PALEMBANG, fornews.co-Kantor Wilayah Ditjen Pajak Sumsel dan Bangka Belitung (Kanwil Ditjen Pajak Sumsel Babel) mengenalkan program inklusi pada pelajar, agar menjadi wajib pajak yang patuh.
Kepala Kanwil Ditjen Pajak Sumsel Babel, M Ismiransyah M. Zainmenerangkan, program ini untukmenanamkan secara dini pentingnya peran pajak bagi pembangunan maupun kehidupan sehari-hari.Harapannya, kedepan para pelajar inidapat menjadi wajib pajak yang patuh.“Hari ini Program Inklusi Kesadaran Pajak digelar serentak di Palembang dan Bangka. Ada 20 sekolah dari Palembang dan 9 sekolah dari Bangka. Program ini merupakan kelanjutan dari program nasional Ditjen Pajak, yaitu Pajak Bertutur yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia pada tanggal 11 Agustus 2017,” terangnya, saat membuka Inklusi Pajak di SMA Plus Negeri 17 Palembang, Selasa (07/11).
Ismiransyah meneruskan, program yang dijalankan selama dua jam atau 120 menit ini, diikuti sekitar 1.500 pelajar yang ada di 29 sekolah tersebut. Tapi tetap saja, agar para pelajar tidak bosan, pihaknya memberi selingan fun games dan pembagian souvenir kepada peserta.
20 sekolah di Palembang tersebut adalah SMAN 2, SMAN 4, SMAN 5, SMAN 6, SMAN 11, SMAN 15, SMA Plus Negeri 17, SMAN 18, SMAN Sumsel, SMA Kusuma Bangsa, SMA Xaverius 1, SMA Xaverius 3, SMKN 1, SMKN 2, SMKN 3, SMKN 5, SMKN 8, MAN 1, MAN 2 dan MAN 3. Sedangkan 9 sekolah di Bangka adalah SMAN 1 Pemali, SMA Setiabudi Sungailiat, SMK Yapensu Sungailiat, SMK Bina Karya 2 Muntok, SMK Bakti Parittiga, SMKN 1 Koba, SMKN 2 Koba, SMAN 1 Air Gegas dan SMKN 1 Tukak Sadai.
Sementara, Plh. Kepala Bidang P2Humas, Nelson Samosir menuturkan,melalui Inklusi Pajak ini Ditjen Pajak ingin memberikan pemahaman kepada siswa didik tentang peran dan manfaat pajak, dalam pembangunan serta menanamkan budaya sadar pajak sejak dini, untuk membentuk karakter generasi bangsa yang cinta tanah air dan bela negara.
“Materi yang disampaikan, salah satunya menganalogikan negara dengan masyarakat di dalamnya,sebagai kelompok siswa yang sedang mengerjakan tugas bersama. Ketika ada siswa yang hanya ‘numpang nama’ dan tidak memberi kontribusi dalam pengerjaan tugas kelompok, siswa tersebut bisa disebut sebagai free rider,”tuturnya.
Demikian juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Nelson memaparkan, warga negara yang tidak berkontribusi dalam pembangunan melalui pembayaran pajak tetapi hanya mau ikut menikmati hasil pembangunan, disamakan dengan free rider. Sebagai warga negara yang baik, harus menjaga keseimbangan antara pelaksanaan kewajiban dan penuntutan hak kepada negara.
“Dengan kontribusi lebih dari 74,63% penerimaan negara, pajak berperan sangat penting dalam pembangunannegara, diantaranya pembangunan infrastruktur (LRT, jembatan, jalan, bandara, sekolah), mensejahterakan rakyat (dana BOS, BPJS, subsidi untuk buruh, tani dan nelayan) dan mewujudkan suasana aman melalui modernisasi alutsista dan kesejahteraan aparat penegak hukum(TNI, Polri dan Kejaksaan). Pajak juga berperan penting dalam distribusi pendapatan rakyat, dimana pajak dari masyarakat yang berpenghasilan tinggi diredistribusi kepada yang berpenghasilan rendah,” paparnya.
Sementara, peserta dari SMA Kusuma Bangsa, Bernadette mengatakan,dengan adanya program ini bisa mendapat pelajaran tambahan (edukasi) tentang pajak. Siswi kelas XI itu bahkan dengan lancar mengulang poin-poin penting materi inklusi kesadaran pajak yang baru saja disampaikan. (tul)
















