronde, sego kucing angkringan, maninan anak-anak bagi keluarga yang membawa anak kecil, atau nongkrong menggelar tikar di tengah Alun-alun. (adam)
instagram:
FORNEWS RESMI
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















