PALEMBANG, fornews.co – Sikap toleransi antarumat beragama di Sumatra Selatan patut diacungi jempol. Untuk beribadah, masyarakat tak mengenal umat agama mayoritas atau minoritas.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Rohaniawan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Budi S Tanuwibowo di sela-sela peresmian kelenteng Kong Miao di dalam komplek Jakabaring Sport City (JSC), Kamis (11/07). Menurut Budi, besar kecilnya jumlah pemeluk agama di Indonesia, tidak lantas menjadi dasar untuk melakukan diskriminasi.
“Ini membuktikan bahwa Sumatra Selatan benar-benar berlaku adil bagi setiap warga negara. Besar kecil jumlah umatnya tidak menjadi alat untuk mendiskriminasi, dan ini buktinya,” ujar Budi sambil menunjuk enam rumah ibadah yang berdiri secara berdampingan di JSC.
Budi mengatakan, berdirinya enam rumah ibadah secara berdampingan merupakan cermin dari keanekaragaman Indonesia. Dimana dalam keanekaragaman itu dapat berjalan beriringan dengan mengedepankan sikap toleransi.
“Mudah-mudahan semua bisa berperan sebagai alat perekat seperti air yang merekatkan kita,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin menyatakan rasa syukur karena di JSC keenam agama yang secara mayoritas dipeluk oleh bangsa Indonesia telah mempunyai rumah ibadahnya masing-masing. Menurutnya, ini merupakan upaya pemerintah dalam memfasilitasi kebutuhan umat untuk bisa memiliki rumah ibadah, khususnya pada kesempatan ini umat Konghucu.
“Seperti kata Gubernur, intinya adalah Pemerintah baik pusat maupun daerah selalu berupaya memfasilitasi kehidupan keagamaan masyarakatnya, salah satunya menyediakan rumah-rumah ibadah,” tukasnya. (irs)

















