YOGYAKARTA, fornews.co – Kendaraan bermesin di Kawasan Pedestrian Malioboro (KWM) tidak hanya membuat wisatawan dapat menikmati suasana Jogja klasik.
Meski pedagang kaki lima (PKL) di Malioboro libur, namun setiap pengunjung di KWM dapat memanfaatkan momen Selasa Wagen sebagai sumber rejeki. Sebut saja Uud, 45 tahun, warga Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, ahli pijat yang menawarkan layanan pijatnya setiap Selasa Wagen tiba.
Dengan menggunakan sepeda onthel bertuliskan “pijet urut sak eklase” Uud menggayuh sepedanya dari Tugu Golong Gilig hingga Titik Nol Kilometer di simpang empat Kantor Pos. Ia memuji hanya sekali berputar sambil menunggu sampai tiga pelanggan yang dipijat.

Baca: Selasa Wage, Malioboro Diisi Kegiatan Seni Budaya
“Kadang dua pelanggan sudah cukup,” katanya.
Uud menyambut masih sembunyi-sembunyi membuka praktik pijat belum mengantongi surat ijin dari tempat kursus pijatnya. Jika ketahuan oleh pihak pengajarnya ia bisa kena sanksi berat.
Dalam menerima Uud harus membayar uang kursus sebesar 50 ribu rupiah untuk tiga kali pertemuan. Sebelum mengikuti kursus pijat, Uud harus menerima pesyaratan sebesar 1,5 juta rupiah. Ia kursus selama disetujui.

Baca: Uji Coba Malioboro Bebas Kendaraan
“Kadang ada yang ngasih 100 ribu rupiah,” bebernya.
Uud tidak membandrol layanan pijatnya. Setiap pelanggan membayar seihlasnya. Tapi biasanya setiap pelanggan menghasilkan uang sebesar 50 ribu.
Hotel yang direkomendasikan wisatawan. Meski harus berkompetisi dengan pemijat lain yang instan, Uud percaya bahwa keahlian yang berkualitaslah akan memetik hasil.
Setiap Selasa Upah Malioboro bebas kendaraan bermesin sejak pagi hingga malam pukul 21.00 WIB. Kebijakan ini dibuat oleh pemerintah daerah sebagai tempat pelestarian warisan budaya. Tidak hanya Malioboro, kawasan pejalan kaki juga berada di Kotabaru dan akan merembet di Kotagede. ( adam )
instagram:
FORNEWS RESMI
@fornewsofficial
facebook:
fornews.co
FORNEWS BIRO JOGJA
instagram:
@fornewsjogja
youtube:
Fornews Jogja
















