YOGYA, fornews.co—Lukisan kanvas berwajah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat itu merupakan karya Dyan Anggraini yang dipamerkan di Jogja Gallery.
Anggraini menyelesaikan 41 karya rupa dalam pameran tunggalnya bertajuk “Maestro Meeting” berlangsung pada 19 Desember 2021 – 9 Januari 2022.
Pada usia 40 tahun Raden Mas Soewardi Soerjaningrat resmi berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara agar rakyat lebih dekat mengenal ajarannya.
Lelaki ningrat asal Yogyakarta dalam lukisan kanvas itu juga dikenal sebagai jurnalis dan pendidik yang sempat belajar kedokteran di Stovia.

Kariernya dalam dunia pers dimulai sejak menjadi kontributor untuk beberapa surat kabar di Jawa.
Bahkan pernah mendirikan surat kabar Persatoean Hindia di Semarang, setelah sempat aktif di surat kabar De Expres dan Kaoem Moeda.
Selain itu Ki Hajar Dewantara juga dikenal sebagai pegiat politik yang kemudian mendirikan Nationale Indische Partij (NIP) pada tahun 1912. Organisasi pertama di Indonesia yang bertujuan untuk memerdekaan Indonesia dari penjajahan.
Setahun setelah NIP bediri, ia dibuang ke Belanda karena tulisannya yang mengkritik Pemerintah Kolonial.
Selama di Belanda, KHD justru mengikuti pendidikan keguruan yang menumbuhkan pemikiran tentang pendidikan nasional sekaligus mengkritik gaya pendidikan barat dan pondokan tradisional.
Dari sana pula tumbuh cita-cita untuk mewujudkan pendidikan nasional yang berakar pada budaya Indonesia.
Atas dasar itulah, pada tahun 1922, KHD juga mendirikan National Onderwijs Istituut Tamansiswa.

Drg Widyawati SpOrt cucu dari Ki Hajar Dewantara menuturkan, pendidikan yang diajarkan KHD telah menjadikan manusia memiliki budi pekerti dan berbudaya yang baik dan benar.
Dalam dunia pendidikan proses budaya membentuk watak yang berjiwa nasional, tetapi, tetap membuka diri terhadap perkembangan internasional.
Selain itu, membangun manusia agar menjadi tauladan yang baik dan pelopor, juga mengembangkan potensi bakat sesuai kodrat alam.
“Banyak hal yang muncul kembali ajaran-ajaran beliau yang ternyata luar biasa untuk menjadikan manusia yang berbudi luhur, berbudi pekerti dan berbudaya yang baik dan benar,” ungkapnya kepada fornews.co, pekan lalu.
Pendidikan budi pekerti yang diajarkan KHD itu patut dilanjutkan oleh generasi bangsa Indonesia.
Putri kedua dari Raden Mas Subroto Aryo Mataram itu mengrapresiasi pameran tunggal seni visual “Maestro Meeting” yang menampilkan lukisan tokoh-tokoh yang perjuangannya patut dihargai.
Dirinya terkesan setelah melihat lukisan Ki Hajar Dewantara karya Dyan Anggraini. Seperti membangkitkan ajaran KHD dalam bentuk lukisan.
“Kesan saya ya untuk mengingat dan membangkitkan lagi ajaran-ajaran beliau yang ditampilkan dalam bentuk lukisan,” ungkapnya.
Dalam lukisan itu tersirat beberapa hal falsafah dan ajaran Ki Hajar Dewantara, “Jadi dari melihat gambar dan lukisan itu melekat dengan ajaran beliau.”
“Menurut saya ini ide yang bagus sekali, lukisan tokoh yang berlatar belakang perjuangan jaman dulu untuk persatuan NKRI. Banyak hal yang bisa dipelajari dari latar belakang tokoh-tokoh itu.”
Ia berharap Tut Wuri Handayani ing Ngarso Tulada ing Madya Bangun Karsa yang telah diajarkan KHD terus dilanjutkan kepada anak-anak. Tiga hal itu telah merangkum dan menjadi pokok banyak hal terutama ajaran yang berhubungan dengan pendidikan.
“Saya sangat berbahagia sekali dan sangat memberikan penghargaan kepada ibu Dian Anggraeni yang telah melukis Ki Hajar Dewantara,”pungkas drg Widyawati SpOrt. (adam)

















