PALEMBANG, fornews.co – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel melalui UPTD Museum Negeri Sumsel menggelar diskusi terpumpun kajian koleksi peralatan masak dan hidangan tradisional Sumatra Selatan. Acara digelar di aula UPTD Museum Negeri Sumsel, Senin (24/06).
Sekretaris Disbudpar Sumsel, Fitriana menilai penting bagi Sumsel untuk melestarikan dan menjaga serta mengkoleksi
peralatan masak dan hidangan tradisional Sumatra Selatan
di Museum Negeri Sumsel.
“Sangat penting itu, nanti kita koordinasikan dengan Kepala Museum Negeri Sumsel H Chandra Amprayadi terkait koleksi peralatan masak dan hidangan tradisional Sumatra Selatan. Terutama kontennya, apakah mau dilengkapi koleksi-koleksinya atau bagaimana,” katanya.
Pun demikian, Fitriana berujar semuanya tergantung dengan anggaran terutama dalam menambah koleksi Museum Negeri Sumsel.
“Memang perlu duduk bersama dulu dengan para sesepuh yang tahu dengan kekhasan daerah 17 kabupaten/kota,” katanya.
Sementara itu, Kasi Koleksi dan Konservasi Museum Negeri Sumsel, Kurator Museum Negeri Sumsel dan tim ahli cagar budaya Provinsi Sumsel Syamsudin mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari pengelolaan koleksi museum salah satunya kegiatan diskusi terpumpun di samping kegiatan-kegiatan lain seperti penulisan buku, inventarisasi dan kajian-kajian lainnya.
“Jadi diskusi terpumpun ini terkait koleksi museum, terkait dengan pembahasan lanjutan terkait dengan nilai sejarah dan nilai budaya, nilai sosial politik dan pariwisata itu merupakan pengembangan dari fungsi koleksi itu sendiri ,” katanya.
Dia menerangkan, peserta diskusi ini dari berbagai kalangan yang berkompeten dari Balai Arkeologi Sumsel, kalangan akademis dan sebagainya.
“Koleksi museum ini terdiri dari 10 jenis , kebetulan kita membahas etnografika terkait peralatan memasak. Pembahasan selanjutnya kita akan membahas tradisi megalit, rumah limas, naskah ulu. Banyak tema yang kita angkat dalam diskusi ini untuk melengkapi data koleksi museum yang tadinya tidak lengkap, jadi kita lengkapi dengan berbagai nara sumber yang data dan juga menjadi bahan publikasi museum. Kalau orang-orang menulis buku bisa menjadi referensi mereka dan bisa menjadi bahan penelitian,” katanya.
Hingga kini koleksi di Museum Negeri Sumsel mencapai 7018 buah dan sangat sulit melengkapi koleksi museum tanpa adanya anggaran yang pasti.
“Koleksi kita belum lengkap, masih jauh dari sempurna. Di museum nasional apalagi jumlahnya mungkin puluhan ribu, kalau kita baru 7018 apalagi museum nasional, ini menjadi tugas kurator untuk melengkapi data-data itu , tapi kurator museum hanya ada satu , idealnya harus ada 10 , setiap klasifikasinya satu orang satu , saya hanya satu menghandel semua jenis koleksi enggak mungkin , disiplin ilmu saja cuma sejarah, saya terkait arkeologi dan historika,” katanya.
Menurutnya di Sumsel hanya ada dua kurator museum, dirinya dan Nyimas Ulfa di Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II.
“Keterbatasan koleksi menjadikan tidak maksimal kegiatan, seperti untuk pameran ,” katanya.(bas)

















