PALEMBANG, fornews.co-Satu hal yang menjadi faktor kurang berperannya anak muda pada politik, lantaran masih melekatnya paradigma bahwa politik itu menyeramkan, tegang, kotor dan sebagainya.
Hegemoni atas paradigma itu terus menerus membayangi banyak anak muda, hingga pada waktu yang cukup lama.
“Jadi tugas siapa untuk mencerahkan kepada anak muda, bahwa politik itu bukan hanya dipandang dari sisi gelap saja,” ujar Ketua OKK DPD Partai Demokrat Sumsel, Firdaus Hasbullah SH, saat jadi pembicara pada Bincang Tokoh tentang Berpolitik yang Menyenangkan yang digagas Matakotaku, di Musi Mania Cafe, Minggu (30/12) malam.
Firdaus mengatakan, anak muda yang secara politik berpreferensi kepada demokrasi (keterbukaan, akuntabilitas publik, kebebasan, dan lain-lain), jika ingin secara nyata mengabdi untuk memperbaiki demokrasi, jalur parpol adalah salah satu opsi yang mungkin dan layak.
“Tapi, kurang responsifnya partai-partai terhadap preferensi dan kepentingan politik anak muda, boleh jadi salah satunya memang karena anak muda kurang bersemangat untuk berjuang di dalam tubuh partai. Sekalipun sosial media bisa diandalkan untuk beraspirasi, toh sampai hari ini parpol tetap pada fungsinya sebagai salah satu penopang sistem politik yang demokratis,” katanya.
Dengan kata lain, terangnya, sosial media bisa menjadi wadah beraspirasi, tapi agak sulit untuk menjadi tangga untuk melakukan aksi nyata. Karena, aktanya di dalam partailah kader-kader ditempa menjadi wakil-wakil pemilih. Selain itu para kader bisa mempengaruhi gerak langkah partai tersebut, baik dengan bersuara lantang di setiap pertemuan, atau dengan melibatkan diri di dalam kontestasi kepengurusan, lalu ikut duduk di tampuk pimpinan untuk menularkan ide-ide perubahan agar menjadi kebijakan partai.
“Jika anak muda memandang parpol dengan cara yang skeptis, sarang koruptor, sarang nepotisme, dan sejenisnya, dan kemudian ternyata hanya partai yang masih bisa diandalkan untuk menghasilkan kader-kader yang akan menjadi wakil rakyat dan pejabat publik, maka tak ada alasan bagi anak muda untuk melakukan perubahan dan reformasi sistem politik secara signifikan, tanpa melibatkan partai. Apatisme tak akan menjawab banyak persoalan yang dikeluhkan oleh anak muda,” terang caleg DPRD Sumsel nomor urut 1, daerah pemilihan Sumsel 6, Pali, Muara enim dan Prabumulih itu.
Apalagi, urainya, untuk mendulang sukses di dunia yang jauh dari politik pun, pada akhirnya membutuhkan sentuhan politik agar sistem yang ada bisa bergerak lebih responsif terhadap kepentingan anak muda. Jadi, anak-anak muda yang berhasil mendulang sukses di partai politik, menularkan semangat baru, dan ikut menelurkan berbagai perubahan di dalamnya, akan sangat berpotensi untuk menebar inspirasi kepada banyak anak muda lainya.
“Pesan yang harus dibangun adalah bahwa berpolitik bisa dilakukan dengan jujur, mekanisme politik di dalam partai bisa dipengaruhi dengan cara ikut terlibat di dalamnya, dan wajah partai yang masih bopeng-bopeng di mata anak muda masih bisa diperbaiki, demi kelangsungan demokrasi ke depan,” tukasnya.
Sementara, Sekretaris DPC Partai Hanura Kota Palembang, Rudy Murod menuturkan, jika harus berbicara tentang potensi anak muda berpolitik di Kota Palembang, secara kasat mata tanpa melalui survey, diera digital ini sudah banyak anak muda yang telah tercebur dalam politik praktis.
“Sebenarnya bagi anak muda politik itu memang sudah menyenangkan. Lihat saja, bagaimana mereka dulu melakukan pemilihan Ketua Osis, Senat dan sebagainya. Tentu harus berbicara banyak untuk mengkampanyekan program mereka,” tuturnya.
Hanya saja, jelas Rudy, ada memang kepentingan tertentu yang bisa membuat justru politik itu menjadi sebuah yang menakutkan dikalangan anak muda. Jika bentuk kepentingan itu bukan hal yang kotor atau menakutkan, maka yang muncul hal-hal yang bisa membuat menyenangkan.
“Makanya kami dari Hanura sekarang diarahkan agar punya tujuan. Artinya bekerja dengan arahan arahan. Agar para kader dan caleg ini, telebih yang muda, punya tujuan yang jelas dalam berpolitik,” jelas caleg DPRD Kota Palembang, dapil Palembang 6, Nomor urut 1 itu.
Untuk membuat para peserta diskusi ini tidak jenuh, maka dihadirkan pendongeng Slamet Nugroho, yang juga menyampaikan cerpen politik di tengah-tengah bincang tokoh tersebut berlangsung. (tul)

















