SEKAYU, fornews.co – Bagi penderita hernia, batu empedu dan obesitas, saat ini bisa melakukan operasi laparoskopi di RSUD Sekayu.
Dengan adanya layanan operasi laparoskopi, maka sangat menguntungkan pasien di Sumsel, khususnya warga PALI, Mura, Lubuklinggau dan RSUD Muratara akan lebih mudah, cepat dan dekat merujuk pasien.
“Semua kasus yang selama ini dirujuk, ya diambil alih untuk kasus batu empedu, usus buntu dan usus turun. Bahkan bila ada orang Muba yang obesitas, kita bisa operasi pengecilan lambungnya. Ini semua bisa dilakukan di RSUD Sekayu,” kata Direktur RSUD Sekayu, dr Makson P Purba MARS.
Pantauan di RSUD Sekayu hingga Minggu (27/01), sudah dilakukan tindakan operasi 6 pasien dari 14 pasien bedah onkologi. Sisanya masih mengurus administrasi.
Di antara 6 pasien yang sudah operasi, 5 pasien laparoskopi dengan bedah digestif. Pelayanan unggulan ini dinilai mampu mengatasi operasi pasien penderita hernia, batu empedu, usus buntu hingga obesitas. Teknik yang digunakan pun tergolong canggih. Tak lagi lewat teknik bedah konvensional, melainkan memakai laparoskopi.
Dengan adanya layana laparoskopi, dr Makson P Purba, mengatakan kini pihaknya mengalami peningkatan penanganan pasien penderita penyakit di atas. Dengan kata lain, operasi yang selama ini harus dilakukan di rumah sakit di Palembang sudah bisa dikerjakan di Sekayu. Alhasil, jumlah pasien yang melakukan operasi di Palembang turun drastis dan beralih ke RSUD Sekayu.
“Sabtu lalu kita lakukan dua operasi teknik laparoskopi untuk pasien penderita hernia dan pengangkatan batu empedu. Peralatan yang kita miliki sudah representatif, mulai dari kamar operasi, mesin anestesi yang update, alat laparoskopi terbaru, alat endoskopi , bronkoskopi serta alat faekoemulsifikasi semua ada. Ini semua mendukung RSUD Sekayu menjadi center of excellent , Minimal Invasif Surgery,” ungkapnya.
Makson menambahkan dengan teknik minimal invasif surgery, mutu pelayanan dan hasil yang didapatkan akan lebih baik.
Menurutnya, pasien zaman sekarang ingin melakukan operasi dengan hasil maksimal dan risiko minimal baik, itu menyangkut teknik operasi dan hasilnya. Lewat laparoskopi bekas luka operasi sangat minimal dan kecil dari sisi bentuk.
Sejak tahun 2018, RSUD Sekayu sudah rutin melakukan tindakan-tindakan laparoskopi untuk appendiktomi yaitu operasi usus buntu, tindakan cholilektomi untuk batu empedu serta herniotomi operasi usus turun.
“Beruntung, kini rumah sakit “ughang kitek” ini sudah punya sumber daya manusia mumpuni. Setidaknya ada empat dokter spesialis bedah yang sudah bersertifikasi. Nah untuk hasil maksimal kita lakukan supervisi dokter sub spesialis bedah digestif yang dikontrak part timer ke RSUD Sekayu,” tuturnya.
Di sisi lain, mengenai pelayanan kesehatan bagi warga tak mampu, Plt Kadinkes Muba, dr Azmi mengatakan, Pemkab Muba akan menjaminnya jika warga membutuhkan.
Dikatakannya, saat ini pemkab sudah mengalokasikan anggaran untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat.
“Melalui KTP dan KK warga Muba bisa dilayani. Petugas akan mendata dan mencocokkan. Kalau didata sudah masuk tinggal lakukan tindakan. Begitupun jika setelah dicocokkan datanya ternyata yang bersangkutan belum tercatat sebagai peserta BPJS langsung saja dimasukkan sebagai peserta dan dilayani. Jika ada kendala di lapangan kami siap menjelaskan dan memecahkan masalahnya,” beber Azmi.
Di RSUD Sekayu saat ini semua pasien non BPJS bisa dilayani walaupun disubsidi oleh RSUD Sekayu dalam hal BHP ( bahan habis pakai ). Untuk saat ini free bila menggunakan BPJS , tetapi seiring banyaknya kasus akan dilakukan iur biaya seperti di Palembang.
“Di Palembang peserta BPJS bila menggunakan teknik ini terkena iuran biaya Rp8-15 juta,” tandasnya.(bas)

















