Penulis: Arafah Pramasto, S.Pd (Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah)
Fasisme merupakan ideologi yang identik dengan diktator Italia, Benito Mussolini, di era Perang Dunia II. Keberadaannya selalu disandingkan dengan paham Nazisme Jerman pimpinan Hitler, maupun militerisme Jepang di sekitar masa peperangan tersebut. Akan tetapi apakah definisi maupun akar historis dari ‘isme’ atau paham Fasisme sendiri? Terlebih di saat banyaknya perdebatan-perdebatan di media sosial beberapa tahun terakhir yang disebabkan oleh perbedaan politik dan kerap membawa-bawa nama Fasisme dimana yang dinilai terlalu membawa agama dalam politik disebut “Fasis”, sedangkan lawannya kerap dituduh “Kiri” atau “Komunis”.
Perdebatan-perdebatan itu bisa saja digemborkan oleh para buzzer dengan akun-akun samaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, tapi tak bisa begitu saja diabaikan apalagi dibiarkan. Kita perlu membaca sejarah agar tak salah mengartikan istilah “Fasis”. Selain itu karena image yang dibangun bersamaan dengan kata Fasis selalu merujuk pada peristiwa Perang Dunia II seperti di atas, pengetahuan tentang keberadaan orang-orang maupun gerakan politik Fasisme-Nazisme di dalam sejarah Indonesia sendiri menjadi kerap diabaikan.
Sebelumnya kita perlu membaca lagi pengertian serta kemunculan awal Fasisme secara global dan kondisi Indonesia pada era-era tersebut.
Fasisme di Eropa, Kelahiran dan Cabangnya
Kata “Fasis” diambil dari kosakata bahasa Italia, Fascio, sendirinya dari bahasa Latin Fascis, yang berarti “seikat tangkai-tangkai kayu. Di tengah ikatan kayu itu terdapat sebuah kapak dan pada zaman kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah.[1] Sesudah dalam konteks historis-linguistik itu, Fasisme kemudian dibawa ke wawasan publik, dan hal ini merupakan peran dari Mussolini. Pada tahun 1919 dalam sebuah acara perkumpulan para veteran, para sosialis revolusioner dan calon-calon sosialis revolusioner di Milan pada bulan Maret, Mussolini mengorganisir ‘Fasci Italiani di Combattimento’ (Liga Veteran Perang Italia), menciptakan pasukan baru dan kuat di dunia politik Italia. Istilah Fascio dari bahasa Italia juga berarti ‘persatuan’ atau ‘liga’, dan mengacu pada simbol disiplin dan otoritas Romawi Kuno, hukuman standar dan wajib dilakukan sebelum orang-orang Romawi menerima tanggung jawab.[2]
Pada penerapannya, Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengagungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik serta juga otoriter sangat kentara. Pada abad ke-20, Fasisme muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan Fasisme yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan Fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi (dalam Nazisme) bahkan rasialisme dan rasisme yang sangat kuatnya. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah.[3] Memang mengenai hal ini (mengenai “tinggi-rendahnya” bangsa) ada sesuatu yang perlu kita cermati. William Ebenstein menyebut bahwa Fasisme adalah “pemberontakan besar totaliter” abad ke-20 terhadap liberalisme Barat setelah Komunisme. Di Eropa, Italia (1922) yang pertama-tama menjadi Fasis, disusul oleh Jerman (1933), dan Spanyol (1939). Bagi Ebenstein telah terang bahwa Komunisme adalah suatu bentuk sistem totaliter yang secara khas ada hubungan dengan bangsa-bangsa yang “melarat dan terbelakang” (Rusia di Eropa dan Tiongkok di Asia). Fasisme adalah bentuk sistem totaliter yang secara khas pula tumbuh di kalangan bangsa-bangsa yang lebih “berada” dan secara teknologis lebih maju (Jerman di Eropa, Jepang di Asia).[4]
Indo-Belanda sampai NSB
Salah satu dampak dari kedatangan bangsa Eropa, utamanya Belanda, adalah terbentuknya masyarakat “Indo” (campuran Belanda dan Asia / Indonesia / Mestiz). Pembentukan itu telah terjadi di masa VOC, terutama dibawa J.P. Coen yang dikenal sangat membenci prostitusi, suatu kebiasaan lumrah di tengah para pegawai bawahannya. Ia sempat mempromosikan kedatangan wanita Belanda untuk menjadi calon-calon pengantin bagi para pegawai VOC di Maluku. Nyatanya para wanita itu kebanyakan dari latar belakang kurang baik. Coen kemudian meminta pada kamar dagang VOC untuk mengirim wanita dari latar belakang baik-baik atau jika tidak ada adalah gadis-gadis dari panti yatim piatu. Namun, dalam sebuah SK tahun 1632, kompeni tidak mensponsori lagi perempuan-perempuan Eropa yang hendak datang ke Hindia. Tahun 1634 mereka bahkan membatasi sama sekali imigrasi perempuan Eropa sepenuhnya, tujuannya ialah agar tercipta “Blijvers” atau komunitas yang permanen di kepulauan. Semenjak itu secara hukum sebutan sebagai “Belanda” akan mencakup: 1) para imigran pria dan wanita asli dari Belanda, 2) Orang-orang Asia yang menjadi istri sah dari orang Belanda, 3) Anak-anak yang sah dari suami Belanda dan istri orang Asia atau wanita campuran Belanda, atau 4) Anak-anak tidak sah yang diakui, yang berasal dari bapak Belanda dan ibu orang Asia. Demi membangun sebuah koloni yang mantap, para penguasa VOC melarang emigrasi keluarga campuran ke negeri Belanda.[5]
Pengaruh kebudayaan Belanda lambatlaun makin berkurang, terutama setelah para pendatang dari Belanda memiliki semakin banyak keturunan dari pernikahan dengan bangsa Jawa. Perkawinan sejenis itu yang kian memapankan masyarakat Indo. Mereka sebetulnya sadar bahwa kebudayaan Belanda perlu tetap diunggulkan karena mereka ingin menjaga martabat/prestise sebagai bangsa penguasa.[6] Alur sejarah terus bergulir hingga kemudian VOC bangkrut dan kekuasaan atas tanah Hindia Belanda dipegang oleh pemerintah kolonial. Menjelang semakin mapannya kekuatan pemerintah jajahan di Nusantara, sesungguhnya pada paruh kedua abad ke-19 terjadi perkembangan pesat penduduk Eropa di kawasan ini.
Statistik tentang jumlah penduduk sipil memberi gambaran bahwa pada tahun 1852 terdapat 17.285 bangsa Eropa di Jawa dan 4.832 lainnya tinggal di luar pulau itu. Memasuki tahun 1900 ada 62.477 orang Eropa di Jawa serta di luar pulau tersebut berjumlah 13.356. Antara tahun 1890 dan 1920 jumlah laki-laki Eropa yang bermigrasi ke Hindia meningkat 200%, perempuan 300%. Salah satu hasil dari kehadiran perempuan Eropa ialah “Eropanisasi” pesat bagi masyarakat Hindia. Para Eropa “totok” lebih jelas membentuk lapisan masyarakat atas dan diskriminasi pun meningkat. Para Indo merasa makin gelisah dan malu tentang darah pribumi. Ini juga kurun waktu di mana golongan Indo makin dijadikan proletar.[7]
Stigma buruk mengenai “kerendahan” orang-orang pribumi dan kesan-kesan superioritas bangsa kulit putih menyebabkan paham Fasis mulai mengambil tempat di Hindia, tanah jajahan Belanda. Sejarah mencatat Kelompok Fasis pertama yang muncul di Hindia Belanda adalah saar Verbond Nederland en Indie yang didirikan oleh T.A. Ronkees Agerbeek pada tahun 1923, ia adalah bekas anggota Indo-Europees Verbond (IEV) dari Bandung. Partai binaan Ronkees adalah tiruan dari partai Fasis Italia. Pada tahun 1931, sebuah partai Fasis lainnya didirikan oleh seorang pejabat kolonial bernama J.A.A. de Bree dan dinamakan Nederlandsch-Indische Fascisten-Organisatie (NIFO). Pada tahun 1933, sekelompok anggota NIFO yang tidak puas lalu mendirikan Fascistenorganisatie in Nederlandsch-Indie (FOINI) di bawah A.J. Schoof. Selain itu ada juga kelompok Fasis pinggiran seperti Zwartfronters dan Indo-Ariers.[8] Di samping itu, sesuatu yang tak bisa dilupakan adalah di Hindia Belanda Nazi Jerman (NSDAP) telah mendirikan cabang kedua di Asia Pasifik yakni di Batavia tahun 1932. Mereka bahkan berhasil membuat Deutsche Bund (Liga Jerman) sebagai wadah utama orang maupun keturunan Jerman yang demokratis menjadi organisasi bercorak Nazi. Pada tahun 1936, selain Batavia, NSDAP mendirikan cabang di Makassar, Surabaya, Semarang, Medan, Padang, dan Bandung.[9]
Dari seluruh gerakan Fasisme yang ada di Hindia Belanda, ternyata yang datang belakangan jauh lebih terkenal. Anton Adriaan Mussert dan Cornelis van Geelkeren mendirikan Nationaal-Socialistische Beweging in Nederland (NSB) pada akhir tahun 1931. Cabangnya di Hindia Belanda dibentuk oleh Ir. J. J. van der Laaken pada penghujung tahun 1933. Gagasan NSB terpengaruh oleh Nazi Jerman. Meski pada awal berdiri anggotanya hanya 2000 orang tetapi NSB memiliki banyak simpatisan termasuk pengusaha dan pejabat tinggi. Cita-cita awal NSB adalah mendapat tempat berpijak yang kokoh pada penganut kolonialisme. Menurut mereka, jika diperlukan, maka kekuasaan Belanda di Hindia pada waktu itu harus dipertahankan dengan tangan besi. NSB mengecam sikap lunak pemerintah Belanda terhadap kebijakan politik yang dilakukan di Hindia.[10] Kaum Indo membentuk 70% keanggotaan NSB karena Fasisme (seolah) menyediakan keyakinan baru bahwa terdapat kekuatan dahsyat “di seberang” sana yang akan melindungi dan mengembalikan status kaum Indo seperti sebelum masa-masa sulit zaman depresi.[11] Namun setelah NSB di Belanda semakin radikal dan kepemimpinan di Hindia diambil alih oleh orang Belanda totok, permasalahan kemurnian ras mulai ditekankan. Orang-orang Indo hanya mendapat janji-janji muluk dari NSB sebelum akhirnya mereka dikeluarkan, karena alasan ketidakmurnian rasial.[12] NSB kemudian kehilangan banyak anggota dan semakin dimusuhi pemerintah menjelang didudukinya Belanda oleh Nazi Jerman (partai yang menginspirasi NSB).
Nazi ala Indonesia ? : PFI Dr. Notonindito
Keadaan bangsa Indonesia di masa kolonial agaknya tergambarkan dari apa yang dituliskan oleh Tan Malaka, seorang Bapak Bangsa kita, “…Tukang-tukang besi segolongan buruh yang besar gajinya di negeri-negeri lain, di Surabaya sangat rendah gajinya, tinggal seperti di kandang anjing, makanan, pakaian, dan keperluan hidup lain-lain tak cukup, hingga kekallah mereka jadi mangsa lintah darat Tionghoa dan Arab. Kita masih mendengar gaji mereka antara 30 sampai 40 rupiah. Di Surabaya yang dikenal sebagai kota dagang, gaji itu berarti sekadar penghalang agar jangan sampai mati…”[13] Dari ulasan itu kita mengerti bahwa di zaman penjajahan, para buruh tidak terjamin pemenuhan hak hidup yang layak meski tinggal di kota besar. Penyebutan Tionghoa dan Arab oleh Tan Malaka tentu bukan dalam artian rasis, akan tetapi ia mengulas fakta bahwa kemungkinan di era itu para rentenir kebanyakan dari dua etnis tersebut. Mau tidak mau, buruknya kondisi ekonomi tak jarang ikut memantik permasalahan antar- ras. Mungkin karena penderitaan rakyat pribumi Hindia Belanda, sempat muncul gagasan untuk menjayakan mereka (terutama orang Jawa) melalui jalan Fasisme.
Pemahaman ideologis Fasisme anehnya juga muncul melalui seorang pribumi Hindia Belanda. Mengapa bisa dikatakan “Aneh”? Di antara gagasan inti dari Fasisme dan Nazisme adalah kolonialisme dan superioritas ras kulit putih. Sekalipun demikian, hal tersebut tidak menghalangi sejumlah orang Indonesia untuk merangkul ideologi itu. Bahkan pada bulan Agustus 1933 didirikan Partai Fasis Indonesia (PFI) di Bandung.[15] Pendiri partai ini adalah Dr. Notonindito, putra patih Kabupaten Rembang Raden Pandji Notomidjojo. Pada tahun 1918 Notonindito menamatkan pendidikan MULO (setingkat SMP) kemudian melanjutkan pelajarannya di Telefoon Cursus di Weltevreden. Ia lalu bekerja di Dinas Telepon Pemerintah (Gouvernement Telefoon Dienst), tak lama sesudahnya ia berangkat ke Belanda untuk mempelajari ekonomi dagang. Dua tahun berikutnya ia bekerja di kantor Akuntan di Amsterdam dan tahun 1924, Notonindito berangkat ke Berlin (Jerman) dalam melanjutkan studi ekonominya : ia lulus pada bulan November meraih gelar Doktor bidang ekonomi dengan karya tulis berjudul “Sedjarah Pendek Tentang Perniagaan, Pelajaran dan Indoestri Boemipoetra di Poelaoe Djawa.” Kurang tepat agaknya mengaitkan gagasan Fasisme Notonindito karena ia pernah berada di Jerman. Ketika itu Nazi belum menjadi partai besar.[16]
Pendapat bahwa Dr. Notonindito tidak terpengaruh Nazi dari daerah asalnya (Jerman) itu juga tampak dari gagasannya. Ia cenderung pada pemikiran Mussolini yang mendambakan Italia untuk meraih kejayaan sebagaimana pendahulu Romawi mereka, Notonindito dan PFI pimpinannya juga ingin menghidupkan kembali kejayaan kerajaan Indonesia kuno macam Sriwijaya atau Majapahit.[17] PFI mempunyai gagasan untuk mendirikan federasi antar-kerajaan, bukan mendirikan negara korporasi. Notonindito menghendaki sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja, sedangkan Nazi menghendaki kekuasaan partai tunggal, yakni Nazi saja. Dua tujuan dari PFI antara lain: 1) Mendapatkan kemerdekaan Jawa dan nanti diangkat seorang raja yang tunduk kepada grondwet (undang-undang dasar) dan raja ini merupakan keturunan dari Panembahan Senopati, 2) Akan membangun suatu Statenbond (Perserikatan Negeri-negeri) dari kerajaan-kerajaan di Indonesia yang merdeka, di mana terhitung juga tanah-tanah raja atau vorstendommen.[18]
Respons negatif tentu segera menyerang keberadaan PFI, kebanyakan itu berasal dari kaum pergerakan nasional. Dr. Notonindito banyak dikecam karena dinilai mengusung chauvinisme Jawa yang malah akan memecah pergerakan nasional rakyat Indonesia. Kaum pergerakan berpendapat bahwa nasionalisme yang dibutuhkan rakyat Hindia adalah nasionalisme kerakyatan. Serangan gencar itu membuat sang pendiri PFI ragu melanjutkan kepemimpinannya. Dalam suatu wawancara ia menyangkal bahwa ia akan menjadi pimpinan PFI seperti disiarkan oleh berbagai surat kabar dengan berkata, “Boeat sementara waktoe saja masih oendoerkan diri dari kalangan staak politiek.”[19] Notonindito yang sempat menjadi anggota PNI Lama (PNI Soekarno) sebelum mendirikan PFI, kemudian hilang dari perpolitikan bersama partainya yang berumur singkat dan menghilang begitu saja. Penulis Nino Oktorino bahkan memberi gelar “Fuhrer (Pemimpin Tertinggi dalam terminologi Nazisme Jerman di bawah Hitler-Pen) Jawa yang Gagal” pada Notonindito yang mengusung “nasionalisme dilandasi jiwa priyayi dan stelsel kapitalisme.” Karena tidak mendapat banyak dukungan, partai Fasis ala Notonindito sendiri tak bertahan lama.[20]
Fasisme-Nazisme Bukan Harapan (Selamanya)
Pelajaran amat sangat berharga akan diperoleh dari sejarah Fasisme-Nazisme serta eksistensinya yang sempat “mampir” ke Hindia Belanda, sekarang Indonesia. Paham/ideologi yang telah jelas menyebabkan Perang Dunia II (World War II) itu sama sekali tidak mendapat penerimaan yang baik sejak zaman perjuangan memperoleh kemerdekaan di masa silam. Indonesia merupakan negara yang mampu menemukan jalannya sendiri dalam memperoleh kemerdekaan : ia tidak mengadopsi Komunisme maupun Fasisme-Nazisme. Nasionalisme kita adalah sebentuk pengakuan universal yang luhur pada identitas-identitas tradisional yang tidak membeda-bedakan suku maupun etnis. Justru sekarang yang menjadi fokus ialah bagaimana terus memberangus kemungkinan adanya usaha-usaha oleh oknum-oknum yang keliru dalam memandang identitas serta mengira bahwa Fasisme masih dapat menyediakan harapan kejayaan.
Kasus kaum Indo di dalam NSB ialah contoh ketidakdewasaan dalam berkehidupan sosial yang majemuk. Apabila ada seseorang maupun kelompok yang masih merasa identitasnya sebagai yang “tertinggi” atau “lebih tinggi” ketimbang identitas lain, hal ini dapat disamakan dengan harapan semu golongan Indo dalam NSB. Begitu pula gagasan PFI yang meski menjunjung tinggi kultur tradisional tertentu, mereka tidak mengonversinya untuk kesatuan dan persatuan bangsa, tapi malah menggagas disintegrasi : ancaman separatisme yang pernah ataupun masih mengancam negeri ini berasal dari pandangan serupa. Fasisme-Nazisme dapat terus selalu dibendung selama diskriminasi dapat kita hilangkan dari bumi Zamrud Khatulistiwa ini. Namun semua harapan ini akan selalu pupus apabila di tingkat akar rumput tetap kita jumpai sekelompok orang yang enggan menikahkan anaknya dengan kelompok lainnya, meski seagama, karena alasan menolak “percampuran darah” serta menjaga “kemurnian ras.”
Sumber :
1.Kristeva, Nur Sayyid Santoso, Sejarah Ideologi Dunia : Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, Fasisme, Anarkisme, Anarkisme-Marxisme, Konservatisme, Yogyakarta : Lentera Kreasindo, 2015. Hlm. 77.
- Tim Narasi,The Mass Killer of the Twentieth Century, Yogyakarta : Narasi, 2006. Hlm. 170.
3.Op.Cit.
4.Ebenstein, William, Isme-isme yang Mengguncang Dunia, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 104.
5.Suyono, Capt. R.P., Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial, Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2005. Hlm. 21-22.
6.Soekiman, Djoko, Indis : Dari Zaman Kompeni sampai Revolusi, Jakarta : Komunitas Bambu, 2011. Hlm. 17.
7.Hellwig, Tineke, Citra Kaum Perempuan di Hindia Belanda, Jakarta : Yayasan Obor, 2007. Hlm. 45.
8.Oktorino, Nino, Nazi di Indonesia : Sebuah Sejarah yang Terlupakan, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2015. Hlm. 23-24.
- Ibid. Hlm. 11 – 13.
10.Srivanto, Fernando R., Kolaborator Nazi : Sepak Terjang para Simpatisan Nazi Selama Perang Dunia II, Yogyakarta : Narasi, 2008. Hlm. 3.
11.Wilson, Orang dan Partai Nazi di Indonesia : Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme, Jakarta : Komunitas Bambu, 2008. Hlm. 117.
12.Op.Cit.
14.Malaka, Tan, Aksi Massa, Yogyakarta : Penerbit Narasi, 2013. Hlm. 56-57.
15.Oktorino, Nino, Nazi di Indonesia : Sebuah Sejarah yang Terlupakan, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2015. Hlm. 37.
16.Wilson, Orang dan Partai Nazi di Indonesia : Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme , Depok : Komunitas Bambu, 2008. Hlm. 119.
17.Op.Cit.
18.Op.Cit.
19.Ibid. Hlm. 123.
20.Oktorino, Nino, Nazi di Indonesia : Sebuah Sejarah yang Terlupakan, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2015. Hlm. 37.
















