
PENDOPO, fornews.co- Sudah lama warga Desa Tempirai , Kecamatan Penungkal Utara, Kabupaten PALI dibuat pusing karena bau sampah yang menyengat di kawasan tersebut. Pasalnya, tumpukan sampah terlihat di pinggir jalan di ujung desa. Menumpuk sampah-sampah tersebut lantaran tidak ada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah yang resmi dan permanen.
Kepala Desa (Kades) Tempirai Timur, Yunus mengatakan, keadaan seperti itu sudah sejak lama terjadi.”Parahnya lagi yang membuang sampah ke sini bukan hanya warga Desa Tempirai Timur saja, tapi dari empat desa yang berada disekitar yakni Desa Tempirai Induk, Tempirai Barat, Tempirai Selatan dan Tempirai Utara. Kendalanya sama, tidak ada TPA,” ucap Yunus saat dibincangi, kemarin (7/3).
Rencananya, desanya bakal menyediakan lahan untuk dijadikan TPA khusus Desa Tempirai Timur. Namun, sebelumnya bakal dibangunkan dulu tanggul selebar 10 x 10 meter dengan ketinggian 4 meter. Mengingat lahan desa yang bakal dijadikan TPA sering kena banjir apabila musim penghujan.
“Untuk mengatasi masalah itu mungkin kita akan bangun TPA menggunakan Dana Desa (DD). Masyarakat sudah setuju dan dituangkan pada berita acara rapat desa yang digelar beberapa waktu lalu. Selanjutnya kami juga minta ke Pemkab PALI untuk membantu kendaraan pengangkut sampah,” harapnya.
Sementara, Kades Persiapan Tempirai Barat, Dedi Handayani mengatakan, sebenarnya sudah ada masyarakat yang meminta lahannya untuk dibeli dan luasnya bisa menampung sampah satu kecamatan Penukal Utara.
“Letaknya berada di pinggir jalan milik PT Golden Speak, perusahaan Migas yang beroperasi di desa kami. Hanya saja kami minta kepada perusahaan baik PT Golden Speak maupun PT Medco untuk membantu memperbaiki akses jalan menuju lahan yang bakal dipergunakan untuk TPA,” katanya.
Diakuinya, dampak yang ditimbulkan membuang sampah di pinggir jalan ujung Desa Tempirai Timur sudah dirasakan masyarakat.
“Pembuangan sampah itu dekat sungai tempat pemandian masyarakat. Dan saat ini sampah sudah mengapung akibat banjir disekitar pembuangan sampah. Warga sering mengeluhkan gatal-gatal setelah mandi di sungai. Malah warga juga sering menemukan ikan-ikan yang mati, ini satu bukti lingkungan sudah tercemar” ujarnya. (son)

















