YOGYAKARTA, fornews.co—Budidaya maggot semakin diminati masyarakat Kota Yogyakarta sebagai solusi terhadap permasalahan sampah yang tidak pernah selesai.
Ratusan ton sampah per hari di Kota Yogyakarta menjadi perhatian serius pemerintah setempat karena dapat berdampak buruk terhadap lingkungan.
Untuk mengatasi hal itu, selama dua hari 18-19 Maret 2021 Kelurahan Ngupasan, Kota Yogyakarta menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Maggot di kampung Ratmakan dan kampung Ngupasan. Masing-masing kampung diikuti oleh 10 peserta dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Lurah Kelurahan Ngupasan, Drs. Didik Agus Mursihanta, mengatakan pelatihan budidaya magot tergolong baru dan unik. Namun, dapat menjadi tambahan penghasilan bagi warga.
“Untuk itu para peserta pelatihan dapat memantapkan niat, telaten dan tidak jijik apalagi takut dengan ulat maggot,” kata Lurah Ngupasan.
Pihaknya berharap kepada seluruh peserta pelatihan untuk tekun dan bersabar, mengetahui nilai ekonomis yang nantinya bakal dihasilkan.
Magot merupakan larva lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF) yang tidak membawa bibit penyakit. Berbeda dengan lalat hijau yang kerap membawa penyakit.
Secara khusus maggot dikembangbiakkan mulai dari pemisahan telur, penetasan hingga pembesaran maggot.
Magot terbukti sangat bermanfaat untuk mengatasi sampah organik seperti sampah sayuran,buah-buahan dan sisa makanan.
Selain itu, maggot juga dapat digunakan sebagai pakan ternak unggas, burung dan ikan kolam. Bahkan, cangkangnya dapat diolah menjadi pupuk organik.
Pelatihan budidaya maggot itu menggunakan dana APBD tahun 2021. Pemerintah setempat juga telah berupaya menggalakkan kelompok dan komunitas bank sampah agar sampah di Kota Yogyakarta dapat teratasi. (adam)
















