INDRALAYA, fornews.co – Cawapres nomor urut 01, Ma’ruf Amin menanggapi beredarnya sejumlah nama calon menteri pasangan calon nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga yang menyeruak di media sosial. Prabowo pun sempat menawarkan kepada masyarakat, nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk menjadi menteri di kabinetnya, saat kampanye di Jawa Barat, belum lama ini.
“Boleh saja, namanya juga orang kepingin, kalau saya terpilih harus begini-begini,” kata Ma’ruf Amin menjawab pertanyaan wartawan di sela kunjungan ke Pondok Pesantren Al Ittifaqiah, Indralaya, Ogan Ilir, Jumat (29/03).
Namun secara pribadi, Amin memilih lebih baik dirahasiakan dan menunggu hasil Pemilu. “Kalau kita sih tunggu saja, dirahasiakan saja. Mungkin Pak Jokowi sudah ngangen-ngangen siapa dan siapa (calon menteri). Tapi tidak perlu dikeluarkan sekarang, kerja dulu, menang dululah, menang aja belum,” tuturnya.
Beberapa waktu lalu memang sempat viral di media sosial Twitter, sebuah foto secarik kertas bertuliskan opsi calon menteri Kabinet Indonesia Adil Makmur dan menyebar luas di berbagai media sosial. Sejumlah nama-nama petinggi Badan Pemenangan Nasional (BPN) dituliskan menduduki kursi menteri strategis. Misalnya, Fuad Bawazier dan Djoko Santoso. Opsi calon menteri tersebut tentunya jika Prabowo-Sandiaga memenangkan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.
Selain itu, menanggapi pernyataan dari kubu Prabowo-Sandiaga, kalau kartu-kartu sakti yang diprogramkan Jokowi-Amin, hanya bohong-bohongan, Kartu Prakerja yang mulai dikampanyekan pasangannya, misalnya.
Dalam hal ini, Amin mencontohkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang menjadi program Jokowi dan Jusuf Kalla. Dia menilai, program KIP berjalan baik.
“Selama ini kan berjalan baik. Sekarang supaya lebih mantap, kalau dulu sampai SLTA (SMA), sekarang (kita) tambah sampai kuliah,” ujarnya.
Dengan KIP itu, imbuh Amin, sebenarnya proses wajib belajar 12 tahun itu sudah terpenuhi. Masyarakat juga tidak takut lagi putus sekolah di tengah jalan karena ada program KIP.
“Kartu itu mempermudah, karena apa, masyarakat kita ini belum canggih, kalau sudah canggih, gak perlu dengan kartu, pada saatnya nanti cukup dengan aplikasi, pakai handphone saja,” terangnya.
Menurutnya, jika semua masyarakat sudah canggih dan memahami penggunaan aplikasinya, maka tidak perlu lagi pakai kartu, apalagi pakai KTP (program yang ditawarkan Prabowo-Sandiaga). “Untuk apa KTP, langsung saja aplikasi, pakai hape. Itu lebih simpel,” imbuhnya.
Di sisi lain, terkait kunjungannya ke Ponpes Al Itiffaqiah yang disambut begitu antusias oleh para santri, Amin mengucapkan terima kasih. Ia pun mengharapkan para santri menjadi kader-kader bangsa yang punya tanggung jawab besar untuk mengawal bangsa, rakyat dan agama. Sehingga tidak menimbulkan permusuhan dan menimbulkan paham intoleransi yang bisa memecah persatuan bangsa.
“Oleh karena itulah di pesantren itu mulai dibangun, bentuk bagaimana Islam yang rahmatan lil alamin. Karena pesantren itu, sebagai pembawa ajaran rahmatan lil alamin,” tukasnya.(bas)

















