
Penulis: A.S. Adam
MERTI Dusun merupakan wujud ungkapan rasa syukur warga terhadap limpahan rejeki, sekaligus memohon dijauhkan dari hal-hal buruk. Seperti halnya Tumplak Wajik yang biasa dilakukan setiap tahun oleh Kraton Yogyakarta. Merti Dusun yang berarti bersih desa juga bisa diartikan sebagai ketenteraman, kesuburan dan kemakmuran. Masyarakat biasanya membuat gunungan berisi hasil bumi.
Sebagai puncak Merti Dusun, Gunungan berisi berbagai macam hasil tani seperti palawija, sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil bumi lainnya, diarak oleh warga bersama sejumlah bregodo (prajurit).


Merti Dusun yang berlangsung dalam beberapa hari juga diramaikan oleh Karawitan Putri (Kembang Pulosari), Ketoprak (Eka Mudha Putra Budaya), Lomba Olah Telo, Senandung Sholawatan, Lomba Hadroh, Ziarah Kubur ke Makam Candi Mulyo Kalibogor dan Pengajian, Gelar Pentas Tari, Teater, Pentas Seni, dan nonton film layar tancap.
“Memohon untuk dijauhkan dari marabahaya dan rejeki untuk waktu yang akan datang,” ungkap Sapto Saroso salah satu tokoh di Dusun Krebet, Bantul, Yogyakarta.
Di tempat Sapto terdapat dua bregodo, yakni Jatimenggolo dan Aryo Pringgo, Priggading Guwosari, berpakaian Lombok Abang, mengelilingi Dusun Krebet.

Dusun Krebet adalah salah satu tujuan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Selain itu, kata Sapto, Dusun Krebet merupakan salah satu pusat kerajinan topeng, wayang dan ukir kayu di Yogyakarta. Berbagai souvenir dari kayu seharga 1000 rupiah hingga jutaan rupiah. Jaraknya yang cukup dekat dengan kota membuat Dusun ini sering dikunjungi wisatawan. Jika tidak terkena macet, hanya butuh waktu 25 menit.
Saroso senang karena selain bertujuan untuk menghidupi dan melestarikan warisan budaya leluhurnya, Merti Dusun diharapkan juga dapat menumbuhkan semangat masyarakat di Dusunnya.

“Ini sebagai upaya menanamkan dan menjaga nilai persatuan kesatuan di kalangan masyarakat Dusun Krebet,” kata Sapto mengakhiri pembicaraan singkat.
Pemerintah setempat menyambut baik dan memberikan apreasiasi kepada seluruh masyarakat Krebet dalam menyelenggarakan Merti Dusun. Banyak nilai-nilai yang bisa diambil dari rangkaian acara Merti Dusun, kata Bupati Bantul Suharsono. “Salah satunya adalah nilai relijius.”


Setiap tahun sekali masyarakat setempat mengadakan Merti Dusun. Di Pendhopo Sapto Sarosan, Gunungan beserta nasi kenduri dikumpulkan dan didoakan oleh tokoh adat Abdul Karim. Ritual ini cukup lama karena meliputi berbagai sambutan dan pesan dari tokoh setempat. Kemudian nasi kenduri yang sudah didoakan dimakan bersama-sama seluruh masyarakat. Warga yang sudah menunggu Gunungan dibawa ke lapangan, yang hanya berbatas jalan desa, bersiap berebut hasil bumi.
Pada malam harinya digelar wayang semalam suntuk di lapangan oleh dalang Ki Sujanto sebagai pertanda bahwa Merti Dusun telah berakhir.
















