PALEMBANG, fornews.co – Direktur Aneka Energi Baru dan Terbarukan Kementerian ESDM, Harris mengatakan, Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang kini tengah dikembangkan di Indonesia, baru sekitar 2% yang bisa dimanfaatkan atau yang sudah di-convert menjadi listrik.
“Energi baru dan terbarukan yang bisa kita manfaatkan itu, berapa yang sudah di-convert menjadi listrik, untuk saat ini baru ada sekitar 8.000 atau 9.000MW (Megawatt), potensi EBT itu bisa kita kembangkan, itu baru sekitar 2% terhadap total potensi yang kita punya, dan target kita adalah 23% pada tahun 2025. Kalau pembangkitnya sekitar 45.000MW, yang kini coba akan kita kembangkan sampai dengan tahun 2025, itu bagian dari 23% tadi,” kata Harris usai mengahadiri peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 2MW Jakabaring, Palembang, Sabtu (30/06).
Sementara itu, PLTS 2 MW Jakabaring Palembang yang akan dikembangkan hingga tahun 2025, ditarget dengan kapasitas 6.400 MW. “Langkah-langkahnya (pengembangan) yang seperti ini (PLTS 2MW Jakabaring), ada juga nanti di atap-atap rumah. Kita juga berencana memasang PLTS terapung di Jawa, 200MW, mungkin tahun 2020 atau 2021 itu mulai pengerjaan konstruksinya,” ungkapnya.
Menurut Haris, Indonesia saat ini bukan hanya punya surya untuk membangkitkan listrik, namun juga punya hydro, angin dan panas bumi untuk dimanfaatkan. “Negara Indonesia adalah negara yang mempunya potensi panas bumi terbesar di dunia, kita punya 29.000MW, 40% persen dari potensi dunia,” ujarnya.
Khusus untuk angin, Haris menambahkan, pihaknya beberapa hari ke depan akan meresmikan pembangkit listrik tenaga angin terbesar di Indonesia, yakni di Singkap dengan kapasitas 75MW. “Insya Allah minggu depan diresmikan, semoga tidak ada halangan,” tandasnya. (bas)

















