FORNEWS.CO
  • Metro Sumsel
    • Metropolis
  • Nasional
    • Internasional
  • Ekobis
  • Politik
  • Sport
    • All
    • Asian Games 2018
    • Babel Muba United
    • Ragam Sport
    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    MENTERI Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menerima penghargaan di ajang KWP Awards 2026, di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Kamis pagi, 16 April 2026. (foto fornews.co/komdigi)

    Menpora Erick Thohir sebut Diplomasi Olahraga Penting untuk Menjaga Hubungan Negara

    Pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto. (fornews.co/foto: ist)

    Ini Daftar 28 Pemain Timnas U-20 yang Dipanggil Nova Arianto Ikuti TC Surabaya

    Kapolda Sumsel, Irjen Pol Sandi Nugroho dan Advokat, Kurator & Pengurus dari DR Hukum & CO, Adv. Hengki, SH, MH. (fornews.co/ist)

    Kapolda Sumsel Irjen Pol Sandi Nugroho Diharap Mampu Kolaborasikan Penegak Hukum dan Elemen Masyarakat

    Ilustrasi PSSI. (fornews.co/pssi.org)

    Viralnya Sejumlah Insiden di Putaran Provinsi Liga 4, Bikin PSSI Langsung Gelar Rapat Darurat

    Asisten pelatih Timnas Indonesia, Cesar Meylan. (fornews.co/ist)

    Profil Cesar Meylan, Ilmuwan Olahraga Pendamping John Herdman sebagai Asisten Pelatih Timnas

    John Herdman resmi menjadi Head Coach Timnas Indonesia, Sabtu (3/1/2026). (fornews.co/ist)

    Profil John Herdman, Pelatih Asal Inggris yang Resmi Jabat Head Coach Timnas Indonesia

    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    • Ragam Sport
  • COVID-19
  • FornewsTv
  • Lain-lain
    • All
    • Advertorial
    • Berita Foto
    • Feature
    • Gaya Hidup
    • Hukum dan Kriminal
    • Kesehatan
    • Opini
    • Peristiwa
    ILUSTRASI. (grafis fornews.co)

    Meski Tanda Kemarau Mulai Terlihat, Sejumlah Wilayah di Indonesia masih Berpotensi Hujan

    POSTER film layar lebar “Suamiku Lukaku”.  (foto fornews.co/sinemart/publish)

    Trailer “Suamiku Lukaku” Resmi Dirilis, Soroti Realitas KDRT di Balik Keluarga Harmonis

    ILUSTRASI Zona Merah: Dead City. (grafis fornews.co/foto screenplay films/the publicist)

    Zona Merah Tembus Pasar Global, Debut di Cannes dengan Judul “Dead City”

    MAY DAY, massa unjuk rasa menyuarakan sembilan tuntutan di luar pagar gedung DPRD DIY di kawasan destinasi Malioboro pada Jum'at siang, 1 Mei 2026. (foto fornews.co/adam)

    Aksi May Day di Jogja “Mei Melawan”

    MENTERI Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana disambut tarian khas Sumatra Barat pada pertemuan bersama para pelaku Industri pariwisata di Desa Wisata Koto Gadang, Kabupaten Agam, Kamis, 30 April 2026. (foto fornews.co/kemenpar)

    Pariwisata Sumatra Barat Butuh Dorongan Penuh dari Pemerintah Indonesia

    WALI KOTA Jogja mmberi aba-aba kepada ASN melepas ikan tawar jenis nilem di sungai Winongo, Grojogan Tanjung, Patangpuluhan, Wirobrajan pada Selasa sore, 28 April. (foto fornews.co/adam)

    Ratusan ASN Tebar Ribuan Ikan Nilem di Sungai Winongo

    • Hukum
    • Peristiwa
    • Opini
    • Pariwisata
    • Gaya Hidup
      • Budaya
      • Teknologi
    • Advertorial
      • Profil
      • Galeri
    • Berita Foto
No Result
View All Result
FORNEWS.CO
Kamis, 7 Mei 2026
No Result
View All Result
FORNEWS.CO
No Result
View All Result
Home Lain-lain Opini

Tapak-tapak Barbudos Castro di Oriente hingga Teluk Babi

Kamis, 18 April 2019 | 19:18
A A
Fidel Alejandro Castro Ruz. (ist/net)

Fidel Alejandro Castro Ruz. (ist/net)

Penulis : Arafah Pramasto,S.Pd (Pemerhati Kesejarahan dan Anggota Studie Club Gerak Gerik Sejarah)

TELAH berlalu hampir tiga tahun setelah pemberitaan penting mengenai seorang tokoh tiba ke publik internasional. Tanggal 26 November 2016, BBC News Indonesia memberitakan pengumuman dari Presiden Kuba, Raul Castro mengenai kakaknya, Fidel Castro, “Panglima revolusi Kuba telah meninggal dunia pada pukul 22.29 malam ini (25 November 2016).”

Fidel Castro, memimpin Kuba selama hampir 50 tahun sebelum Raul mengambil alih posisinya pada tahun 2008. Para pendukungnya mengatakan bahwa, “Fidel Castro telah mengembalikan Kuba kepada rakyatnya.” Tapi di sisi lain dia juga dituduh telah menekan kelompok oposisi. Raul Castro menambahkan, bahwa Fidel akan dikremasi pada hari Sabtu (26/11).[1] Akan tetapi, warga imigran Kuba di Miami, Florida, turun ke jalan-jalan, sebagian berselimutkan bendera Kuba, menari-nari, dan ada juga yang masih kaget. “Cuba si ! Castro no ! (Kuba Ya ! Castro Tidak !)”, teriak orang di jalan-jalan sementara lainnya berseru, “Kuba bebas !”.[2]

BacaJuga

Insiden Mematikan di Hunan, Pabrik Kembang Api di Changsha Tewaskan 26 Orang

Meski Tanda Kemarau Mulai Terlihat, Sejumlah Wilayah di Indonesia masih Berpotensi Hujan

Regulasi Baru Restitusi Pajak terhadap Percepatan Layanan dan Akurasi Data

Load More

Di sini akan diungkap sebab-musabab Fidel Castro sebagai figur yang disebut diktator itu, masih juga dihargai bak pahlawan. Dimulai dari kisah masa kecilnya, hingga pada dua peristiwa yang melambungkan namanya sebagai “epos” perlawanan dunia ketiga, akan kita baca lagi kisah figur legenda Kuba yang khas dengan brewoknya itu.

 

Oriente, Kisah Anak Mantan Serdadu Penjajah

Siapa sangka sang revolusioner Kuba beraliran Marxis yang anti imperialisme Amerika Serikat ini, memiliki darah dari prajurit pemerintah jajahan. Nama lengkapnya adalah Fidel Alejandro Castro Ruz. Ia adalah anak dari Angel Castro Argiz, bekas serdadu Spanyol yang datang sebagai anggota pasukan yang bertugas untuk menekan gerakan kemerdekaan Kuba pada tahun 1890-an.

Informasi lain menyebutkan bahwa Angel juga mantan seorang buruh di Spanyol yang berasal dari Galicia.[3] Tanggal kelahirannya diyakini pada 13 Agustus 1926 sebagai anak dari kalangan ‘berpunya’ pada sebuah masyarakat kecil Dusun Biran, di kawasan Oriente, timur Kuba. Banyak yang percaya bahwa Fidel Castro lahir pada tanggal yang sama, namun di tahun 1927. Tahun lahirnya dituakan / dimajukan agar memudahkannya masuk sekolah lebih cepat.[4]

Setelah berhenti dari kedinasan militer, Angel Castro mengolah tanah seluas 23.000 acre yang dijadikan sebagai ladang tebu dan peternakan lembu. Istri pertama Angel memberinya lima anak, namun hanya dua yang berumur panjang : Lidia dan Pedro Emilio. Angel lalu menikahi juru masaknya, Lina Ruz Gonzales dan memberi Angel 7 orang anak. Pertama lahir Angela, Augustina, Ramon, Fidel, Raul, Ernma, dan Juana (Juanita).[5] Ayah Castro adalah seorang yang cukup mampu membiayai dua perkawinan dan keluarganya dengan layak. Tetapi, bagaimanapun keluarga itu adalah keluarga kacau.[6] Pemicunya adalah ketika Angel yang telah memiliki dua anak dengan istri pertamanya, Maria Argota y Reyes, mempekerjakan Lina Ruz (putri rekan Angel) yang ketika itu masih berusia 14 tahun sebagai pembantu rumah tangga. Hubungan gelapnya dengan Lina menjadi alasan Maria Argota meninggalkan “Las Manacas” (nama peternakan Angel).[7]

Mungkin khalayak masih banyak menanyakan faktor dari kerasnya pribadi Castro. Ada sedikit jawaban yang mendasarinya dan itu dimulai sejak masa kanak-kanak. Diungkapkan dalam biografi Fidel Castro oleh Nick Caistor, pada tahun 1985 Fidel Castro memberitahu agamawan Brazil, Frei Betto, bahwa sang ayah jarang bicara banyak soal masa lalunya: dari komentar-komentar singkatnya selama beberapa tahun, ia memuji Angel sebagai pekerja keras namun kaku dan penyendiri.

Castro menghargainya meski masih keheranan karena takjub. Orang-orang lain yang cukup mengenal pribadinya menyebut Angel Castro adalah orang yang kasar, sedikit bicara dan senang memberi perintah dari pada menjelaskan/terbuka tentang dirinya. Amat sedikit kemungkinan Angel mempunyai ketertarikan langsung pada politik, walau posisinya sebagai tuan tanah di Oriente tentu memberinya pengaruh dalam skala lokal. Sebagaimana Angel, Lina Ruz juga keturunan Spanyol asal Pulau Canary. Angel Castro hidup dalam kelas sosial terpisah dari rakyat kecil. Ia turut menunjukkan sedikit minat pada peristiwa dramatis di tanah asalnya dalam kurun waktu 1920 hingga 1930-an (era Perang Saudara Spanyol-Pen).[8]

Tumbuh di keluarga berada ternyata tak membuat Fidel menjadi anak yang hanya bermain/bersenang-senang. Ia justru yang mendesak sang ayah untuk segera menyekolahkannya. Kabar bahwa tahun kelahirannya dituakan memang sangat beralasan. Ia lalu masuk sekolah di Collegio La Salle dan Collegio Dolores di Santiago de Cuba. Sekolah Castro adalah sekolah di bawah yayasan Yesuit.[9] Selama masa sekolah itu dia unggul baik di pelajaran sekolah maupun olahraga seperti basket, beseball dan lari cepat. Buku laporan tahunan sekolahnya menulis, “Ia tahu betul bagaimana mendapatkan pujian dan sambutan hangat dari semua temannya.”[10] Tahun 1942, Castro melanjutkan ke Collegio Bellen, sekolah persiapan menuju ke Universitas Havana. Di sini ia mendalami bahasa Spanyol, sejarah, dan pertanian. Castro dapat meraih gelar sebagai atlet terbaik di tahun 1944, dan ia terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Havana pada 1945. Di kampus, dirinya berhasil terpilih sebagai Presiden Senat Mahasiswa yang militan.[11]

 

Barbudos di Sierra Maestra dan Teluk Babi

Putra Angel Castro ini tampak tak mampu menahan aliran gen mantan serdadu dari sang ayah. Di saat masih kuliah itu Castro telah mengikuti aktivitas politik. Meski sudah merengkuh pengaruh di kalangan mahasiswa, pada tahun 1947 dia terpilih sebagai sekretaris pertama Partai Rakyat Kuba. Ketika ada gerakan penggulingan Presiden Generalissimo Raphael Trujillo di Dominika, ia meninggalkan kampusnya dan ikut terlibat dalam pemberontakan tersebut.[12] Castro memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin kelompok pecinta alam. Saat rombongannya berjalan kaki ke Sierra de los Organos, mereka mendatangi tempat latihan rahasia pemberontak Dominika yang berniat menghancurkan Trujillo. Cintanya pada petualangan dan kebenciannya pada kediktatoran membawanya bergabung dengan ekspedisi mereka di bulan Agustus 1947. Iring-iringan rombongan itu diketahui tentara Trujillo dan kemudian diserbu sampai kocar-kacir. Castro melarikan diri ke luar Dominika dan berenang di laut dengan membawa senjata tommy gun-nya.[13]

Tiga tahun sesudah masa ambisius nan menegangkan itu, Fidel berhasil meraih gelar doktoral di bidang hukum pada tahun 1950. Fulgencio Batista yang dibekingi Amerika Serikat lalu berkuasa sebagai diktator dua tahun kemudian, Castro memprotes dan memutuskan memimpin gerakan bawah tanah anti-pemerintahan pada tahun 1952. Satu tahun berikutnya, dia memimpin serangan ke barak militer Moncada Santiago de Cuba namun gagal (dikenal dengan ‘Gerakan 26 Juli 1953’). Banyak masyarakat yang simpati pada gerakannya. Sebanyak 69 dari 111 orang yang ambil bagian dalam serbuan itu tewas dan Castro dipenjara selama 15 tahun. Di saat akhir pengadilannya, banyak orang yang terkagum pada pembelaannya hingga ucapannya menjadi tenar, “La historia me absolvera (Sejarah yang akan membebaskanku).” Setelah mendapat pengampunan / amnesti dan dibebaskan tahun 1955, dia pergi (diasingkan) ke Meksiko.[14]

Fulgencio Batista y Zaldivar sang diktator juga berasal dari Oriente. Terlahir pada 16 Januari 1901 dari keluarga petani miskin keturunan Indian, ia berhasil jadi tentara di tahun 1921. Saat berpangkat kopral, ia melihat kesempatan di saat kebanyakan rakyat Kuba menentang presiden Gerrardo Machado yang korup. Ketika berpangkat sersan (1933) ia melancarkan “Revolusi Sersan” dalam menjatuhkan Carlos Manuel de Cespedes, pengganti Machado. Bukannya langsung berkuasa, Batista yang “lompat pangkat” jadi Kolonel malah mengendalikan banyak presiden sipil (boneka). Sesudah menanggalkan seragam, ia menduduki kursi presiden secara De Jure periode 1940-1944. Batista banyak menumpuk kekayaan melalui suapan termasuk mengizinkan mafia New York Meyer Lansky membuka kasino di Kuba. Pasca tersingkir dari politik, ia tinggal di Florida untuk menikmati hasil korupsinya. Batista kembali ke perpolitikan sebagai senat (1948) namun kemudian kalah dalam pemilihan presiden 1952. Maka ia kenakan kembali seragam militernya serta berhasil merebut Kamp Kolombia pada 10 Maret 1952, markas militer di Havana. Tak lebih dari 12 jam kemudian, Batista menggulingkan Prio Sacarras dari tampuk pemerintahan.[15]

Saat berada di Meksiko Fidel Castro bertemu Ernestro Guevara, ia memberi pemuda Argentina yang kemudian menjadi pengikutnya itu panggilan “Che”. Sayangnya, ketika polisi Meksiko menduduki markasnya, mereka menemukan tempat persembunyian senjata. Castro diancam bahwa jika mereka tidak segera meninggalkan Meksiko, mereka akan dideportasikan ke Kuba. “Ajaib”, Castro menyeringai, “Itulah tempat yang ingin kami datangi.”[16] Kapal pesiar Granma meninggalkan dermaga di Meksiko pada November 1956 dengan 82 penumpang menuju Kuba, seketika merapat di pantai utara Oriente mereka langsung digempur oleh pasukan Batista. Hanya 12 orang selamat termasuk Castro, Che, dan adik Castro, Raul. Di titik ini ada kesalahan fatal pihak Batista. Pemerintah mengumumkan kalau seluruh pemberontak itu semuanya telah dihabisi. Pengumuman ini memberi kesempatan bagi Castro untuk mencari dukungan kekuatan, dan ia dapat melakukannya dengan baik.[17]

Sisa pasukan Castro yang selamat lalu melarikan diri ke pegunungan Sierra Maestra. Ia meyakinkan pada pasukannya bahwa hari-hari kediktatoran Batista tidak lama lagi, sebagian menganggapnya telah sinting. Berjanggut lebat karena tidak telaten mencukur, ia kemudian terkenal dengan julukan Barbudos – Si Janggut. Castro memimpin pasukannya merampoki tuan tanah kaya, semua dihukum mati, dan tanahnya dibagi-bagikan kepada petani miskin yang dengan sangat antusias memandangnya seperti “Robin Hood dari Sierra Maestra.” Mereka (rakyat kecil) membantu Fidelismo dengan makanan dan sukarelawan.[18]

Dukungan semakin besar bagi pasukan Castro. Pada tanggal 1 April 1958 Castro mengumandangkan perang total melawan Batista. Perang yang dilakukannya membawa berbagai kemenangan, dan kemenangan ini memberi semangat bagi gerakan kaum sipil di Kuba. Akhirnya Batista kalah pada Desember 1958, sang mantan diktator harus mengungsi ke Dominika.[19]

Amerika Serikat yang melihat popularitas Castro segera memberikan dukungan pada rezim revolusioner di Kuba itu. Castro menerapkan sejumlah kebijakan pembaruan seperti memotong bunga bank sebesar 50%, menyita 13% tanah pertanian Kuba dan membaginya menjadi koperasi-koperasi pertanian; termasuk yang disita adalah pertanian milik keluarganya. Saudaranya, Ramon, dengan berang mengutuk Raul Castro – tangan kanan Fidel – sebagai, “…Raul memang tikus kecil komunis. Suatu saat saya akan bunuh dia !”. Ketegasan Fidel itu ditambah corak kepemimpinan tangan besi. Sebagai contoh ialah ketika lebih dari 5000 orang dikirim ke pengadilan revolusi, meski tuntutan masih kekurangan bukti, para “terdakwa” itu dikutuk sebelum menghadap regu penembak mati. Alasan penjatuhan hukuman itu ialah, “Sebagai ukuran dari kesejahteraan sosial”, jawab seorang jaksa. Rezim Castro juga menangkapi para pendeta serta menahan lebih dari 40 menteri kabinet Batista dengan tuduhan menjadi “agen CIA.”[20]

Arah kebijakan Castro yang kian dekat dengan Soviet menyebabkan hubungan Kuba dan Amerika semakin memburuk. Pada sebuah kunjungan ke AS, presiden Eisenhower enggan menemuinya dan lebih memilih pergi main golf. Ia menugaskan Wapres Richard Nixon menerima, lalu mengomeli si pemimpin Kuba. Eisenhower menetapkan penghentian impor gula dari Kuba, diikuti dengan pemutusan hubungan diplomatik. Kennedy yang menggantikan Eisenhower turut memilih sikap memusuhi Kuba. Puncaknya adalah peristiwa “Invasi Teluk Babi”, yakni sebuah intervensi militer AS yang memanfaatkan orang-orang Kuba di pembuangan. Sekitar 1.500 pelarian Kuba dilatih dan dipersenjatai oleh rezim Kennedy didaratkan di pantai selatan Kuba, Teluk Babi (Playa Giron).

Invasi itu merupakan bagian dari Perang Dingin yang dimulai pada April 1961. Fidel Castro sebagai komandan perang tertinggi Kuba dibantu oleh komandan-komandan revolusi di berbagai wilayah : Raul Castro (Oriente), Che Guevara (Pinar del Rio), Juan Almeida (Santa Clara tengah), Ramiro Valdes (inteljen dan kontra-inteljen), serta Guillermo Garcia (bagian taktis ibukota). Pasukan penyerang dipimpin Juan San Roman sebagai komandan Brigade 2506 membawa empat batalion sebagaimana telah dibentuk semasa pelatihan beserta komandannya : Alejandro del Valle (Batalion Pertama), Hugo Sueiro (infanteri), Erneido Oliva (Lapis Baja), dan Roberto San Roman (Batalion Senjata Berat).[21]

CIA yang terlibat cukup aktif dalam konflik ini berasumsi bahwa intervensi militer akan menimbulkan pemberontakan rakyat terhadap Castro. Seolah AS ingin menciptakan pendaratan heroik tandingan seperti yang dilakukan Si Barbudos lima tahun sebelumnya. Usaha negeri adidaya itu gagal total secara memalukan, pasukan penyerang hanya mampu bertahan selama empat hari (15-19 April 1961). Malah para tahanan kemudian ditukar Castro dengan barang-barang Amerika yang dibutuhkan.[22]

Seperti belum puas mengentuti Amerika, Castro mendesak AS untuk membayar sebesar 53 Juta USD sebagai pengganti tawanan perang sebanyak 1.113 orang.[23] Kisah kegagalan di Teluk Babi hanyalah satu dari sekian banyak intervensi Amerika di banyak negara-negara di dunia. Dalam catatan kaki buku Revolusi Sandinista : Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neo-Liberalisme karangan Nurani Soyomukti, salah satu campur tangan AS terpanjang ialah di Kuba sejak 1959 sampai 2001.[24]

Hampir setengah abad setelah peristiwa panjang yang dilalui Fidel Castro, sejak pendaratan di pantai utara Oriente bersama 80 prajuritnya, ia mengingat kembali sembari masih saja menantang Amerika Serikat yang dianggapnya tak pernah puas dengan rasa “penasaran” untuk memadamkan jiwa revolusioner Kuba, berikut nukilan pidatonya pada tanggal 10 April 2007 : “…Tidaklah cukup untuk mengirimkan sebuah invasi tentara sewaan dengan diam-diam ke Teluk Babi yang menyebabkan 176 dari kami mati dan lebih dari 300 terluka pada waktu yang sama ketika petugas medis yang mereka tinggalkan bagi kami, yang jumlahnya hanya sedikit dan tidak berpengalaman merawat luka akibat peperangan…Sebelumnya, kapal Prancis “La Coubre” membawa granat dan senjata Belgia untuk Kuba telah diledakkan di dok pelabuhan Havana. Dua ledakan yang bersamaan mematikan lebih dari 100 pekerja dan yang lain terluka seperti halnya para penolong…Tidaklah cukup untuk mengalami “krisis misil” seperti pada tahun 1962, yang membawa dunia ke ujung perang termonuklir, pada waktu yang sama, ketika ada bom 50 kali lebih kuat dibandingkan dengan yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki…Tidak cukup untuk memberi negeri kami dengan virus, bakteri, dan jamur untuk menyerang perkebunan dan ternak, dan tidak masuk akal sebagaimana yang terlihat, menyerang manusia ! Sebagian dari patogen ini muncul dari laboratorium Amerika dan telah dibawa ke Kuba oleh teroris terkenal yang melayani pemerintah Amerika Serikat…”[25]

 

Castro untuk Berpikir Adil

Kisah Castro mungkin dapat disebut sebagai Epos atau mungkin ada yang melihatnya sebagai “tragedi seorang pahlawan”. Benar saja, banyak beredar pemberitaan soal pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) oleh rezimnya setelah berkuasa di Kuba. Fidel Castro tetaplah Castro, pemimpin yang di mata rakyatnya dilihat sebagai seorang flamboyan.

Beberapa waktu sebelum kematiannya, ia menjadi agak sedikit kaku dan cenderung bersikap kalem. Ia juga masih setia dengan kegemarannya mengulum cerutu yang konon harus digiling di atas paha wanita cantik pilihannya.[26] Berbicara soal kepahlawanan yang berubah menjadi tiran, atau mungkin cerita seorang pejuang yang bertransformasi menjadi sosok despotik, bangsa Indonesia toh telah mengalaminya selama kurang lebih 30 tahun.

Selain itu masih ada beberapa kisah yang mengajarkan kita agar tidak terlalu terburu-buru dalam menilai sesuatu. Meski Castro keturunan seorang mantan serdadu penjajah, ia berani menantang maut untuk memperjuangkan keadilan bagi bangsanya dengan meninggalkan segala kenyamanan hidup. Dari perjuangannya kita belajar bahwa jumlah juga bukan kepastian akan hasil akhir : Castro berhasil menggulingkan Batista dengan membawa 82 orang, namun Kennedy gagal menggulingkan Castro meski sudah mengirim 1000 lebih pasukan bersenjata lengkap.

Untuk apa kita membaca kisah Castro yang telah berkalang tanah, jauh di bumi Karibia sana ? Apakah hanya untuk menjadi bacaan sambil menyeruput kopi atau menceritakannya kembali ketika nongkrong bersama rekan-rekan ? Setiap orang tentu mempunyai preferensinya masing-masing. Tetapi jika kisah Castro kita anggap ibarat dua sisi mata pisau, agaknya hal ini bisa menjadi inspirasi untuk berpikir lebih adil. Sebuah cara berpikir yang agak kurang populer / tumpul beberapa tahun terakhir akibat pilihan politik maupun kecenderungan ideologi.

Tumpulnya kemampuan berpikir itu juga yang telah membuat publik mendadak norak di saat seorang siswi SMA menuliskan status media sosial berjudul “Warisan”, hingga beberapa tokoh ormas menjemputnya langsung untuk digadang-gadang sebagai “Pahlawan Toleransi” dan bahkan seorang reporter senior nasional mengundang si anak untuk diberi se-troli penuh hadiah; pada akhirnya terungkap bahwa siswi itu juga pernah melakukan plagiarisme. Selama objektivitas berpikir gagal dipertahankan, tidak mengherankan jika publik menjadi kerumunan yang mudah triggered (terpancing) tatkala pemberitaan mulai viral di media sosial. Akhirnya hanya hujatan, cacian, perdebatan serta provokasi yang menjadi konsumsi masyarakat.*

 

Sumber :

  1. “Fidel Castro, Mantan Presiden Kuba, Meninggal Dunia” dalam BBC News Indonesia 26 November 2016.
  2. “Reaksi Dunia atas Meninggalnya Castro” dalam voaindonesia.com 26 November 2016.
  3. Syamdani, Kisah Diktator-diktator Psikopat : Kontroversi Kehidupan Pribadi dan Kebengisan para Diktator, Yogyakarta : Narasi, 2009. Hlm.88.
  4. Walker, Steven, Fidel Castro’s Childhood : The Untold Story , Leicestershire : Matador, 2012. Hlm.1.
  5. Sihombing dan K. Dwiyana, Buku Pintar Politikus Dunia, Jakarta : Pustaka Delapratasa, 1997. Hlm.12.
  6. Archer, Jules, Kisah para Diktator : Biografi Politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis, dan Tiran , Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 148.
  7. Cox, Vicki, Fidel Castro, New York : Chelsea House, 2003. Hlm.31.
  8. Caistor, Nick, Fidel Castro , London : Reaktion Books,Ltd., 2013. Hlm.15.
  9. Sihombing dan K. Dwiyana, Buku Pintar Politikus Dunia, Jakarta : Pustaka Delapratasa, 1997. Hlm.12.
  10. Archer, Jules, Kisah para Diktator : Biografi Politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis, dan Tiran , Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 148.
  11. Op.Cit.
  12. Ibid.
  13. Archer, Jules, Kisah para Diktator : Biografi Politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis, dan Tiran , Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 149.
  14. Tualeka, Basa Alim, 25 Pemimpin Hebat : Pemimpin yang Memerdekakan Bangsanya dalam Berbagai Bidang , Jakarta : PT. Elex Media Komputindo, 2012. Hlm.70.
  15. Usman, Imam Hidayah, Fidel Castro Melawan , Jakarta : Mediakita, 2006. Hlm.32.
  16. Archer, Jules, Kisah para Diktator : Biografi Politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis, dan Tiran , Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm.151.
  17. Sihombing dan K. Dwiyana, Buku Pintar Politikus Dunia, Jakarta : Pustaka Delapratasa, 1997. Hlm.9
  18. Op.Cit. Hlm. 152.
  19. Op.Cit.
  20. Op.Cit. Hlm.156.
  21. Gonzales, Michael, Invasi Teluk Babi : Simbol Kemenangan Castro terhadap Amerika Serikat, Yogyakarta : 2007.Hlm.123.
  22. Archer, Jules, Kisah para Diktator : Biografi Politik para Penguasa Fasis, Komunis, Despotis, dan Tiran, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm.158.
  23. Sihombing dan K. Dwiyana, Buku Pintar Politikus Dunia, Jakarta : Pustaka Delapratasa, 1997. Hlm.17.
  24. Soyomukti, Nurani, Revolusi Sandinista : Perjuangan Tanpa Akhir Melawan Neo- Liberalisme , Yogyakarta : Garasi, 2008. Hlm. 147.
  25. Ruz, Fidel Castro, Agus Saputra (Penj.), The Killing Machine : Fidel Castro Menentang Amerika (Refleksi 2007), Jakarta : Visimedia, 2007. Hlm. 40-41.
  26. Syamdani, Kisah Diktator-diktator Psikopat : Kontroversi Kehidupan Pribadi dan Kebengisan para Diktator, Yogyakarta : Narasi, 2009. Hlm.103.

 

 

Bagikan Ke

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk berbagi pada Twitter(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru)
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru)
ADVERTISEMENT
Previous Post

Tim Prabowo – Sandi Minta KPU Sumsel Jelaskan Penyebab Kurangnya Surat Suara Capres

Next Post

Mendesak, Prabowo Lebih Cepat Deklarasikan Kemenangan

Please login to join discussion
LEDAKAN terjadi pada hari Senin sesaat sebelum pukul 17.00 waktu setempat, menurut laporan CCTV dan Xinhua. (foto fornews.co/cnsphoto/reuters)
Internasional

Insiden Mematikan di Hunan, Pabrik Kembang Api di Changsha Tewaskan 26 Orang

Selasa, 5 Mei 2026

CHINA, fornews.co -- Ledakan besar mengguncang fasilitas pabrik kembang api di wilayah tengah China pada Senin sore, sesaat sebelum pukul...

Read more
ILUSTRASI. (grafis fornews.co)

Meski Tanda Kemarau Mulai Terlihat, Sejumlah Wilayah di Indonesia masih Berpotensi Hujan

Selasa, 5 Mei 2026
DIREKTUR Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Inge Diana Rismawanti. (foto fornews.co/ikpi)

Regulasi Baru Restitusi Pajak terhadap Percepatan Layanan dan Akurasi Data

Selasa, 5 Mei 2026
MENTERI Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, memberikan keterangan kepada awak media usai pertemuannya dengan Presiden di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 4 Mei, (foto fornews.co/setpres bpmi)

Presiden Prabowo Tekankan Peran Kampus sebagai Mitra Strategis Pemda

Selasa, 5 Mei 2026
Korban SA dan kuasa hukumnya dari SHS Law Firm, Dr (c) Sofhuan Yusfiansyah, SH, MH, saat memberi keterangan kepada awak media, Senin (20/4/2026). (fornews.co/foto: ist)

Oknum Polri Dipropamkan Pengusaha Perempuan Palembang, Imbas Jadi Korban Pembunuhan Karakter di Medsos

Senin, 4 Mei 2026
No Result
View All Result
  • Metro Sumsel
    • Metropolis
  • Nasional
    • Internasional
  • Ekobis
  • Politik
  • Sport
    • Sepak Bola
    • Sriwijaya FC
    • Ragam Sport
  • COVID-19
  • FornewsTv
  • Lain-lain
    • Hukum
    • Peristiwa
    • Opini
    • Pariwisata
    • Gaya Hidup
      • Budaya
      • Teknologi
    • Advertorial
      • Profil
      • Galeri
    • Berita Foto
  • Login

© 2019 FORNEWS.co | PT.SENTRAL INFORMASI BERDAYA.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In