SERDANG BEDAGAI, fornews.co – Sejumlah petani sawit dari Kabupaten Muba melakukan studi banding ke Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatra Utara. Mereka ingin belajar tentang pengolahan limbah batang sawit menjadi gula merah.
Rombongan petani dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Muba Beni Hernedi. Mereka disambut Sekretaris Daerah Kabupaten Sergai, Hadi Winarno di Aula Kantor Bupati Sergai, Rabu (24/07).
Wabup Beni turut didampingi yang Kepala Dinas Perkebunan Muba Iskandar Syahrianto, Camat Sungai Lilin Emilia Aprilita, para petani pengurus KUD Kecamatan Sungai Lilin, Lais, Batang Hari Leko, PT Perkebunan Nusantara VII, dan PT Hindoli.
Pada acara Selayang Pandang, Beni mengatakan kunjungan mereka atas dasar ketertarikan Pemkab Muba atas pengolahan batang sawit menjadi gula merah yang dilakukan Kabupaten Sergai. Ia menginginkan hal tersebut dapat dilakukan dan dikembangkan juga oleh petani sawit di Bumi Serasan Sekate.
“Kami ke sini ingin belajar tentang itu dan mengharapkan kerja samanya. Karena masyarakat di kabupaten kami juga banyak yang berusaha dari sektor perkebunan sawit,” kata Beni.
Pemkab Muba, imbuh Beni, dalam mendukung petani sawit saat ini tengah menjalankan program peremajaan sawit rakyat yang telah diresmikan tahun 2017 lalu oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.
“Ke depan kami akan mengembangkan pengelolaan sawit menjadi bahan bakar hayati (Biofuel),” ujar Beni.
Sementara itu, Sekda Sergai Hadi Winarno mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada Pemkab Muba yang telah berkunjung ke Kabupaten Sergai.
“Pada kesempatan ini kami berharap masukan juga, mengingatkan kabupaten kami merupakan kabupaten yang terhitung muda baru berusia 16 tahun,” ujarnya.
Terkait keinginan Muba tersebut, Kabid Litbang Bappeda Sergai, Budi mengatakan, penemuan gula merah yang terbuat dari air nira pohon kelapa sawit telah banyak dilakukan pengrajin gula sawit sejak lima tahun lalu di Kabupaten Sergai.
“Oleh sebab itu, kami mencoba mengembangkan metode pekerjaan dari sifat pembuatan dari cara tradisional ke sistem menggunakan mesin-mesin/mekanik, dengan melakukan penelitian terhadap produktivitas dari pohon sawit menghasilkan gula merah secara optimal,” tuturnya.
Lanjutnya, saat ini cara pembuatan gula sawit yang banyak dilakukan masyarakat setempat/pengerajin gula sawit dengan melakukan yaitu, pertama lahan kebun yang akan ditumbangkan harus rata-rata berumur 20 sampai 30 tahun dalam masa replanting atau peremajaan.
Kemudian ujung atau pucuk pohon kelapa sawit dikupas hingga kelihatan daging bagian dalam umbut atau ujung batang pohon tersebut. Setelah dikupas lalu diiris- iris umbut tersebut atau istilah dideres sehingga mengeluarkan air nira yang ditampung dengan ember plastik.
“Proses pembuatan dari air nira ke gula merah sawit selama 5 jam perebusannya dengan komposisi 1 kuali besar air nira sebanyak 50 liter akan menghasilkan antara 15 kg ke 20 kg gula sawit, tergantung kualitas pohon sawit yang ditumbang dan akan memerlukan 3 m2 ke 4 m2 kayu bakar/rambung,” pungkas Budi.
Setelah disambut di Kantor Bupati Sergai, rombongan Wabup Muba melanjutkan kunjungan ke tempat produksi gula sawit di Desa Melati, Kecamatan Perbaungan.
Usai melihat proses pengolahan batang sawit menjadi gula merah, Ketua KUD Sejahtera Kecamatan Babat Toman, Thamrin mengatakan, apa yang dilakukan warga Sergai sangat efektif menambah pendapatan dari pengolahan limbah batang sawit.
“Hal ini juga bisa dilakukan di tempat kita, apalagi kita ada program peremajaan sawit. Jadi batang sawit yang ditumbangkan masih ada nilai ekonomisnya,” kata Thamrin.
Sebelumnya, para rombongan studi banding juga sempat meninjau proses pengambilan kecambah bibit sawit di PT Socfin Indonesia.(bas)
















