PALEMBANG, fornews.co – Untuk mencegah paham radikal terhadap anak bangsa, Menteri Pertahanan RI, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu mengatakan, program bela negara perlu dijalankan di semua jenjang pendidikan.
Dia menegaskan, ideologi Pancasila harus tetap ditanamkan di hati sanubari rakyat Indonesia, sebagai bentuk pencegahaan paham radikalis dan teroris. Salah satunya lewat pendidikan.
Karena itu sejak empat tahun silam, dirinya meminta pada Presiden agar perpeloncoan yang diadakan di sekolah dan perguruan tinggi dihapus dan diganti dengan bela negara.
“Mindset kita harus diubah. Perpeloncoan diganti dengan dasar bela negara. Kita sudah koordinasi dengan Mendikti dan Mendikbud. Sudah empat tahun kita jalankan,” katanya saat paparan tentang Bela Negara di Griya Agung, Palembang, Senin (21/01).
Dalam kesempatan itu, Menhan bersama sejumlah pejabat tinggi Kemenhan bersilaturahmi dengan Gubernur Sumsel Herman Deru, para Komandan Satuan, FKPD, Bupati/Wali Kota, Pejabat TNI/OPD Pemprov Sumsel.
Menurut Menhan, pencegahan paham radikalisasi melalui pendidikan sangat penting , karena itu bela negara harus dijalankan dari semua tingkatan pendidikan, mulai SD hingga mahasiswa di perguruan tinggi.
“Radikal musuh manusia, musuh negara. Karena itu harus diingatkan terus melalui pendidikan dan mimbar agama,” tegas Menhan.
Menhan menambahkan, kekuatan utama yang ada di bangsa ini adalah persatuan. Namun persatuan harus dikelola dengan baik. Mengingat ada ancaman yang akan menggerus dan kesatuan bangsa dengan cara merongrong ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa.
“Yang patut diwaspadai adalah ancaman teroris generasi ke-tiga. Militan asing Foreign Terrorist Fighter yang kembali dari Syria dan Irak setelah ISIS terpukul dari Irak dan Syria. Mereka kembali ke negara masing-masing di asia timur. Seperti Indonesia,Philipina dan Malaysia,” ujarnya.
Di sisi lain, menghadapi Pileg dan Pilpres 2019 mendatang, Menhan mengajak agar semua pejabat TNI dan Polri, serta kepala daerah di Sumsel dapat menciptakan rasa aman dan kondusif.
“Pemilu jangan sampai bunuh-bunuhan, jangan sampai negara ini pecah. Kalau sampai berdarah-darah tidak usahlah pemilu diadakan. Apalagi kalau sampai negara ini sampai pecah,” tukasnya.
Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, wilayah Provinsi Sumatra Selatan hingga saat ini masih tetap aman dan kondusif, terbebas dari segala bentuk ancaman dan gesekan yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, serta gangguan yang dapat merusak kerukunan antar-umat beragama.
Herman Deru menegaskan, kondisi tersebut dapat tercipta tidak lain karena terjalinya kerjasama yang baik antara ulama, umara dan umat. Serta peran dari TNI dan Polri yang tetap konsisten menjaga keamanan dan kenyaman di wilayah Sumatra Selatan.
“Kami di Sumsel selalu guyub. Bersama ulama, umara dan umat. TNI dan Polri. Sampai saat ini Sumsel zero conflict,” kata HD.
Sedangkan, terkait acara bela negara yang diselenggarakan Kementerian Pertahanan, menurutnya penting dilakukan. Karena itu dirinya harus hadir langsung bahkan sejumlah agenda kegiatan Pemprov Sumsel ada yang harus ditunda, salah satunya penundaan jadwal (jam) sidang paripurna DPRD.(bas)

















