Senam Poco Poco yang telah dipopulerkan sekitar akhir tahun 2000-an, kini kembali dipopulerkan. Gerakan yang timbul dari tarian poco-poco dipercaya mampu merangsang fungsi kognitif pada otak dan dapat mengurangi potensi Alzheimer atau penyakit degeneratif otak.
Hasil penelitian Dr dr Ria Maria Theresa SpKJ dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) menunjukkan jika dilakukan secara benar dan berkala, tarian Poco Poco mampu menurunkan resiko terkena penyakit demensia alzheimer dan mengaktifkan sel-sel dapat neuron otak yang pasif sampai sekitar 37,5%.
Tidak mengherankan bila gerakan Poco-poco sudah diperkenalkan di banyak negara seperti Jepang, Selandia Baru, dan Malaysia. Bahkan gerakan tarian ini menjadi menjadi salah satu topik utama pada acara Asia-Pasifik Konferensi Alzheimer Disease International (ADI) pada tahun lalu. (infonitas.com)
Alzheimer adalah penyakit degeneratif progresif otak yang menyebabkan gangguan berpikir dan mengingat serius. Alzheimer adalah bentuk paling umum dari demensia (sindrom yang terdiridari sejumlah gejala yang termasuk kehilangan memori, penilaian dan penalaran, dan perubahan suasana hati, perilaku dan kemampuan komunikasi).
Berangkat dari itu semua, Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP- PKK) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Hj Thia Yufada Dodi Reza menggerakkan masyarakat di Bumi Serasan Sekate, untuk memasyarakatkan senam Poco Poco.
“Secara sederhana, gerakan tari poco-poco ternyata mampu merangsang fungsi kognitif pada otak. Tepatnya fungsi eksekutif. Pada orang pikun, fungsi eksekutif itu cenderung melemah” ujar
instruktur senam profesional Sumatera Selatan (Sumsel) Budiman Susanti pada Sosialisasi dan Peragaan Senam Poco-Poco Nusantara Tahun 2018 di Pendopoan Griya Bumi Serasan Sekate, Sekayu, Rabu (05/09) lalu.
Santi menjelaskan, banyak manfaat kesehatan dari Poco Poco yang tidak dimiliki dari bermacam senam lainnya, karena Poco-Poco telah memiliki penjelasan riset dan medis.
“Tarian ini (Poco Poco) ternyata juga dapat mengurangi potensi Alzheimer atau penyakit degeneratif otak. Penyakit Alzheimer sebagian besar menyerang orang di atas 65 tahun,” tambahnya.
Penyakit (Alzheimar) ini pertama kali diidentifikasi oleh Dr Alois Alzheimer pada tahun 1906. Dia menggambarkan dua ciri khusus alzheimer: banyak deposit padat kecil yang tersebar di seluruh otak sehingga menjadi racun bagi sel-sel otak dan kekusutan yang mengganggu proses vital sel-sel hidup.
Sel-sel otak menyusut dan mati sehingga volume otak berkurang tajam di beberapa daerah. Penyusutan ini terus berlanjut dari waktu ke waktu sehingga memengaruhi kemampuan otak. Alzheimer berkembang dan memengaruhi area otak yang berbeda, sehingga menimbulkan beragam gangguan kemampuan dan/atau perilaku.
Kehilangan kemampuan tersebut umumnya bersifat permanen. Hingga saat ini belum ditemukan cara untuk memulihkannya. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa proses belajar kembali untuk beberapa jenis kemampuan masih mungkin dilakukan.
Penyakit Alzheimer adalah kondisi kelainan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku pada penderita akibat gangguan di dalam otak yang sifatnya progresif atau perlahan-lahan.
Pada fase awal, seseorang yang terkena penyakit Alzheimer biasanya akan terlihat mudah lupa, seperti lupa nama benda atau tempat, lupa tentang kejadian-kejadian yang belum lama dilalui, dan lupa mengenai isi percakapan yang belum lama dibicarakan bersama orang lain.
Seiring perkembangan waktu, gejala akan meningkat. Penderita penyakit Alzheimer kemudian akan kesulitan melakukan perencanaan, kesulitan bicara atau menuangkan sesuatu ke dalam bahasa, kesulitan membuat keputusan, kerap terlihat bingung, tersesat di tempat yang tidak asing, mengalami gangguan kecemasan dan penurunan suasana hati, serta mengalami perubahan kepribadian, seperti mudah curiga, penuntut, dan agresif. Pada kasus yang parah, penderita penyakit Alzheimer bisa mengalami delusi dan halusinasi, serta tidak mampu melakukan aktivitas atau bahkan tidak mampu bergerak tanpa dibantu orang lain.
Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit Alzheimer, di antaranya adalah gaya hidup yang tidak sehat, berjenis kelamin wanita, berusia di atas 65 tahun, memiliki orang tua atau saudara kandung yang sakit Alzheimer, memiliki riwayat penyakit jantung, dan pernah mengalami luka berat di kepala. (alodokter.com)
Thia Yufada (Ketua TP-PKK Muba) sebagai ibu kepala daerah, merasa bertanggung jawab akan kesehatan bagi warganya (Muba). Karenanya, ia bersama para istri-istri pejabat menggerakkan perilaku hidup sehat dengan menjaga kebukaran tubuh (Senam Poco Poco).
Ia bertekad, melalui media sosialisasi Senam Poco Poco kembali mengisi waktu luang bagi masyarakat Muba, dengan menggerakkan badan ala Poco Poco. Dari langkah awal ini, para peserta mampu dan mau menularkan semangat olahraga di daerahnya masing-masing.
“Setelah sosialisasi yang kami lakukan, diharapkan (para ibu camat) dapat mengajak warganya untuk melakukan senam sehingga dapat juga merasakan manfaat dari senam poco-poco ini,” ujar Istri Bupati Muba tersebut.
Meskipun penyakit Alzheimer menyerang lansia pada umumnya, ia berpesan agar sebaiknya kegiatan ini tak dilakukan ketika tua dan demensia sudah mulai menunjukkan gejala. “Kalau dari muda sudah olahraga teratur, kita harapkan ketika lansia tetap sehat dan bugar,” tandasnya. (*)

















