PALEMBANG, fornews.co-Tim sepakbola kontingen Muba harus mengakui keunggulan tim Pagaralam, setelah takluk 0-2 pada final cabang olahraga (cabor) sepakbola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumsel, di Lapangan Atletik, Jakabaring Sport City (JSC), Minggu (26/11) sore.
Kegagalan Laskar Mati Dem Asal Top merebut emas pada cabor bergengsi ini, berawal dari dikartu merahnya sang kapten Toha Nasrudin dimenit 72, yang melakukan pelanggaran keras terhadap pemain depan Pagaralam. Dari pelanggaran tersebut, Jhon Lennon yang menjadi pengeksekusi tendangan bebas, mampu mengkonversikannya menjadi gol.
Muba juga bukan tanpa perlawanan, satu peluang besar nyari berbuah gol. sayangnya shooting keras dari luar kotak pemain depan Muba, masih membentur tiang gawan dan bola rebound tak bisa dimaksimalkan pemain lain. Jelang peluait panjang, justru Pagaralam menambah satu gol lagi lewat tendangan Prihandoko.
Usai pertandingan, Ketua Askab PSSI Muba, H Rusli SP. MM mengatakan, memang target untuk cabor sepakbola Porprov XI Sumsel ini adalah juara. Tapi apa hendak dikata, hasil akhir berkata lain. “Semua pemain sudah memberikan yang terbaik. Pagaralam juga bermain bagus dan mereka layak juara,” ujarnya dengan penuh sportifitas.

Asisten I Pemkab Muba itu melanjutkan, kalau melihat persiapan tim, sebenarnya anak-anak ini rata-rata merupakan pemain Persimuba. Tapi untuk latihan bersama yang lebih intrensif sejak sebulan jelang porprov. “Kalau melihat dari babak penyisihan memang Pagaralam layak lawan di final. Harapan kita, pemain pemain dari Muba ini bisa menjadi wakil Sumsel pada PON 2020,” tukasnya.
Sementara, Pelatih Pagar Alam, Fauzi Toldo tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Karena semua tim bisa menerapkan segala strategi dengan baik pada final kali ini. “Ya karena memang dari awal target kita ingin memecahkan sejarah. Karena 15 tahun selalu gagal raih gelar Porprov. Jadi Alhamdulilah dahaga itu terpecahkan tahun ini,” ujarnya.
Mantan Penjaga Gawang Sriwijaya FC (SFC) itu melanjutkan, kunci kemenangan Pagaralan adalah semua pemain bisa sabar. Bermain taktis, dan tidak terpancing dengan permainan lawan. Padahal, pihaknya hanya melakukan persiapan tak lebih dari satu bulan. “Tapi dengan segala keterbatasan, seluruh pemain tetap menjalankan permainan dengan maksimal. Kemenangan ini karena kerja keras tim. Itu yg utama,” tandasnya.(tul)

















