
SIANG itu, suasana mendung disertai rintikan hujan (gerimis) menyertai perjalanan kami di Desa Perigi Talang Nagka, Kecamatan Pangkalan Lampam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), rasa sejuk dan suasana damai pedesaan begitu akrab. Keramahan masyarakat setempat membuat kami betah untuk berlama-lama.
Sigap tangan Rusli (45), mengikat tali ketek berwarna biru miliknya ke bibir kanal buatan Desa Perigi Talang Nangka, Kabupaten OKI. Rusli, sendiri menjadi pemandu kami untuk mengelilingi kawasan gambut bersama tim peneliti gambut dari Center For International Forestry Research (CIFOR) ke Padang Sugihan Sembokor, Kabupaten Banyuasin, Sabtu (06/05/2017).
Sangat disayangkan, belum sempat untuk mengunjungi lokasi tujuan utama, kami hanya tertahan di Desa Perigi Talang Nangka. Kawasan ini merupakan lahan gambut yang ada di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), yang sedang menjadi sorotan dunia dan dikonsentrasikan sebagai objek program restorasinya pemerintah.
“Kanal buatan dan lahan gambut inilah sumber ekonomi keluarga saya,” tutur Rusli, mengawali cerita dan membuat kami penasaran untuk terus menggali informasi sehingga terbangun komunikasi yang hangat.

Ia pun terbawa suasana dan mengenang masa kecilnya di tanah kelahirannya ini. Rusli kecil hingga sekarang, mencari ikan dengan cara memancing, menangkul dan membubu hingga mengepul batang purun untuk dibuat tikar. “Lah, di gambut ini keperluan lauk pauk kami terpenuhi,” ucap tersenyum. “Jangankan lauk pauk, alas duduk atau untuk tidur juga terpenuhi. Bahkan bisa menjadi sumber uang, karena kami memproduksi tikar yang bisa untuk dijual,” lanjutnya.
Saat asyik mendengarkan cerita pak Rusli, tiba-tiba suasana hati kami pun berubah tatkala disampaikan dengan nada lemah kalau kedua limpahan berkah dari alam itu berlahan-lahan menyusut. Alasannya, alam di desa kelahirannya itu mulai berubah, penyebabnya karena mudahnya kebakaran lahan gambut yang hampir setiap tahun, semenjak perambahan lahan gambut untuk kebun sawit di Sembokor. “Kadar air di gambut ketika musim kemarau sedikit dan mudah kering karena banyak kanal-kanal di perkebunan sawit,” katanya.
Selain itu, dampak lainnya dari kebakaran gambut membuat bahan pokok tikar purun berkurang. “Bahkan sudah dua tahun ini saya tidak mengepul purun lagi,” jelasnya lirih. Hal itu, membuat Sania (45) isteri Rusli, juga tidak bisa lagi memproduksi anyaman purun. Padahal sebelumnya, menurut Rusli, satu hari Sania bisa memproduksi satu helai tikar. “Kalau dijual satu helai tikar seharga Rp20.000,” ungkapnya sambil menatapi alam sekitarnya yang sudah jauh berubah.
Pemasukan uang, bisa juga lewat menjual bidas-bidas purun. Satu bidas seharga Rp2.000-Rp3.000. Satu bidas purun yang sudah kering, menghasilkan satu helai atau lembar tikar.

Tantangan
Berkurangnya bahan pokok purun di Desa Perigi, juga dirasakan Yahun, 48 tahun. Ia mengakui kadang harus membeli bidas purun dari desa-desa tetangga dengan harga lebih mahal, kadang mencapi Rp4.000.
Ia sadar betul, mengayam purun berlahan-lahan ditinggalkan masyarakat di Desa Perigi. Selain pengaruh berubahnya bentang alam yang berdampak minimnya bahan pokok, tantangan lainnya karena generasi muda yang tidak memiliki kempampuan untuk mengayam purun lagi. “Karena itulah, saya mengajak dan mengajarkan ibu-ibu untuk kembali menganyam purun ini,” ujarnya sambil terus mempraktekkan menganyam purun.
Dengan lincah jari jemari memainkan perannya dalam merangkai batang purun yang sudah dikeringkan, menjadi sebuah tikar atau bentuk kerajinan lainnya. Sesekali mata kami memperhatikan, susunan purun sehingga menimbulkan pola/corak pada kerajinan yang dibuat. Sangat rapi dan tersusun secara simetris. Selang seling ia menaikkan purun dengan hitungan dua di atas, dua di bawah dilanjutkan memasukan purun secara menyilang. Begitu terus sampai panjang dan lebar, hingga menjadi sehelai tikar. “Nama kelompok kami Tunas Hijau,” demikian Yahun, memperkenalkan nama kelompok yang dibentuknya.
Ia menceritakan, kelompok Tunas Hijau ini beranggota 30 orang dan berdirinya Januari 2017, lalu. Selama empat bulan ini, mereka telah mempraktekkan dan memproduksi tikar, tas, kotak tisu, toples dan kipas. “Semuanya berbahan dasar purun,” katanya.
Bagi Yahun, mengajarkan kreativitas buah tangan ini selain untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, juga untuk menjaga keseimbangan lahan gambut di desanya. “Purun itu tumbuh di lahan gambut desa, kalau masyarakat bisa memanfaatkannya, jelas nanti mereka akan menjaga gambut dengan kesadarannya sendiri. Bisa-bisa kebakaran tidak akan terjadi lagi. Yang penting itu, persediaan purun selalu ada di lahan gambut desa, jangan kalah melawan api dan perambahan perusahaan,” harapnya.
Kendala
Namun Yahun tidak menampik, mereka masih terkendala untuk memasarkan hasil produksi mereka. Dengan demikian, mereka menghasilkan buah tangan dari purun itu tergantung permintaan saja. “Kalau permintaannya ada, kami segera menyediakan. Tapi kalau membuat saja tanpa jelas pemasarannya kami sungkan juga, karena takut barang itu cuma sia-sia tersimpan,” jelasnya.
Yahun juga menjelaskan, harga barang-barang produksinya tergantung besar dan kerumitan anyaman. “Harganya ada yang Rp50.000 hingga Rp150.000 untuk satuannya,” lanjutnya.

Potensi lain
Selain purun, Ketua Gabungan Tani Perigi Bersatu Makmur Eddy Saputra menjelaskan, ada potensi lain untuk mengembangkan perekonomian masyarakat Perigi. Potensi itu gula aren dan bambu.
Menurutnya, dahulu kala desa perigi ini terkenal sebagai sentral gula aren. Namun sayang, seiring waktu, produksi gula aren itu berlahan-lahan ditinggalkan karena harga pasaran yang murah. “Harga jual kami murah, padahal harga eceran tinggi,” tutupnya. (ahmad supardi)

















