PULAU PUNJUNG, fornews.co – Para musisi terbaik Tanah Air akan tampil memeriahkan puncak acara Festival Pamalayu di Candi Padang Roco, Kabupaten Dharmasraya, Senin (06/01) malam.
Dewa Budjana, Trie Utami, dan komposer kenamaan Purwatjaraka bersama 12 musisi lainnya yang tergabung dalam Sound of Borobudur akan menampilkan komposisi musik dari alat musik masa lalu. Penampilan Sound of Borobudur menjadi klimaks festival yang digelar Pemkab Dharmasraya bersama Langgam Production sejak Agustus 2019.
Pada jumpa pers yang dilaksanakan Sabtu (04/01), Trie Utami mengatakan, Sound of Borobudur mencoba menghidupkan kembali artefak dan alat alat musik yang terpahat di relief panel Candi Borobudur. Sebagaimana Ekspedisi Pamalayu yang merupakan ekspedisi persahabatan, maka Sound of Borobudur datang ke Dharmasraya untuk melakukan ikatan-ikatan kebudayaan.
“Kita beririsan secara peradaban. Karena memang kita bersaudara. Kita merupakan suatu tatanan besar,” ujar Iie.
Menurut Iie, yang ingin ditampilkan pada pagelaran nanti adalah bunyian peradaban. Terdapat banyak sekali alat musik masa lalu yang terpahat di relief Candi Borobudur. Adapun yang mendominasi adalah alat musik dengan dawai.
“Saya dibantu sepenuhnya dari awal sejak tahun 2016 oleh sahabat saya Dewa Budjana. Karena saya bukan pemain gitar, saya bukan pemain dawai,” tuturnya.
Iie menilai, satu-satunya orang yang dianggapnya pantas untuk membawa dawai itu kedepan adalah Dewa Budjana.
“Karena beliau gitaris yang bekerjasama dengan banyak sekali musisi kelas dunia, gitaris-gitaris kelas dunia. Tapi, beliau tidak pernah lupa untuk melakukan perilaku budayanya sebagai orang Bali, orang Nusantara,” katanya.
Sementara itu, Dewa Budjana mengatakan, ia hanya melanjutkan apa yang sudah dirintis Trie Utami.
“Saya hanya melanjutkan. Tapi memang saya punya kesenangan dengan sejarah, jadi melanjutkan sendiri-sendiri. Akhirnya kita ketemu lagi,” ujar gitaris band Gigi ini.
Menurutnya, gambar alat musik yang ada di relief candi coba diinterpretasikannya dalam alunan melodi.
“Karena memang tidak pernah tahu. Ada juga yang tidak kelihatan senarnya, misalnya. Tapi kami coba. Ada yang kelihatan tiga dawainya. Atau mungkin kita coba-coba sendiri. Ada yang ukurannya besar kami anggap bass. Ada yang lebih kecil,” kata Budjana.
Menurutnya, alat musik yang ada di relief Candi Borobudur sudah tersebar hampir di seluruh dunia. Sehingga memang semuanya tersimpan di sana.
“Alat musik itu, cerita alat musik masa lampau yang akhirnya berkembang sampai seperti sekarang. Seperti alat musik sape di Kalimantan, bentuknya sama persis dengan yang ada di Borobudur,” terangnya.
“Begitu juga dengan gambus. Mungkin orang lebih kenal di Mesir. Juga sudah ada di sana. Juga alat-alat tiup yang bentuknya macam-macam, jumlahnya ratusan mungkin. Selain itu, juga alat musik pukul. Tentunya alat pukul lebih awal di peradaban musik. Basic sekali,” imbuhnya.
Di seluruh dunia, menurutnya, juga ada musik ada tanpa senar tanpa alat pukul. “Seperti di Bali ada Kecak, cuma dengan mulut. Di Aceh, Saman. Jadi Negara kita itu sangat kaya sekali dengan musik,” tuturnya.
Setelah diteruskan, jadilah beberapa komposisi musik. “Ketemu Mas Purwa yang akhirnya bisa mengumpulkan ‘Sound of Borobudur’ ini jadi dari berdua, bertiga, berempat akhirnya sampai delapan orang,” katanya.
Penampilan di Dharmasraya, menurut Budjana adalah konser perdana dari album yang belum beredar. “Kami berterima kasih, akhirnya kami bisa berkumpul, tampil pertama kali tanggal 6 (Januari) malam. Jadi ini penampilan perdana dari album yang belum beredar, sebenarnya,” ucapnya sambil tersenyum.
Selain Trie Utami dan Dewa Budjana, sejumlah musisi senior juga bergabung di Sound of Borobudur tak kalah tenar. Ada Bintang Indrianto, Herwan Wiradireja, Mochamad Saatsyah, Jalu Gatot Pratidina, Victor Parulian, Dunung Basuki, Fariz Alawan, Taufan Irianto, Aktivano Cristian, Chaka Priambudi, Agusto Andreas dan Eko Suprianto.
Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan yang hadir dalam jumpa pers tersebut mengucapkan terima kasih atas kesediaan Sound of Borobudur bermain pertama kali di Candi Padang Roco, Dharmasraya.
Menurutnya, penggalian peradaban masa lalu seperti yang dilakukan Sound of Borobudur, akan memperkaya aset bangsa hari ini. “Semakin digali, semakin menjadi aset bagi kita,” katanya. (ije/rel)

















