PALEMBANG, fornews.co-Sangat jarang terjadi di Indonesia, ada pemimpin daerah yang tak ingin melanjutkan roda kekuasaannya untuk periode berikutnya. Rata-rata, setiap gubernur/wali kota/bupati atau wakilnya, tetap berusaha agar kembali terpilih pada Pilkada selanjutnya.
Tapi kebiasaan tersebut, tidak berlaku bagi Wali Kota Pangkal Pinang, M Irwansyah. Sebaliknya, justru sang wali kota tidak mau melanjutkan kepemimpinannya untuk lima tahun kedepan.
Mencermati fenomena itu, Pengamat Politik dari Fisip Universitas Sriwijaya (Unsri), Bagindo Togar Butar Butar mengatakan, sebenarnya kesuksesan Irwansyah dalam memimpin Pangkal Pinang tergolong cukup baik. Itu terpantau dari pembangunan infrastruktur, pelayan publik, akses-akses kesehatan serta fasilitas umum, yang tergolong cukup baik. Selain itu, di bawah kendali Irwansyah juga Pangkal Pinang cukup menorehkan prestasi.
Bagindo mengungkapkan, bahwa ingin mengeksplor, mengapa Irwansyah tidak ingin memimpin Pangkal Pinang untuk dua periode. Karena, itukan memunculkan pertanyaan besar bagi banyak pihak. “Tapi akhirnya pelan-pelan terjawab, bahwa Irwansyah memegang komitmen dari awal yang kabarnya dihadapan 1.000 anak yatim dan kalangan santri, untuk memimpin Kota Pangkal Pinang yang hanya satu periode saja dan itu dipatuhinya,” ungkap Ketua Alumni IKA Fisip Unsri itu.
Terhadap hasrat Irwansyah yang akan maju pada pertarungan politik Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Sumsel, Bagindo menuturkan, itu masih dalam hal yang wajar dan bisa saja terjadi. Karena politik pilkada inikan tergantung rekomendasi yang dikeluarkan partai-partai pendukung dan pengusung. Ini diawali lobi-lobi dan komunikasi politik dikalangan elit politik ditingkat pusat.

Karena untuk tingkat provinsi dan ibukota sangat tergantung dengan DPP antar partai, kuncinya disitu. Tapi ketika itu sudah didapat, maka konstelasinya akan lain dan berbeda, pra dan pascakonstelasi politik itu tergantung dari strategi pemenangan dari masing-masing calon yang lolos. Selain itu, saya juga tidak melihat track record Irwansyah dari aspek politik dinasti, karena sama sekali tidak terlihat kedinastian dalam berpolitiknya,” tuturnya.
Berbeda dengan pandangan dari Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik Sumsel, Dr Andries Lionardo, yang menerangkan, Jika M Irwansyah dikaitkan pemimpin muda, sebenarnya usia bukanlah hal yang menjadi masalah. Karena, siapapun bisa memimpin birokrasi asal yang bersangkutan paham tugas pokok dan fungsi (tupoksi) nya.
“Menjadi gubernur itu bukan pekerjaan mudah, bagaimana mengatur birokrasi, melakukan reformasi birokrasi, memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, hingga tujuan dari pemerintahan daerah itu tercapai. Jadi, intinya siapapun dia termasuk tokoh-tokoh pemuda. Saya pikir punya peluang untuk memimpin, asal memiliki kompetensi, dalah konteks ini memiliki kapabilitas yang baik, bekerja untuk menggerakkan birokrasi disektor publik,” terangnya.

Tentang sosok Irwansyah, Andries menjelaskan, memang banyak tokoh pemuda yang muncul untuk berkompetisi di Pilgub Sumsel. Hanya saja, ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh para kandidat muda tersebut. Pertama kapabilitas, tokoh-tokoh yang ada tersebut harus memiliki pengalaman kerja, baik di birokrasi maupun pada organisasi lainnya. Kemudian, untuk memenangkan pilkada, ada hal yang harus dipikirkan, yaitu popularitas.
“Karena, kita bisa bekerja tapi kita tidak populer maka itu akan sia-sia. Berikutnya aspek elektabilitas, bagaimana prilaku rakyat untuk memilihnya dan ini tentu harus menggunakan strategi khusus, yang dikaitkan dengan keberadaannya di masyarakat itu sendiri,” jelasnya.
Andries melanjutkan, pemimpin muda itu adalah sebagai agen perubahan dan Sumsel sendiri saat ini sudah sangat maju. Artinya, dengan hadirnya tokoh-tokoh muda untuk meneruskan kepemimpinan tersebut, akan lebih baik.
“Karena, tantangan global kedepan membutuhkan orang-orang yang memiliki inovasi, punya kreatifitas, stamina, serta sumber daya untuk menggerakkan birokrasi untuk melayani masyarakat untuk menciptakan inovasi-inovasi baik kebijakan maupun pelayanan publiknya,” tukasnya.
Hanya saja, tambah Andries, meski calon dari kalangan muda itu potensial, tetap saja harus meningkatkan popularitas. Seberapa jauh masyarakat mengenal sosok itu dan seberapa jauh masyarakat mengetahui sosok tersebut berkiprah di daerah tersebut. “Kemudian elektabilitas sosok tersebut, dengan mengukur program yang dibuat. Karena kita juga kan belum melihat program dan visi dan misi dari calon tersebut, apakah berpeluang besar atau hanya meramaikan saja,” tandasnya. (tul)

















