JAKARTA, fornews.co – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyampaikan, rencana pemindahan ibu kota baru Indonesia di Pulau Kalimantan, yang wilayahnya berada di tengah-tengah, dinilai mencerminkan corak Indonesia Sentris, arah dari pemerintahan Presiden Jokowi.
“Dari sisi pertahanan udara bagus sekali,” katanya saat menjadi pembicara dialog nasional II bertema “Pemindahan Ibu Kota negara: Dampak Ekonomi, Lingkungan Hidup, dan Pertahanan Keamanan” di Bappenas, Rabu (26/06). Pembicara lain dalam dialog tersebut adalah Menteri PPN/Ka Bappenas Bambang Brodjonegoro.
Dengan posisi Kalimantan, yang berada di tengah-tengah wilayah Indonesia, relatif minim gangguan bencana alam maupun gempa bumi. Di mana ibu kota yang baru diharapkan dapat menjadi kebanggaan baru bangsa Indonesia.
Yang perlu dipikirkan ke depan dari sisi pertahanan, kata Moeldoko, bagaimana memindahkan kekuatan armada yang ada saat ini lebih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa. Sebab sambungnya, ada empat syarat yang harus diperhatikan dalam membangun calon ibu kota baru dari segi pertahanan.
“Keempat syarat itu yakni, kesiapan terhadap ancaman sumber daya nasional, anggaran, teknologi, dan kondisi geografis. Calon ibu kota baru nanti, harus siap menghadapi dua jenis ancaman: tradisional dan non tradidisional,” bebernya.
Ancaman tradisional berupa ancaman militer dari aktor negara yang ingin mengganggu NKRI. Sedangkan ancaman nontradisional berupa ancaman dari aktor non negara seperti terorisme, kriminalitas, penyelundupan obat terlarang, dan ancaman lain yang bisa menimbulkan rasa tidak aman masyarakat.
Untuk menghadapi ancaman tradisional itu, kata Moeldoko, ibu kota yang baru perlu dilengkapi dengan peralatan dan pasukan militer yang memadai. “Diperlukan aspek pendukung seperti bandara, pelabuhan pangkalan militer, akses yang mudah ke kota-kota lain, dan pusat data untuk mencegah kejahatan siber,” kata mantan Panglima TNI ini.
Selain itu, penduduk yang tinggal di ibu kota juga perlu dibentuk menjadi masyarakat yang siap siaga, tanggap, dan tangguh. Aspek lain yang perlu diperhatikan, kata Moeldoko, menyangkut lokasi. Lokasi ibu kota harus jauh dari wilayah perbatasan. “Jangan juga di wilayah yang terlalu berbukit,” ujarnya.
Sementara, Edy Prasetyono, salah satu pembahas dari Fisip UI mengharapkan, ibu kota baru nanti harus dipikirkan menjadi zona khusus. (ars)

















