
BATURAJA-Bonsai merupakan metode tanam mengkerdilkan tanaman pohon yang membutuhkan kesabaran dan keuletan, untuk mendapatkan nilai estetika unik dan berkarakter. Walau terlihat sederhana, namun tidak semua orang dapat melakukan cara penanaman dengan media tanam pot tersebut.
Ada beberapa jenis pohon yang banyak dibonsai, baik oleh pemula maupun yang telah lama menggeluti penanaman bonsai di antaranya pohon beringin, asam jawa, anting putri dan jeruk kingkit. Semakin kecil tumbuhnya, semakin tinggi nilai estetika. Sebagaimana Kimeng (Beringin Taiwan), dapat bendera hijau, tanda pernah menjuarai kontes bonsai pada Pameran Nasional Bonsai, yang diselenggarakan di Banyuwangi, Jawa Timur beberapa waktu lalu.
“Kimeng ini, sekarang sudah berumur 35 tahun dan tingginya tidak lebih dari 1 meter (m). Umumnya, kalau di alam liar, pohon beringin bisa mencapai ketinggian belasan bahkan puluhan meter. Inilah daya tarik dari kesenian bonsai itu sendiri, sangat ekslusif,” ujar Sekretaris PPBI Cabang OKU, Juarsyah kepada fornews.co, saat dijumpai pada pameran bonsai di Baturaja, Kamis (27/10).
Menurut dia, ada satu jenis pohon bonsai yang terbilang langka. Bahkan di alam liar pun hanya ditemui di pesisir pantai, yakni Jeruk Kingkit. Walau demikian, di dunia bonsai pohon jenis ini sangat familier dan paling diminati karena bukan hanya memberikan nilai estetika, melainkan juga berkhasiat untuk obat batuk. “Akan tetapi, untuk kita di Baturaja khususnya, paling banyak bonsai jenis Anting Putri,” jelasnya.
Lanjut Sekdin Distamben OKU, ini untuk keberadaan pencinta bonsai di Bumi Sebimbing Sekundang, baru terorganisir sejak dua bulan lalu. Diakuinya pula, meski sudah banyak yang membudidayakan tanaman bonsai, namun selama ini masih menikmati sendiri-sendiri. Belum lagi image di masyarakat budidaya bonsai merupakan hal yang rumit dan merupakan tanaman mahal sehingga hanya dapat dijumpai di halaman rumah milik orang-orang “kaya” saja.
“Pemahaman ini yang keliru sebenarnya. Karena, untuk bisa budi daya sendiri, tidak perlu modal besar. Melainkan dibutuhkan kesabaran dan keuletan. Sebab, jika lengah sedikit saja, bisa jadi tumbuhnya tidak sesuai diharapkan (besar),” paparnya.
Lebih jauh dikatakan Juarsyah, dirinya bersama pencinta bonsai di Baturaja, sedang mendorong agar terdapat ladang bonsai, sebagaimana di pulau Jawa. Bahwa masyarakatnya, dapat memaksimalkan bonsai untuk peningkatan taraf ekonominya. “Memang kendalanya di daerah kita (Sumsel), karakter orangnya kurang sabar. Tapi, kita terus mensosialisasikan supaya tergerak budidaya bonsai selain berfungsi penghijauan, juga bernilai seni sehingga lingkungan rumah kita terasa sejuk,” imbuhnya, sembari mengatakan pameran bonsai yang digelar di halaman Citimall Baturaja, akan berlangsung hingga 30 Oktober. (ibr)

















