Penulis: A.S. Adam
LANGIT cerah membiru. Angin pelan-pelan bersemilir. Tapi udara sedikit gerah sebab belakangan hujan kadang-kadang lebat; kadang-kadang hanya sebentar. Jika Jogja diguyur hujan lebat biasanya penjual es merugi.
Tapi tidak bagi Wagino. Barangkali karena usianya yang sudah matang, ia lebih semeleh dan nrimo. Dalam kondisi hujan ataupun tidak, adalah hal biasa yang tidak perlu ditakutkan apalagi dikeluhkan. Itu hal yang lumrah.
“Umur saya sudah hampir delapan puluh tahun,” ujarnya.
Ia memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) kepada fornews.co. Sambil melayani pembeli, Wagino bercerita, dulu sepuluh-duapuluh tahun silam tidak seperti sekarang. Banyak yang sudah berubah. Tapi dirinya tidak pernah meminta lebih. Diberi kecukupan adalah rejeki yang harus disyukuri.
Mardiutomo akrab dipanggil pak Wagino (78 tahun). Warga Yogyakarta kelahiran Bantul ini sudah puluhan tahun berjualan es dawet. Semuanya dikerjakannya sendiri. Mulai dari membuat dawet (cendol) hingga pemanisnya.
“Empat anak lelaki saya tidak mau direpotkan, sedangkan anak-anak yang lainnya sudah berkeluarga dan menetap tinggal di luar Jogja,” katanya, Kamis.
Sebelum mangkal berjualan berjarak beberapa langkah kaki di sebelah barat Plengkung Jogoboyo, pak Wagino sempat berjualan di sekitar Jalan Patangpuluhan.
Plengkung Jogoboyo kerap juga disebut Plengkung Tamansari, yaitu pintu gerbang benteng pertahanan di sisi barat Kraton Yogyakarta. Tempat ini juga merupakan kawasan Tamansari Kraton.

Dalam Bahasa Jawa, kata “jogo” berarti menjaga, sedangkan kata “boyo” berarti bahaya. Maka jika di-bahasa indonesia-kan Jogoboyo yakni menjaga dari marabahaya. Sedangkan Plengkung, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebuah pintu gerbang untuk memasuki daerah benteng kraton. Kadang-kadang ditambah bangunan melengkung yang menghubungkan kedua sisi pintu.
Sekali berjualan, mulai menjelang siang hingga menjelang sore, pak Wagino menghabiskan lima puluh porsi gelas es dawet. Irisan kecil buah nangka dan gula merah aren kental dicampur sebagai pemanisnya, ditambah santan dan dawet (cendol) cukup membuat pelanggan ketagihan. Apalagi jika siang hari sedang terik.
“Sebelum jam empat sore sudah pulang,” katanya dalam Bahasa Jawa kromo.
Dalam sekali berjualan es dawet, pak Wagino dapat menghabiskan setengah buah nangka matang berukuran sedang. Gula merah arennya bisa habis sekilo. Sedangkan dawet dan santannya bisa satu hingga dua kilo tepung tapioka dan kelapa. Yang bikin adem, adalah irisan camcaunya yang berwarna hijau.
Kepada fornews.co pak Wagino menceritakan kilas perjalanan hidupnya. Matanya berkaca-kaca. Ia harus berjuang mengurusi dan menghidupi anak-anaknya. Pak Wagino tidak menyinggung soal istrinya. Ia hanya berpanjang lebar tentang es dawet dan anak-anak lelakinya yang sulit diajak bekerja sama.
Hampir setiap pelanggan mengaku menyukai es dawet buatan pak Wagino. Rini misalnya, ia memborong hingga tiga porsi es dawet.
“Pingin aja beli tiga kok kayaknya segar,” katanya.
Sambil menggendong bayinya yang hampir berumur 5 bulan, ia mengaku baru sekali ini beli di tempat pak Wagino. Padahal setiap berangkat kerja melewati jalan Tamansari.
“Sudah banyak yang bilang es dawet buatannya bikin nagih,” ucapnya seraya naik motor dan jauh dari pandangan mata. (*)

















