PALEMBANG, fornews.co – Bertemu Borneo FC di semifinal Piala Gubernur Kaltim 2018 dimanfaatkan Rahmad Darmawan untuk mengasah mentalitas para pemainnya menghadapi kompetisi sebenarnya.
Pelatih Sriwijaya FC Rahmad Darmawan mengatakan, dirinya bersyukur di turnamen ini bisa bertemu tim-tim besar dengan karakter permainan yang berbeda-beda. Pertama SFC bertemu Persiba Balikpapan dengan penonton yang fanatik. Lalu ada Madura United dan Persebaya Surabaya yang bermain dengan dukungan yang tak kalah semarak.
“Kali ini di semifinal kita bertemu Borneo FC yang tentunya jumlah pendukungnya lebih banyak. Namun saya bersyukur karena ini bisa dijadikan pelajaran anak-anak bagaimana mereka mengatasi tekanan suporter tuan rumah saat bermain away di kompetisi,” ujar RD pada prematch conference di Hotel Aston Samarinda, Kamis (1/3).
Mengenai persiapan besok, lanjut RD, SFC sudah siap menghadapi Borneo FC. Apalagi pemain tidak ada yang berhalangan tampil.
“Kekalahan dari Persebaya Surabaya merupakan pembelajaran bagi mentalitas pemain pascakalah harus bangkit lagi saat menghadapi Borneo FC. Kita juga pernah alami itu di Piala Presiden lalu di laga perdana kalah dari Persib Bandung, kemudian kita bisa bangun lalu kalah lagi dari Bali United dan bisa bangkit lagi di perebutan tempat ketiga. Ini situasi yang bagus untuk mengasah mentalitas pemain saya,” tutur pelatih 51 tahun ini.
Sementara itu, Pelatih Borneo FC Iwan Setiawan mengaku senang bertemu Sriwijaya FC yang kembali ditangani Rahmad Darmawan. Iwan sadar ini bukan pertandingan yang mudah. Sehingga dia meminta pemain serius dan bersungguh-sungguh menghadapi SFC.
“Kami tahu kualitas pemain Sriwijaya FC dan kami juga paham kualitas Coach RD. Jadi buat kami, disiplin, kerja keras, fokus, konsentrasi itu adalah harga mati kalau ingin meraih poin maksimal,” kata Iwan.
Selain itu, Iwan berkeyakinan dimana-mana mempertahankan gelar lebih sulit dari merebut. Sehingga mentalitas pemain harus benar-benar siap menghadapi laga krusial seperti besok.
“Saya selalu bicara mentality, psikologi, karena dalam sepak bola menurut saya yang paling penting adalah psikologi faktor,” tukasnya. (ije)

















